Tampilkan postingan dengan label sumsel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumsel. Tampilkan semua postingan

PENGORBANAN PUTRI KEMARAU

Putri Jelitani adalah seorang putri raja di sebuah kerajaan di daerah Sumatra Selatan. Suatu ketika, negeri sang Putri dilanda kemarau yang amat panjang. Keadaan yang sulit itu baru akan pulih jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan mencebur ke laut. Oleh karena tak seorang pun yang mau berkorban, maka dengan ikhlas sang Putri rela melakukannya demi keselamatan rakyatnya dari bahaya kelaparan. Bagaimana nasib Putri Kemarau selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Pengorbanan Putri Kemarau berikut ini!
* * *
Dahulu, di Sumatra Selatan ada seorang putri raja bernama Putri Jelitani. Namun, ia akrab dipanggil Putri Kemarau karena dilahirkan pada musim kemarau. Ia merupakan putri semata wayang sang Raja. Ibunda sang Putri baru saja wafat. Sebagai putri tunggal, ia pun amat disayangi oleh ayahnya. Sementara itu, ayahnya adalah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Negeri dan rakyatnya pun hidup makmur dan tenteram.
Suatu ketika, negeri itu dilanda kemarau yang sangat panjang. Sungai-sungai kekeringan dan air danau pun menjadi surut. Padang rumput sudah hangus terbakar terik matahari. Ternak-ternak warga banyak yang mati. Tanah menjadi kering dan pecah-pecah sehingga hasil panen pun gagal. Warga banyak yang terserang penyakit dan dilanda kelaparan. Melihat keadaan tersebut, sang Raja yang arif dan bijaksana itu pun segera bertindak. Ia segera mencari peramal untuk mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut. Sudah banyak peramal yang ditemui, namun belum seorang pun yang mampu memberinya jalan keluar.
Suatu hari, sang Raja mendengar kabar bahwa di suatu desa yang terpencil ada seorang peramal yang terkenal sakti. Ia pun mendatangi peramal itu.
“Wahai, tukang ramal. Negeriku sedang dalam kesulitan. Tolong katakan bagaimana caranya mengatasi masalah ini,” pinta sang Raja.
 “Baginda, petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan akan melalui mimpi putri Baginda,” jawab peramal itu.
“Baiklah, kalau begitu. Hal ini akan kutanyakan langsung kepada putriku,” kata sang Raja yang segera kembali ke istana.
Setiba di istana, sang Raja mendapati putrinya sedang duduk termenung seorang diri di taman.
“Ayahanda baru saja menemui seorang juru ramal yang sakti,” kata sang Raja kepada putrinya.
Mendengar itu, Putri Kemarau sontak menatap wajah ayahandanya.
“Apa kata juru ramal itu Ayahanda?” tanya Putri Kemarau.
“Menurut juru ramal itu bahwa petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan ini akan datang melalui mimpi Andanda. Apakah Ananda sudah bermimpi tentang hal itu?” sang Raja balik bertanya.
“Belum, Ayahanda,” jawab Putri Kemarau, “Tapi, alangkah baiknya jika semua masalah ini kita serahkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” lanjut sang Putri.
Alangkah terkejutnya sang Raja mendengar perkataan putrinya. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putri kesayangannya itu memiliki pemikiran yang cerdas. Ia pun menyadari kekeliruannya selama ini.
“Benar juga katamu, Putriku. Perkataanmu itu membuat Ayanda sadar. Maafkan Ayah, Putriku!” ucap raja yang bijaksana itu.
Putri Kemarau kemudian menyarankan kepada Ayandanya agar seluruh rakyat negeri itu melakukan upacara berdoa bersama kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Maka, berkat doa bersama tersebut, Putri Kemarau pun mendapat petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, sang Putri didatangi oleh ibundanya.
“Wahai, Putriku. Kesulitan yang dialami negeri akan berubah jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan menceburkan diri ke laut,” ujar ibu Putri Kemarau.
Begitu terjaga, sang Putri pun menceritakan perihal mimpi itu kepada ayahandanya. Ternyata, sang Raja pun telah bermimpi mendapat bisikan gaib yang menyampaikan pesan yang sama. Maka, pada esok harinya, sang Raja segera mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk menyampaikan pesan itu.
“Wahai, seluruh rakyatku. Ketahuilah bahwa negeri ini akan kembali makmur jika ada seorang gadis yang dengan ikhlas mengorbankan dirinya mencebur ke dalam laut. Siapakah di antara kalian yang ingin melakukannya demi kebaikan kita semua?” tanya sang Raja di depan rakyatnya.
Tapi, tak seorang pun gadis yang berani mengajukan diri. Di tengah keheningan, tiba-tiba Putri Kemarau yang duduk di samping ayahandanya bangkit dari tempat duduknya lalu berkata.
“Ananda rela mengorbankan jiwa hamba dengan ikhlas demi kemakmuran rakyat negeri ini,” kata Putri Kemarau dengan suara lantang.
Seketika seluruh yang hadir tersentak kaget, terutama sang Raja. Ia tidak ingin anak semata wayangnya itu yang menjadi korbannya.
“Jangan, Putriku. Engkaulah satu-satunya milik Ayahanda. Engkaulah yang akan meneruskan tahta kerajaan ini. Jangan lakukan itu, Putriku!” cegah sang Raja.
Namun, Putri Kemarau tetap pada pendiriannya. Keinginan sang Putri sudah tidak dapat dibendung lagi.
“Lebih baik Ananda saja yang menjadi korban daripada seluruh rakyat negeri ini,” tegas sang Putri, “Barangkali ini sudah menjadi takdir Ananda.”
Sang Raja pun tak kuasa menahan keinginan putrinya. Maka, pada malam harinya, sang Putri dengan diantar oleh ayahanda dan seluruh rakyat pergi ke ujung tebing laut. Sebelum terjun ke laut, ia berpesan kepada ayahanda dan rakyatnya.
“Ikhlaskan kepergian Ananda, maafkan semua kesalahan Ananda,” pinta sang Putri.
Sang Raja tak kuasa menahan rasa haru. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Namun, apa hendak dibuat, tak seorang pun yang sanggup menahan keinginan putrinya. Putri Kemarau pun terjun ke laut. Bersamaan dengan terceburnya tubuh sang Putri ke dalam air laut, langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan hujan pun turun dengan lebatnya. Dalam waktu singkat, seluruh wilayah negeri itu pun digenangi air. Tentu saja hal itu menjadi pertanda bahwa tumbuh-tumbuhan akan kembali menghijau dan tanah menjadi subur.
Seluruh rakyat negeri itu dirundung rasa suka cita, terutama sang Raja. Di satu sisi, negerinya akan kembali makmur, namu di sisi lain ia telah kehilangan putri yang amat disayanginya. Demikian pula yang dirasakan oleh seluruh rakyatnya.
Hujan semakin deras. Sang Raja dan rakyatnya pun segera meninggalkan tebing laut itu. Setiba di istana, raja itu langsung tertidur karena kelelahan. Betapa terkejutnya ia karena tiba-tiba mendengar suara bisikan yang menyuruhnya kembali ke tebing laut.
“Segeralah kembali ke tebing laut. Temuilah putrimu di sana!” demikian pesan suara itu.
Begitu terbangun, sang Raja bersama rakyatnya pun bergegas kembali ke tebing itu. Sesampainya di sana, mereka mendapati Putri Kemarau berdiri di atas sebuah karang di tengah laut dengan membawa penerangan dan harapan baru. Rupanya, sang Putri diselamatkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa karena keikhlasannya berkorban demi kepentingan orang banyak. Namun ajaibnya, semula tidak ada batu karang di tengah laut itu.
“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah menyelamatkan putriku,” ucap sang Raja.
Usai berucap syukur, raja itu segera memerintahkan pengawalnya untuk menjemput sang Putri dan membawanya kembali ke istana. Beberapa tahun kemudian, sang Raja akhirnya menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya. Sejak itulah, Putri Kemarau menjadi ratu di negeri tersebut. Ia memerintah dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup makmur dan sejahtera.
* * *
Demikian cerita Pengorbanan Putri Kemarau dari daerah Sumatra Selatan. Pelajaran yang diambil dari cerita di atas adalah bahwa orang yang ikhlas berkorban demi kepentingan orang banyak akan selalu dalam lindungan Tuhan Yang Mahakuasa.

RAJA ALIT

Raden Alit adalah putra seorang raja dari daerah Tanjung Kemuning, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan. Suatu ketika, kakak perempuannya yang bernama Dayang Bulan diculik oleh Malim Hitam, putra Ratu Ageng dari Negeri Salek Alam. Mengapa Malim Hitam menculik Dayang Bulan? Lalu, berhasilkah Raden Alit menyelamatkan Dayang Bulan? Berikut kisahnya dalam cerita Raden Alit.
* * *
Alkisah, di Negeri Tanjung Kemuning, Sumatera Selatan, tersebutlah seorang raja bernama Ratu Ageng yang menikah dengan seorang Dewa Kahyangan. Mereka tinggal di langit dan telah dikaruniai dua orang putra, yaitu Raden Kuning dan Raden Alit, serta seorang putri bernama Dayang Bulan. Ketiga anak raja tersebut saling menyayangi satu sama lain. Raden Kuning dan Raden Alit adalah orang yang sakti mandraguna. Sejak kecil hingga dewasa, mereka berguru berbagai macam ilmu kesaktian kepada Nenek Dewi Langit.
Setelah hampir dua puluh tahun menjalani kehidupan di Langit, Ratu Ageng merasa rindu ingin kembali ke Bumi. Oleh karena itu, ia bermaksud mengajak seluruh keluarganya pindah ke Bumi.
“Wahai, permaisuri dan anak-anakku! Entah kenapa, tiba-tiba Ayah merasa rindu pada tanah kelahiran Ayah. Ayah ingin sekali kembali ke bumi dan hidup di sana. Apakah kalian merasa keberatan jika Ayah mengajak kalian turut serta ke Bumi?” tanya Ratu Ageng.
ldquo;Tentu tidak, Ayah! Aku akan ikut bersama Ayah ke Bumi. Bukankah kami semua anak-anak Ayah belum pernah melihat tempat kelahiran Ayah?” kata Raden Alit.
“Benar, Ayah! Kami juga ikut!” sahut Raden Kuning dan Dayang Bulan serentak.
Ratu Ageng tersenyum gembira mendengar jawaban putra-putrinya. Ia sangat memahami perasaan mereka karena ketiga anaknya tersebut dilahirkan di Langit sehingga sejak kecil mereka tidak mengetahui tentang kehidupan di bumi.
“Baiklah kalau begitu! Besok pagi-pagi sekali kita berangkat ke Bumi,” ujar Ratu Agung.
Keesokan harinya, berangkatlah Ratu Ageng bersama keluarga serta sejumlah pengawalnya ke Bumi. Di Bumi, mereka membangun sebuah istana yang tidak begitu megah sebagai tempat tinggal mereka. Ratu Ageng beserta keluarga dan para pengikutnya hidup layaknya manusia bumi pada umumnya.
Selang beberapa tahun tinggal di Bumi, malapetaka menimpa keluarga Ratu Ageng. Putrinya Dayang Bulan meninggal dunia lantaran digigit ular lidi. Kematian putrinya itu membawa duka yang dalam bagi Ratu Ageng dan permaisurinya. Namun, Raden Kuning dan Raden Alit tidak dapat menerima kematian saudara perempuan mereka itu. Mereka yakin bahwa Dayang Bulan belum saatnya meninggal. Oleh karena itu, keduanya memohon izin kepada sang ayahanda untuk pergi mencari Dayang Bulan.
“Ampun, Ayah! Kami yakin Dayang Bulan belum meninggal, Ayah! Izinkanlah Ananda dan Raden Kuning untuk pergi mencarinya!” pinta Raden Alit.
“Wahai, Anakku! Bukankah kalian menyaksikan sendiri bahwa Dayang Bulan telah meninggal dan dimakamkan di kebun bunga?” ujar Ratu Ageng.
“Benar, Ayah! Tapi kami yakin bahwa yang dimakankan pada saat itu hanya bayangannya saja. Wujud aslinya telah diculik oleh seseorang yang sakti mandraguna,” sahut Raden Kuning.
Pada mulanya, Ratu Ageng tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh kedua putranya itu. Namun, karena Raden Kuning dan Raden Alit terus mendesaknya, akhirnya Ratu Ageng mengizinkan mereka untuk mencari Dayang Bulan.
Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya, berangkatlah Raden Kuning dan Raden Alit mencari Dayang Bulan. Mereka berjalan selama berbulan-bulan tanpa tentu arah. Begitu mereka tiba di sebuah pantai, terlihatlah sebuah rejung, yaitu kapal besar dan megah, yang sedang berlabuh. Seketika itu pula mereka langsung melompat ke atas rejung itu karena mengira Dayang Bulan berada di dalamnya. Namun, setelah memeriksa seluruh ruangan di kapal itu mereka hanya menemukan dua orang laki-laki sedang tidur di dalam sebuah kamar. Raden Kuning pun membangunkan kedua orang itu seraya bertanya kepada mereka.
“Wahai sahabat, siapakah kalian ini! Mengapa rejung kalian berhenti di pantai ini?”
“Maaf, sahabat! Kami tertidur karena kelelahan setelah cukup lama dalam perjalanan mencari saudara perempuan kami yang bernama Dayang Ayu,” jawab salah seorang pemilik kapal yang bernama si Ulung Tanggal.
“Kalau kami boleh tahu, bagaimana saudara perempuan kalian bisa hilang?” tanya Raden Alit.
“Begini, sahabat,” sahut adik si pemilik kapal yang bernama Serincung Dabung. “Saudara perempuan kami telah meninggal karena digigit ular lidi. Namun, kami yakin bahwa dia sebenarnya tidak meninggal. Ia diculik oleh putra raja Negeri Salek Alam yang bernama Malim Putih.”

SEMESAT DAN SEMESIT

Semesat dan Semesit adalah dua orang putra raja yang memiliki kegemaran bermain bola. Suatu ketika, mereka difitnah oleh ibu tiri mereka sehingga diusir dari istana. Mereka pun berkelana menyusuri hutan belantara tanpa arah dan tujuan. Bagaimana nasib kedua putra raja tersebut? Berikut kisahnya dalam cerita Semesat dan Semesit.
* * *
Alkisah, di daerah Sumatra Selatan tersebutlah seorang raja yang sudah beberapa tahun menduda. Permaisurinya meninggal tidak lama setelah melahirkan kedua putra mereka yang kembar. Kini, kedua putranya yang diberi nama Semesat dan Semesit tersebut telah beranjak remaja. Setiap hari kedua putra raja itu kerjanya hanya bermain bola. Saking gemarnya bermain bola, mereka terkadang lupa makan dan tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Sang Raja sangat sedih melihat perilaku kedua putra kesayangannya itu. Ia ingin sekali mendidik mereka, namun ia tidak mempunyai waktu karena sibuk mengurus tugas-tugas kerajaan. Oleh karena itu, ia menikah lagi dengan harapan ada orang yang bisa merawat dan mendidik kedua putranya.
Namun, harapan sang Raja hanya tinggal harapan. Permaisurinya yang baru itu bersedia menikah dengan dirinya karena hanya menginginkan harta dan kedudukan. Ia tidak senang terhadap Semesat dan Semesit yang kerjanya hanya bermain bola. Akan tetapi, sikap ketidaksenangannya terhadap kedua anak tirinya itu tidak diperlihatkan kepada sang Raja.
Suatu pagi, sang Raja akan mengadakan rapat di Balai Panjang. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada permaisurinya, “Wahai, permasuriku! Tolong siapkan jamuan makan siang untuk para peserta rapat!”
“Baiklah Kanda, Dinda akan menyiapkan makan siang secukupnya!” jawab permaisuri Raja.
Setelah sang Raja berangkat, permaisuri bukannya menyiapkan jamuan makan siang, melainkan mengambil cabe merah lalu mengoleskannya pada wajahnya. Dalam sekejap, seluruh wajahnya menjadi bengkak dan memerah. Begitu hari menjelang siang, rombongan peserta rapat pun datang hendak makan siang. Alangkah kecewa dan malunya sang Raja karena tak sedikit pun hidangan makan siang yang tersedia. Sang Raja pun menjadi murka dan marah kepada permaisurinya.
“Dinda, apakah Dinda tidak mendengar pesan Kanda tadi pagi? Kenapa Dinda tidak menyediakan hidangan makan siang?” tanya sang Raja dengan wajah merah.
“Ampun, Kanda! Kanda jangan marah dulu. Coba lihatlah wajah Dinda ini!” jawab permaisurinya sambil menunjukkan wajahnya kepada sang Raja.
“Hai, apa terjadi dengan wajahmu? Kenapa bisa bengkak dan merah seperti itu?” tanya sang Raja dengan heran.
“Ampun, Kanda! Semua ini terjadi akibat dari ulah Semesat dan Semesit,” jawab permaisuri dengan nada mengadu.
“Apa yang mereka lakukan terhadap Dinda?” tanya sang Raja penasaran.
“Begini, Kanda! Ketika mereka sedang asyik bermain bola, tiba-tiba bola mereka melesat dengan kencang dan mengenai wajah Dinda,” ungkap permaisuri.
“Sekarang Kanda boleh menentukan pilihan, mau memilih Dinda atau kedua putra Kanda. Jika Kanda masih sayang kepada Dinda, maka buanglah mereka ke tengah hutan. Sebaliknya, jika Kanda masih menyayangi mereka, Dinda pun siap untuk dibuang,” hasut permaisuri.
Rupanya, sang raja termakan oleh hasutan itu sehingga ia percaya begitu saja pada ucapan permaisurinya tanpa terlebih dahulu mencari tahu kenyataan yang sebenarnya.
“Baiklah, Kanda lebih memilih Dinda. Semesat dan Semesit harus diberi pelajaran. Mereka harus kita asingkan ke tengah hutan,” tegas sang Raja.
Keesokan harinya, Semesat dan Semesit pun diasingkan ke hutan. Betapa senangnya hati permaisuri terhadap keputusan yang diambil sang Raja. Dalam hatinya ia berkata bahwa tidak ada lagi orang yang akan menghalanginya untuk menguasai seluruh harta kerajaan karena kedua pewarisnya telah pergi.
Sementara itu, Semesat dan Semesit terus berkelana keluar masuk hutan. Mereka berjalan tanpa arah dan tujuan dengan menyeberangi sungai, menaiki dan menuruni lembah-lembah. Suatu hari, sampailah mereka di sebuah hutan yang di dalamnya terdapat berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur dan burung-burung yang berkicauan. Kedua putra raja yang malang itu memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon besar dan rindang. Mereka duduk seraya menyandarkan tubuh pada batang pohon itu. Semesit pun langsung tertidur lelap karena kelelahan setelah berhari-hari menempuh perjalanan jauh. Sementara Semesat masih tetap terjaga. Walaupun badannya terasa lelah, ia sulit untuk memejamkan matanya karena memikirkan nasib mereka.
“Sungguh malang nasib kami ini. Kenapa ayahanda lebih percaya kepada permaisurinya dari pada putranya? Oh Tuhan, berilah kami petunjuk-Mu!” keluh Semesat dalam hati.
Selang beberapa waktu setelah Semesat berucap begitu, tiba-tiba seekor burung datang bertengger di atas pohon tempat mereka berteduh. Ajaibnya, burung itu dapat berbicara seperti manusia dan berpesan kepada Semesat.
“Siapa yang memakan dagingku ini, maka dia akan menjadi kaya mendadak,” ucap burung itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Semesat langsung mengambil batu lalu melempar burung itu hingga terjatuh dari atas pohon. Ketika ia akan mengambil burung itu, tiba-tiba datang lagi seekor burung bertengger di atas pohon itu dan berpesan kepada Semesat.
“Barang siapa yang memakan dagingku, entaklah lemak nanggung kuda (menderita dulu baru kemudian mendapat bahagia),” ucap burung itu.
Semesat pun kembali mengambil dan melempar burung itu hingga terjatuh dari atas pohon. Setelah mengambil kedua burung tersebut, ia segera membangunkan adiknya seraya menceritakan perihal kedua burung yang diperolehnya itu. Semesat kemudian menyerahkan salah satu dari burung itu kepada adiknya.
“Wahai, Adikku! Ambillah burung yang pertama ini agar Adik cepat menjadi orang kaya! Biarlah Abang memilih burung yang kedua ini. Tidak apa-apa Abang menderita dulu baru bahagia,” ujar Semesat.
Setelah memamakan burung tersebut, mereka pun melanjutkan perjalanan. Mereka terus menyusuri hutan belantara hingga akhirnya tiba di sebuah negeri. Menurut cerita, raja di negeri itu baru saja wafat dan belum ada penggatinya dan penduduk negeri mengangkat Semesit menjadi raja. Sementara Semesat melanjutkan perjalanan hingga tiba di daerah paling ujung negeri adiknya. Di sanalah ia tinggal menetap dengan keadaan hidup miskin. Untuk bertahan hidup, ia memakan hasil-hasil hutan yang tersedia di sekitarnya.
Suatu hari, Semesat secara tidak sengaja mengambil buah dari hasil kebun penduduk di sekitarnya karena mengira pohon itu tidak ada pemilikinya. Akhirnya, ia pun dituduh sebagai pencuri dan dibawa oleh penduduk menghadap kepada Raja Semesit untuk diadili. Raja Semesit tidak mengetahui bahwa pemuda itu adalah kakaknya. Ia pun menghukumnya dengan cara menguburnya setengah badan di dalam sekam yang disebut Bujud Keling.
Beberapa hari kemudian, terdengarlah kabar tentang seorang putri yang cantik jelita di negeri seberang lautan hendak mengadakan sayembara mencari jodoh. Isi sayembara tersebut adalah barangsiapa yang dicium oleh kuda milik sang putri maka dialah yang berhak menikah dengan putri itu. Raja Semesit yang mendengar kabar itu segera memerintahkan pengawalnya agar menyiapkan kapal untuk berangkat ke negeri itu.
Pada saat hari menjelang siang, berangkatlah Raja Semesit bersama para pengawalnya dengan membawa berbagai perhiasan dan hasil bumi untuk dipersembahkan kepada sang putri. Begitu berada di tengah-tengah laut, kapal yang mereka tumpangi tiba-tiba kandas sehingga mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan.
“Hai, Pengawal! Apa yang terjadi dengan kapal ini?” tanya Raja Semesit bingung.
“Ampun, Baginda! Jika Baginda ingin tetap melanjutkan perjalanan, sebaiknya Baginda membawa Bujud Keling,” kata seorang pengawal.
Raja Semesit pun segera memerintahkan pengawalnya agar memutar haluan kapal kembali ke istana untuk mengambil Bujud Keling. Setelah memasukkan Bujud Keling ke dalam karung, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan akhirnya selamat sampai di negeri seberang. Di sana para raja dan pangeran dari berbagai negeri telah berkumpul untuk mengikuti sayembara. Sang Putri tampak sedang duduk di depan istana bersama keluarganya. Di halaman istana tampak pula kuda kesayangan sang putri sedang ditambatkan di bawah sebuah pohon.
Begitu gong dibunyikan sebagai pertanda acara sayembara dimulai, sang putri segera menunggangi kudanya. Kuda itu kemudian berjalan di antara para peserta untuk mencarikan jodoh yang cocok bagi tuannya. Kuda itu sudah hampir melewati seluruh peserta, namun belum satu pun yang diciumnya. Ketika akan melewati tempat duduk Raja Semesit, kuda itu tiba-tiba berhenti. Hati sang raja pun mulai berdebar kencang karena mengira dirinyalah yang akan dicium oleh kuda itu. Namun, apa yang diharapkannya itu tidak terjadi. Kuda sang putri justru mencium-cium karung yang berisi Bujud Keling yang ada di belakang kursinya. Melihat hal itu, sang putri pun segera memerintahkan salah seorang pengawal istana untuk membuka karung itu.
“Pengawal, bukalah karung ini! Jodohku ada di dalamnya,” seru sang putri.
Begitu karung itu terbuka, keluarlah seorang pemuda yang dipenuhi dengan sekam. Raja Semesit pun tersentak kaget karena tidak mengira jika karung itu berisi manusia. Rupanya, ketika pengawal Raja Semesit memasukkan Bujud Keling ke dalam karung, pemuda itu ikut masuk ke dalamnya. Dengan perasaan jengkel, Raja Semesit pun berkata kepada seluruh orang yang hadir di tempat itu bahwa dirinyalah yang dicium oleh kuda sang putri, bukan Bujud Keling itu. Ia tidak rela jika pemuda Bujud Keling itu yang menjadi suami sang putri.
“Aku tidak terima jika Tuan Putri menikah dengan pemuda Bujud Keling itu,” tegas Raja Semesit, “Pengawal, ayo kita tinggalkan tempat ini dan bawa pemuda itu kembali ke kapal!”
Akhinya, Raja Semesit pulang dengan perasaan kecewa. Di tengah perjalanan, tiba-tiba timbul niat jahatnya ingin mencelakai pemuda yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Ia memerintahkan pengawalnya agar membuang pemuda itu ke laut. Tak ayal lagi, pemuda Bujud Keling itu pun menjadi santapan ikan besar. Namun ajaibnya, justru ikan itu yang mati dan terdampar di sebuah pantai di negeri sang putri. Ikan itu kemudian ditemukan oleh seorang nelayan. Alangkah terkejutnya nelayan itu pada saat membelah ikan itu. Ia mendapati seorang pemuda yang tidak asing lagi baginya.
“Hai, Anak Muda! Bukankah engkau ini si pemuda Bujud Keling yang telah dicium oleh kuda sang putri?” tanya nelayan itu.
“Benar, Tuan! Nama saya Semesat, kakak kandung Raja Semesit,” ungkap Semesat.
“Syukurlah kalau begitu, Tuan. Mari hamba antar untuk menemui sang putri. Beliau telah menunggumu di taman bunga istana,” ujar nelayan itu.
Akhirnya, Semesat menikah dengan sang putri. Beberapa hari setelah menikah, Semesat membuka rahasianya kepada sang istri. Sang putri pun tersentak kaget dan hampir tidak percaya terhadap hal itu. Setelah itu, Semesat bersama istrinya pergi menemui Raja Semesit untuk membuka rahasia tersebut.
“Ketahuilah Adikku, pemuda Bujud Keling yang telah kamu buang ke laut beberapa waktu yang lalu adalah saya, dan saya ini adalah kakak kandungmu, Semesat,” ungkap Semesat.
Raja Semesit tersentak kaget mendengar keterangan kakaknya itu. Ia sangat menyesal karena tidak mengetahui akan hal itu. Dengan berderai air mata, Raja Semesit pun langsung merangkul kakaknya.
“Maafkan aku, Bang! Adik sangat menyesal karena telah memperlakukan Abang dengan kasar,” ucap Raja Semesit dalam pelukan sang abang.
“Sudahlah, Adikku! Ini sudah menjadi takdir. Abang memang harus menderita dulu baru merasakan kebahagiaan sebagaimana yang kurasakan saat ini,” kata Semesat dengan perasaan haru.
Menurut cerita, Raja Semesit mengundurkan diri dan mengangkat kakaknya sebagai raja. Raja Semesat dengan dibantu Semesit memerintah negeri itu dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup damai dan tenteram.
* * *
Demikian cerita Semesat dan Semesit dari daerah Sumatra Selatan, Indonesia. Pesan moral yang dapat diambil dari cerita di atas adalah bahwa orang yang teraniaya akan mendapat pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa, baik langsung maupun tidak langsung. Pesan moral lainnya adalah bahwa sesama saudara harus selalu saling menolong dan menghargai seperti Semesat dan Semesit. Ketika Semesat mendapatkan dua burung, ia lebih memilih burung yang pertama karena tidak ingin melihat adiknya menderita terlebih dahulu. Begitu pula Semesit, begitu mengetahui bahwa pemuda Bujud Keling itu adalah kakaknya, maka dia lebih memilih mengundurkan diri dan mengangkat kakaknya menjadi raja.

LEGENDA PULO KEMARO

Diceritakan kembali oleh Samsuni[1]
Legenda Pulo Kemaro adalah sebuah legenda yang mengisahkan asal mula terjadinya Pulau Kemaro di daerah Palembang, Sumatra Selatan, Indonesia. Menurut cerita, pulau tersebut merupakan penjelmaan Siti Fatimah putri Raja Sriwijaya yang menceburkan diri ke Sungai Musi hingga tewas. Peristiwa tewasnya putra Raja Sriwijaya tersebut disebabkan oleh tindakan ceroboh yang dilakukan oleh kekasihnya bernama Tan Bun Ann, putra Raja Negeri Cina. Kecerobohan apa yang telah dilakukan oleh Tan Bun Ann? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Pulo Kemaro berikut ini.
* * *
Alkisah, di daerah Sumatra Selatan, tersebutlah seorang raja yang bertahta di Kerajaan Sriwijaya. Raja tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Siti Fatimah. Selain cantik, ia juga berperangai baik. Sopan-santun dan tutur bahasanya yang lembut mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan perangainya mengundang decak kagum para pemuda di Negeri Palembang. Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena kedua orang tuanya menginginkan ia menikah dengan putra raja yang kaya raya.
Pada suatu hari, datanglah seorang putra raja dari Negeri Cina bernama Tan Bun Ann untuk berniaga di Negeri Palembang. Putra Raja Cina itu berniat untuk tinggal beberapa lama di negeri itu, karena ia ingin mengembangkan usahanya. Sebagai seorang pendatang, Tan Bun Ann datang menghadap kepada Raja Sriwijaya untuk memberitahukan maksud kedatangannya ke negeri itu.
“Ampun, Baginda! Nama hamba Tan Bun Ann, putra raja dari Negeri Cina. Jika diperkenankan, hamba bermaksud tinggal di negeri ini dalam waktu beberapa lama untuk berniaga,” kata Tan Bun Ann sambil memberi hormat.
“Baiklah, Anak Muda! Aku perkenankan kamu tinggal di negeri ini, tapi dengan syarat kamu harus menyerahkan sebagian untung yang kamu peroleh kepada kerajaan,” pinta Raja Sriwijaya.
Tan Bun Ann pun menyanggupi permintaan Raja Sriwijaya. Sejak itu, setiap minggu ia pergi ke istana untuk menyerahkan sebagian keuntungan dagangannya. Suatu ketika, ia bertemu dengan Siti Fatimah di istana. Sejak pertama kali melihat wajah Siti Fatimah, Tan Bun Ann langsung jatuh hati. Demikian sebaliknya, Siti Fatimah pun menaruh hati kepadanya. Akhirnya, mereka pun menjalin hubungan kasih. Karena merasa cocok dengan Siti Fatimah, Tan Bun Ann pun berniat untuk menikahinya.
Pada suatu hari, Tan Bun Ann pergi menghadap Raja Sriwijaya untuk melamar Siti Fatimah.
“Ampun, Baginda! Hamba datang menghadap kepada Baginda untuk meminta restu. Jika diperkenankan, hamba ingin menikahi putri Baginda, Siti Fatimah,” ungkap Tan Bun Ann.
Raja Sriwijaya terdiam sejenak. Ia berpikir bahwa Tan Bun Ann adalah seorang putra Raja Cina yang kaya raya.
“Baiklah, Tan Bun! Aku merestuimu menikah dengan putriku dengan satu syarat,” kata Raja Sriwijaya.
“Apakah syarat itu, Baginda?” tanya Tan Bun Ann penasaran.
“Kamu harus menyediakan sembilan guci berisi emas,” jawab Raja Sriwijaya.
Tanpa berpikir panjang, Tan Bun Ann pun bersedia memenuhi syarat itu.
“Baiklah, Baginda! Hamba akan memenuhi syarat itu,” kata Tan Bun Ann.
Tan Bun Ann pun segera mengirim utusan ke Negeri Cina untuk menyampaikan surat kepada kedua orang tuanya. Selang beberapa waktu, utusan itu kembali membawa surat balasan kepada Tan Bun Ann. Surat balasan dari kedua orang tuanya itu berisi restu atas pernikahan mereka dan sekaligus permintaan maaf, karena tidak bisa menghadiri pesta pernikahan mereka. Namun, sebagai tanda kasih sayang kepadanya, kedua orang tuanya mengirim sembilan guci berisi emas. Demi keamanan dan keselamatan guci-guci yang berisi emas tersebut dari bajak laut, mereka melapisinya dengan sayur sawi tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann.
Saat mengetahui rombongan utusannya telah kembali, Tan Bun Ann dan Siti Fatimah bersama keluarganya serta seorang dayang setianya segera berangkat ke dermaga di Muara Sungai Musi untuk memeriksa isi kesembilan guci tersebut. Setibanya di dermaga, Tan Bun Ann segera memerintahkan kepada utusannya untuk menunjukkan guci-guci tersebut.
“Mana guci-guci yang berisi emas itu?” tanya Tan Bun Ann kepada salah seorang utusannya.
“Kami menyimpannya di dalam kamar kapal, Tuan!” jawab utusan itu seraya menuju ke kamar kapal tempat guci-guci tersebut disimpan.
Setelah utusan itu mengeluarkan kesembilan guci tersebut dari kamar kapal, Tan Bun Ann segera memeriksa isinya satu persatu. Betapa terkejutnya ia setelah melihat guci itu hanya berisi sayur sawi yang sudah membusuk.
“Oh, betapa malunya aku pada calon mertuaku. Tentu mereka akan merasa diremehkan dengan barang busuk dan berbau ini,” kata Tan Bun Ann dalam hati dengan perasaan kecewa seraya membuang guci itu ke Sungai Musi.
Dengan penuh harapan, Tan Bun Ann segera membuka guci yang lainnya. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Setelah membuka guci-guci tersebut ternyata semuanya berisi sayur sawi yang sudah membusuk. Bertambah kecewalah hati putra Raja Cina itu. Dengan perasaan kesal, ia segera melemparkan guci-guci tersebut ke Sungai Musi satu persatu tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Ketika ia hendak melemparkan guci yang terakhir ke sungai, tiba-tiba kakinya tersandung sehingga guci itu jatuh ke lantai kapal dan pecah. Betapa terkejutnya ia saat melihat emas-emas batangan terhambur keluar dari guci itu. Rupanya di bawah sawi-sawi yang telah membusuk tersebut tersimpan emas batangan. Ia bersama seorang pengawal setianya segera mencebur ke Sungai Musi hendak mengambil guci-guci yang berisi emas tersebut.
Melihat hal itu, Siti Fatimah segera berlari ke pinggir kapal hendak melihat keadaan calon suaminya. Dengan perasaan cemas, ia menunggu calon suaminya itu muncul di permukaan air sungai. Karena orang yang sangat dicintainya itu tidak juga muncul, akhirnya Siti Fatimah bersama dayangnya yang setia ikut mencebur ke sungai untuk mencari pangeran dari Negeri Cina itu. Sebelum mencebur ke sungai, ia berpesan kepada orang yang ada di atas kapal itu.
“Jika ada tumpukan tanah di tepian sungai ini, berarti itu kuburan saya,” demikian pesan Siti Fatimah.
Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, muncullah tumpukan tanah di tepi Sungai Musi. Lama kelamaan tumpukan itu menjadi sebuah pulau. Masyarakat setempat menyebutnya Pulo Kemaro. Pulo Kemaro dalam bahasa Indonesia berarti Pulau Kemarau. Dinamakan demikian, karena pulau tersebut tidak pernah digenangi air walaupun volume air di Sungai Musi sedang meningkat.
* * *
Demikianlah Legenda Pulo Kemaro dari daerah Palembang, Sumatra Selatan. Pulau Kemaro yang terletak sekitar lima kilo meter di sebelah timur Kota Palembang ini memiliki luas kurang lebih 24 hektar. Kini, Pulau Kemaro menjadi salah satu obyek wisata menarik, khususnya wisata budaya dan religius, di Palembang. Setiap perayaan Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek) ribuan masyarakat Cina (baik dari dalam maupun luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Cina) datang berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melakukan sembahyang atau berziarah. Di pulau itu terdapat sebuah kuil sebagai tempat peribadatan, dan di dalamnya terdapat gundukan tanah yang diyakini makam Siti Fatimah, dan dua gundukan tanah yang agak kecil yang diyakini makam pengawal Tan Bun Ann dan makam dayang Siti Fatimah.
***
Di Pulau Kemaro juga terdapat sebuah pohon langka yang disebut “Pohon Cinta”, yang dilambangkan sebagai ritus “cinta sejati” antara dua bangsa dan budaya berbeda pada zaman dahulu, yaitu antara Siti Fatimah dari Negeri Palembang dan Tan Bun Ann dari Negeri Cina. Konon, jika pasangan muda-mudi yang sedang menjalin hubungan kasih mengukir nama mereka di pohon itu, maka cinta mereka akan berlanjut sampai ke pelaminan. Itulah sebabnya, pulau ini disebut juga “Pulau Jodoh”.
Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa sikap ketergesa-gesaan dapat membuat seseorang kurang teliti dalam melakukan sesuatu, sehingga pekerjaan atau masalah yang dihadapinya tidak mampu diselesaikannya. Hal ini ditunjukkan oleh sikap Tan Bun Ann yang karena tidak ketidaksabarannya ingin menunjukkan emas tersebut kepada Raja Sriwijaya, sehingga membuatnya kurang teliti ketika memeriksa guci-guci tersebut. Akibatnya, guci-guci yang berisi emas batangan tersebut dibuangnya ke sungai, yang pada akhirnya menyebabkan ia tenggelam dan tewas. 

BEGINDE LUBUK GONG

Beginde Lubuk Gong adalah seorang Kepala Desa di daerah Sumatra Selatan, Indonesia. Beginde dalam bahasa setempat berarti kepala desa. Beginde Lubuk Gong mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Lubuk Gong. Suatu ketika, putrinya dibunuh oleh seorang putra Beginde dari desa lain. Mengapa putri Beginde Lubuk Gong dibunuh? Ikuti kisahnya dalam cerita Beginde Lubuk Gong berikut ini!
* * *
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Sumatra Utara, ada seorang beginde (kepala desa) yang kaya raya bernama Beginde Lubuk Gong. Ia sangat ketat menjalankan adat dan tidak segan-segan memberi hukuman kepada warganya yang melanggar adat tersebut. Meski demikian, rakyatnya merasa tidak terbebani dengan hal itu. Justru dengan aturan adat itu, rakyatnya dapat hidup aman dan makmur.
Beginde Lubuk Gong mempunyai anak gadis yang cantik dan cerdas bernama Putri Lubuk Gong. Kecantikan dan keelokan perangainya senantiasa mengundang decak kagum setiap pemuda yang melihatnya. Tak heran banyak pemuda dari desa-desa lain datang melamarnya. Namun, Beginde Lubuk Gong selalu menolak setiap lamaran yang datang, karena belum satu pun pelamar yang mampu memenuhi persyaratan yang diajukannya.
Pada suatu hari, datanglah utusan putra seorang Beginde dari sebuah desa hendak melamar Putri Lubuk Gong. Lamaran itu mereka sampaikan langsung kepada Beginde Lubuk Gong.
“Maaf, Tuan! Maksud kedatangan kami kemari adalah ingin menyampaikan lamaran putra Beginde kami,” ungkap juru bicara utusan itu.
“Ketahuilah, wahai utusan! Sudah banyak utusan yang datang kemari, tapi belum ada yang sanggup memenuhi persyaratanku,” kata Beginde Lubuk Gong.
“Kalau boleh kami tahu, apakah persyaratan Tuan itu?” tanya ketua utusan itu.
“Pakaian tujuh pasang, baju kain salinan 42 lusin, itik dan ayam sekandang penuh, merpati seraban, kayu bakar setinggi bukit, batang tujuh buah, dan serai kunyit seladang lebar,” jawab Beginde Lubuk Gong.
“Bagaimana? Apakah kalian sanggup memenuhi syarat tersebut?” Beginde Lubuk Gong balik bertanya kepada utusan itu.
“Sesuai dengan pesan Beginde kami, sebesar apapun permintaan yang Tuan ajukan, Beginde kami akan menyanggupinya,” jawab utusan itu.
“Baiklah kalau begitu, lamaran kalian aku terima,” kata Beginde Lubuk Gong.
“Terima kasih, Tuan! Berita gembira ini akan kami sampaikan kepada Beginde kami,” kata ketua utusan itu.
Setelah mendapat persetujuan dari Beginde Lubuk Gong, para utusan putra Beginde kembali ke desanya untuk menyampaikan berita gembira itu kepada Beginde mereka. Alangkah senang hati Beginde mendengar berita gembira itu. Ia pun memerintahkan kepada seluruh warganya untuk mengumpulkan barang-barang bawaan sesuai dengan permintaan Beginde Lubuk Gong. Sudah berminggu-minggu mereka bekerja keras, namun hingga pada hari yang telah ditentukan barang-barang bawaan yang mereka kumpulkan belum memenuhi permintaan Beginde Lubuk Gong.
Sementara itu di tempat lain, Beginde Lubuk Gong bersama keluarga dan warganya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan rombongan dari pihak pelamar yang akan mengantarkan barang-barang bawaan. Sudah seharian penuh mereka menunggu, namun belum ada tanda-tanda kedatangan rombongan tersebut. Pada hari-hari berikutnya, Beginde Lubuk Gong terus menunggu kedatangan rombongan tersebut, namun mereka tak kunjung datang.
Hari, pekan, dan bulan, bahkan tahun telah berlalu, rombongan dari pihak pelamar belum juga datang. Pada awal tahun ketiga barulah mereka datang dengan arak-arakan laki-laki dan perempuan yang memikul dan menjunjung barang bawaan. Beginde Lubuk Gong pun menyambut kedatangan mereka secara sederhana. Ia pun segera menerima dan memeriksa barang-barang bawaan dan ternyata semuanya lengkap dan sesuai dengan permintaannya. Hatinya pun sangat senang dan terpukau karena semua permintaannya terpenuhi. Namun satu hal yang membuat hatinya kecewa, karena keterlambatan para utusan mengantar barang-barang bawaan tersebut.
“Kalau boleh aku tahu, mengapa kalian terlambat mengantarkan barang-barang bawaan ini kemari, sehingga kami harus menunggu selama dua tahun?” tanya Beginde Lubuk Gong.
“Maafkan kami atas keterlambatan ini, Tuan! Untuk memenuhi seluruh permintaan Tuan, ternyata kami memerlukan waktu yang cukup lama. Sudilah Tuan memakluminya dan menerima barang-barang bawaan ini,” jawab ketua rombongan itu.
Mulanya Beginde Lubuk Gong ingin marah dan membatalkan pertunangan putrinya dengan Putra Beginde. Namun setelah mendengar penjelasan dari ketua rombongan tersebut, akhirnya ia memakluminya.
“Baiklah, barang-barang bawaan ini aku terima. Sekarang tinggal menuggu hari baik untuk melangsungkan pernikahan putriku dengan putra Beginde kalian. Pesta pernikahan ini akan dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam. Untuk itu, aku harus mempersiapkan segala keperluan pesta besar ini,” ungkap Beginde Lubuk Gong.
“Baiklah, Tuan! Kami akan menunggu kabar selanjutnya dari Tuan,” kata ketua rombongan itu seraya berpamitan dan meninggalkan rumah Beginde Lubuk Gong.   
Keesokan harinya, Beginde Lubuk mengumumkan kepada seluruh rakyatnya bahwa dia akan segera menikahkan putrinya. Rakyatnya pun sangat senang karena akan ada pesta besar selama tujuh hari tujuh malam. Mereka pun segera mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut pernikahaan Putri Beginde. Mereka mulai menghias jalan-jalan dan rumah Beginde Lubuk Gong.
Untuk memenuhi kebutuhan pesta besar itu, Beginde Lubuk Gong harus pergi ke negeri lain untuk berbelanja. Ia berangkat bersama para pembantunya dengan menggunakan rejung. Karena begitu banyak barang harus dibeli, sehingga sebulan lamanya Beginde Lubuk Gong belum juga kembali.
Putra Beginde, calon mempelai laki-laki, tidak sabar lagi menunggu hari pernikahannya. Pada suatu hari, ia mendengar desas-desus bahwa putri Beginde Lubuk Gong telah dipersunting oleh raja negeri yang didatangi oleh Beginde Lubuk Gong. Ia pun percaya begitu saja pada desas desus tersebut, tanpa terlebih dahulu menyelidiki kebenarannya.
 “Barangkali kabar ini ada benarnya. Sudah sebulan Beginde pergi ke negeri itu, tapi belum juga kembali. Padahal ia memiliki kesaktian yang tinggi, dalam waktu sekejap saja ia dapat berlayar ke negeri sejauh mana pun,” pikirnya.
Semakin hari desas-desus tersebut semakin memekakkan telinga Putra Beginde. Ia mendengar kabar bahwa utusan raja yang akan melamar Putri Lubuk Gong telah tiba di Dusun Kertajaya, tidak jauh dari desa tempat tinggal Putri Lubuk Gong. Hati Putra Beginde pun semakin kesal sehingga timbul niatnya untuk membunuh calon istrinya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menuju ke rumah Beginde Lubuk Gong dengan membawa sebuah pedang panjang.  
Sementara itu, Putri Lubuk Gong yang mengetahui kedatangan tunangannya merasa sangat gembira dan segera bersolek dengan hiasan yang menawan. Ia mengira bahwa kedatangan tunangannya itu untuk bersilaturrahmi. Alangkah terkejutnya ia ketika hendak menemuinya di ruang tamu rumahnya,  ia melihat calon suaminya itu sedang menggenggam sebuah pedang dengan wajah yang beringas. Tanpa diduganya, tiba-tiba sang Tunangan menebas lehernya. Putri Lubuk Gong pun tewas seketika. Ibu Putri Baginda yang melihat kejadian itu langsung menjerit dan bertanya kepada calon menantunya itu.
“Hai, kenapa kamu membunuh calon istrimu? Apa salahnya? Padahal ia sangat mengharap kedatanganmu,” kata ibu Putri Lubuk Gong.
“Tidak usah banyak dalih! Kalian telah memperdayaiku. Utusan raja yang akan melamar Putri Lubuk Gong telah tiba di Dusun Kertajaya. Beginde Lubuk Gong telah membuat janji untuk menikahkan Putri Lubuk Gong dengan raja itu!” seru Putra Beginde, calon suami Putri Lubuk Gong.
Ibu Putri Lubuk Gong berusaha menjelaskan kepada calon menantunya bahwa desas-desus tersebut hanyalah fitnah. Namun, calon menantunya tidak mau menerima alasan apapun. Ibu Putri Gong pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menangisi kematian putri semata wayangnya. Sementara Putra Beginde itu segera pergi meninggalkan rumah itu. Tak berapa lama kemudian, warga pun berdatangan ke rumah Beginde Lubuk karena mendengar ada suara tangis histeris. Mereka sangat terkejut ketika melihat Putri Lubuk Gong tergeletak bersimbah darah.
“Apa yang terjadi dengan Putri Lubuk Gong?” tanya seorang warga kepada ibu Putri Lubuk Gong.
Ibu Putri Lubuk Gong pun menceritakan semua kejadian yang menimpa putrinya. Setelah mendengar cerita itu, salah seorang warga segera menyampaikan berita duka itu kepada Beginde Lubuk Gong yang masih berada di negeri lain. Dengan kesaktiannya, Beginde Lubuk Gong memerintahkan angin berhembus, sehingga dalam sekejap rejungnya tiba di pelabuhan negerinya. Sesampainya di rumah, ia bersama warga segera mengebumikan putrinya. Setelah itu, ia memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap calon menantunya itu.
“Segera tangkap pembunuh itu dan bawa dia kemari hidup-hidup!” seru Beginde Lubuk Gong.
Mendengar perintah itu, para pengawal itu segera mencari Putra Beginde. Tak beberapa lama kemudian, mereka pun kembali membawa Putra Beginde dengan tangan terikat.
“Hai, Putra Beginde! Kamu telah membunuh putriku. Kamu harus mengganti nyawa putriku. Mulai detik ini, kamu tidak boleh lagi kembali ke rumahmu dan harus tinggal di sini sebagai ganti putriku!” seru Beginde Lubuk Gong.
Keesokan harinya, Beginde Lubuk Gong membuang segala barang persiapan pernikahan putrinya ke dalam sungai, termasuk barang-barang bawaan Putra Beginde.
* * *
Demikian cerita Beginde Lubuk Gong dari daerah Sumatra Selatan, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa akibat yang ditimbulkan dari sifat suka berprasangka buruk terhadap orang lain. Dalam kehidupan orang-orang Melayu, orang yang suka berprasangka buruk dapat menyebabkan seseorang bertindak ceroboh. Hal ini ditunjukkan oleh sikap Putra Beginde yang percaya begitu saja pada desas-desus yang didengarnya tanpa menyelidiki kebenarannya, sehingga ia pun membunuh Putri Lubuk Gong. Akibat kecerobohannya, ia pun gagal menikah dengan tunangannya dan mendapat hukuman dari ayah Putri Lubuk Gong. Terkait dengan keburukan sifat suka berprasanka buruk terhadap orang lain, dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
siapa suka berprasangka  buruk,
orang melaknat, hidup pun teruk
siapa suka berburuk sangka,
alamat hidup akan celaka

ASAL MULA NAMA PALEMBANG

Pada zaman dahulu, daerah Su­matra Selatan dan sebagian Pro­vinsi Jambi berupa hutan belan­tara yang unik dan indah. Puluhan su­ngai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Ba­ris­an, pegunungan sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wila­yah itu. Maka, wilayah itu dikenal dengan nama Ba­tanghari Sembilan. Sungai besar yang meng­alir di wilayah itu di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Su­ngai Rawas, dan beberapa su­ngai yang ber­­mu­ara di Sungai Musi. Ada dua Su­ngai Musi yang ber­muara di laut di da­er­ah yang ber­dekat­an, yaitu Sungai Musi yang me­­lalui Palembang dan Sungai Musi Ba­nyuasin agak di sebelah utara.
Karena banyak sungai besar, dataran ren­dah yang melingkar dari daerah Jambi, Su­ma­tra Selatan, sampai Provinsi Lam­­­pung merupakan daerah yang banyak mem­­­­pu­nyai da­nau kecil. Asal mula danau-danau kecil itu ada­lah rawa yang di­ge­nangi air laut saat pasang. Sedangkan kota Palem­bang yang dikenal sekarang me­­nu­rut se­­jarah adalah sebuah pulau di Su­ngai Me­layu. Pulau kecil itu berupa bu­kit yang di­­beri nama Bukit Seguntang Mahameru.
Keunikan tempat itu selain hutan rim­ba­­nya yang lebat dan banyaknya danau-danau kecil, dan aneka bunga yang tumbuh subur, sepanjang wilayah itu dihuni oleh seorang dewi bersama dayang-dayangnya. Dewi itu disebut Putri Kah­yangan. Sebenarnya, dia bernama Putri Ayu Sundari. Dewi dan dayang-dayang­­nya itu mendiami hutan rim­ba raya, lereng, dan puncak Bukit Baris­an serta ke­pulauan yang sekarang dikenal dengan Ma­laysia. Mereka gemar da­tang ke daerah Batanghari Sembilan untuk ber­cengke­rama dan mandi di danau, sungai yang jernih, atau pantai yang luas, landai, dan panjang.
Karena banyaknya sungai yang ber­­muara ke laut, maka pada zaman itu para pe­layar mudah masuk melalui sungai-sungai itu sampai ke dalam, bah­kan sampai ke kaki pe­gunung­an, yang ter­nyata dae­­rah itu su­bur dan makmur. Maka ter­jadi­­lah ko­muni­­ka­si antara para pe­dagang ter­masuk pedagang dari Cina de­ngan pen­­­duduk setempat. Daerah itu men­jadi ramai oleh per­da­gang­an antara pen­duduk setempat denga­n pe­dagang. Akibat­nya, dewi-dewi dari kah­yangan merasa ter­gang­gu dan men­cari tempat lain.
Sementara itu, orang-orang banyak datang di sekitar Sungai Musi untuk mem­buat rumah di sana. Karena Sumatra Sela­tan merupakan dataran rendah yang be­rawa, maka penduduknya membuat rumah yang disebut dengan rakit.
Saat itu Bukit Seguntang Mahameru menjadi pusat perhatian manusia karena tanahnya yang subur dan aneka bunga tubuh di daerah itu. Sungai Melayu tempat Bukit Seguntang Mahameru berada juga menjadi terkenal.
Oleh karena itu, orang yang telah ber­­­­mukim di Sungai Melayu, terutama pen­duduk kota Palembang, sekarang me­nama­kan diri sebagai penduduk Sungai Melayu, yang kemudian berubah menjadi pen­duduk Melayu.
Menurut bahasa Melayu tua, kata lembang berarti dataran rendah yang ba­nyak digenangi air, kadang tenggelam kadang kering. Jadi, penduduk dataran ting­gi yang hendak ke Palembang sering me­ngatakan akan ke Lembang. Begitu juga para pendatang yang masuk ke Sungai Musi mengatakan akan ke Lembang.
Alkisah ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya masih berada di Bukit Segun­tang Mahameru, ada sebuah kapal yang mengalami kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. Tiga orang kakak beradik itu ada­lah putra raja Iskandar Zulkarnain. Mere­ka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.
Mereka disambut Putri Ayu Sundari. Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sa­purba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya me­nikah dengan keluarga putri itu.
Karena Bukit Seguntang Mahameru ber­diam di Sungai Melayu, maka Sang Sa­purba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian ber­­­kem­bang dan ikut kegiatan di daerah Lem­bang. Nama Lembang semakin terke­nal. Kemudian ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Pa­lem­bang. Kata pa dalam bahasa Melayu tua menun­juk­kan daerah atau lokasi. Per­tum­buh­an ekonomi semakin ramai. Sungai Musi dan Su­­­­ngai Musi Banyuasin menjadi jalur per­dagangan kuat terkenal sampai ke negara lain. Nama Lembang pun berubah menjadi Palembang.

SI PAHIT LIDAH

Si Pahit Lidah adalah julukan untuk Serunting, seorang pangeran yang berasal dari Sumatra Selatan. Ia terkenal punya kesaktian yang tinggi, namun ternyata kesaktiannya bisa dikalahkan oleh adik iparnya, Aria Tebing. Keduanya bertikai memperebutkan cendawan emas yang tumbuh di perbatasan ladang mereka. Bagaimana cara Aria Tebing mengalahkan Serunting yang sakti itu? Lalu, mengapa Pangeran Serunting dijuluki Si Pahit Lidah? Simak kisahnya dalam cerita Si Pahit Lidah berikut ini!

* * *

Dahulu, di daerah Sumidang, Sumatra Selatan, ada seorang pangeran bernama Serunting. Ia adalah anak keturunan raksasa yang namanya Putri Tenggang. Suatu hari, Pangeran Serunting mempersunting seorang gadis desa bernama Sitti. Setelah menikah, ia mengajak istrinya untuk tinggal di istana. Namun, Sitti bingung. Di satu sisi, ia tidak ingin berpisah dengan adik laki-lakinya yang bernama Aria Tebing, tapi di sisi lain ia harus patuh pada suaminya. 
“Dinda tidak tahu harus berbuat apa lagi, Kanda. Dinda tidak tega jika harus meninggalkan Aria Tebing, adik Dinda satu-satunya,” kata Sitti kepada suaminya.
“Kalau begitu, bagaimana jika Aria Tebing kita ajak untuk tinggal bersama di istana?” usul Pangeran Serunting.
Sitti pun menerima saran tersebut. Namun, ketika hal itu disampaikan kepada Aria Tebing, adiknya itu justru menolak. Ia lebih senang hidup bebas di desa daripada tinggal di istana yang penuh dengan aturan. Akhirnya, Sitti dan Aria Tebing bermufakat untuk membagi dua kebun warisan dari orangtua mereka. Kebun yang menjadi bagian Sitti secara tidak langsung juga sudah menjadi milik Pangeran Serunting. Agar tidak terjadi perselisihan di antara mereka, Pangeran Serunting pun menyarankan agar kebun mereka diberi pembatas. /span>
“Lebih baik di tengah-tengah ladang itu diberi pembatas agar kelak tidak terjadi perselisihan di antara kita,” ujar Pangeran Serunting.
“Saran yang bagus, Kanda,” kata Aria Tebing.
Keesokan harinya, Aria Tebing bersama Serunting berangkat ke kebun itu dengan membawa sebatang kayu pembatas. Setiba di sana, kayu pembatas itu mereka tanam dalam-dalam di tengah ladang. 
Beberapa hari kemudian, pada kayu pembatas itu tumbuh tanaman cendawan atau jamur. Namun, cendawan yang tumbuh pada batang kayu itu jauh berbeda. Cendawan yang mengarah ke kebun Serunting hanya cendawan biasa, sedangkan cendawan yang mengarah ke kebun Aria Tebing berupa cendawan emas. Aria Tebing pun menjual cendawan emas tersebut dan ia menjadi kaya raya. Rupanya, Serunting iri hati melihat nasib baik dialami oleh adik iparnya itu.
Suatu hari, Serunting mendatangi Aria Tebing yang sedang memetik jamur emas di ladangnya. Ia sudah tidak kuat menahan perasaan iri yang menyelimuti hatinya.
“Hai, Aria Tebing! Apa yang kau lakukan terhadap tanaman cendawanku?” tanya Pangeran Serunting.
“Apa maksud, Kanda? Aku tidak melakukan apa-apa terhadap cendawan Kanda,” jawab Aria Tebing dengan heran.
“Ah, bohong kamu! Pasti kamu telah berbuat curang kepadaku,” tuduh Pangeran Serunting, “Engkau telah membalik kayu pembatas itu sehingga cendawan emas itu mengarah ke ladangmu!”
Aria Tebing semakin bingung dengan tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia merasa tidak pernah membalik kayu pembatas itu. Cendawan emas itu tumbuh dengan sendirinya. Meskipun ia sudah meminta maaf dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya, Pangeran Serunting tidak mau terima. Bahkan, ia menantang Aria Tebing untuk berkelahi.
“Hai, Aria Tebing. Kamu tidak usah banyak alasan. Jika kamu berani, lawan aku! Aku menantangmu!” tantang Pangeran Serunting.
Aria Tebing bingung untuk menjawab tantangan itu. Ia menyadari bahwa dirinya akan mungkin mampu menghadapi kakak iparnya sakti mandraguna itu. Tapi, jika ia menolak tantangan itu, Pangeran Serunting pasti akan membunuhnya.
“Baiklah, Kanda. Aku akan terima tantangan Kanda, tapi berilah aku waktu 2 hari untuk berpikir!” pinta Aria Tebing.
“Baik, kalau itu maumu. Jika perlu, latihlah kemampuanmu sebelum waktu itu tiba!” seru Pangeran Serunting dengan nada melecehkan.
Sejak itu, Aria Tebing sulit memejamkan matanya. Ia bingung mencari cara agar bisa mengalahkan Pangeran Serunting. Sehari sebelum pertarungan itu dimulai, ia akhirnya menemukan jalan keluarnya.
“Ahhaaa... aku tahu cara sekarang,” gumam Aria Tebing. “Kak Sitti pasti tahu kelemahan Pangeran Serunting.” 
Aria Tebing menemui kakaknya secara sembunyi-sembunyi. Ia kemudian meminta kepada kakaknya agar mau memberitahu kelemahan Pangeran Serunting.
“Kak Sitti, tolong kasih tahu aku mengenai kelemahan Pangeran Serunting!” bujuk Aria Tebing, “Kalau tidak, ia pasti akan membunuhku.”
Sitti tidak menjawab. Hatinya sedang bingung. Ia tidak ingin adiknya mati, tapi ia pun tidak mampu mengkhianati suaminya.
“Maafkan aku, adikku. Aku tidak bisa mengkhianati suamiku,” kata Sitti kepada adiknya.
“Tolonglah aku, Kakak,” rengek Aria Tebing, “Jika pun aku mengetahui kelemahan Pangeran Serunting, aku tidak akan membunuhhnya, sedangkan ia pasti akan membunuhku. Apakah Kakak rela melihat aku tewas di tangan suami Kakak sendiri?”
Sitti kembali terdiam. Ia tersentuh dengan perkataan adiknya.
“Baiklah, Dik. Aku akan memberitahukannya, tapi kamu harus berjanji untuk tidak membunuhnya,” ujar Sitti.
“Baik, aku janji. Aku tidak akan membunuhnya,” kata Aria Tebing.
Akhirnya, Sitti pun membocorkan rahasia kelamahan suaminya kepada Aria Tebing.
“Rahasia kesaktian suamiku ada pada rumput ilalang yang selalu bergetar walaupun tidak tertiup angin,” kata Sitti, “Jika kamu menombak rumput ilalang itu, kekuatannya langsung lenyap seketika.” 
“Baik, Kak. Terima kasih atas bantuannya,” ucap Aria Tebing.
Pada hari yang telah ditentukan, Pangeran Serunting dan Aria Tebing pergi ke sebuah padang ilalang. Setiba di sana, pertarungan pun dimulai. Baru saja pertarungan itu dimulai, Aria Tebing sudah mulai terdesak oleh serangan-serangan kakak iparnya. Hal itu menunjukkan bahwa betapa tingginya kesaktian Pangeran Serunting.
Meskipun demikian, Aria Tebing tidak gentar karena sudah mengetahui kelemahan sang pangeran. Pada saat yang tepat, ia segera menombak ilalang yang bergetar di padang itu. Seketika itu pula, sang Pangeran jatuh tersungkur ke tanah dengan keadaaan luka parah.
Merasa dikhianati oleh istrinya, Pangeran Serunting pergi meninggalkan kampung halamannya menuju ke Gunung Siguntang untuk bertapa. Setiba di sana, tiba-tiba ia mendengar suara gaib dari Sang Hyang Mahameru.
“Hai, anak muda. Maukah engkau mendapatkan kekuatan gaib?” tanya suara itu.
“Saya sangat mau, wahai Sang Hyang Mahameru,” jawab Pangeran Serunting.
“Baiklah, tapi ada syaratnya yaitu engkau harus bertapa di bahwa pohon bambu hingga daun bambu itu menutupi seluruh tubuhmu,” kata Sang Hyang Mahameru.
Tanpa berpikir panjang, Pangeran Serunting segera menyanggupi persyaratan itu. Setelah itu, ia langsung memulai tapanya dengan penuh konsentrasi. Segala bentuk kehidupan dunia telah lenyap dalam pikiran dan ingatannya. Rasa lapar dan dahaga pun tidak dirasakannya lagi. Semakin lama ia semakin larut dalam tapanya sehingga tak terasa sudah 2 tahun ia bertapa. Saat itu pula, seluruh tubuhnya telah tertutupi daun-daun bambu yang telah berguguran.
Sesuai dengan janjinya, Sang Hyang Mahameru kembali mendatangi Pangeran Serunting.
“Wahai, anak muda. Karena engkau telah berhasil melaksanakan syarat itu dengan baik, maka kini saatnya aku menurunkan ilmu kesaktian kepadamu,” kata Sang Hyang Mahameru.
“Kesaktian apakah itu, wahai Sang Hyang Mahameru?” tanya Pangeran itu penasaran.
“Apa pun yang engkau ucapkan akan berubah menjadi kutukan,” jawab Sang Hyang Mahameru.
Dengan perasaan gembira, Pangeran Serunting segera pulang ke kampung asalnya. Dalam perjalanan pulang, terbersit di pikirannya untuk menjajal kesaktian yang baru diperolehnya itu. Saat menjumpai hamparan pohon tebu di tepi danau, ia berkata: “Jadilah batu, wahai pohon tebu!” serunya.
Berkat kesaktian lidahnya, hamparan pohon tebu itu langsung berubah menjadi batu. Oleh karena itulah, Pangeran Serunting dijuluki Si Pahit Lidah karena kesaktian lidahhnya itu. Selanjutnya, Si Pahit Lidah mendapati sebuah bukit yang gersang dan tandus bernama Bukit Serut. Ia kemudian mengubah bukit gersang itu menjadi hutan belantara. Ketika tiba di suatu desa, Si Pahit Lidah memenuhi keinginan sepasang suami istri yang sudah tua untuk memiliki anak. Dengan kesaktian lidahnya, ia mengubah sehelai rambut milik si nenek menjadi seorang bayi laki-laki.
Begitulah seterusnya, di sisa perjalanannya menuju Sumidang, Si Pahit Lidah terus belajar berbuat baik kepada sesama makhluk hidup. Setiba di kampung halamannya, rasa dendamnya kepada Aria Tebing pun hilang sudah seiring dengan perbuatan baiknya di sepanjang perjalanan. Ia pun meminta maaf kepada adik iparnya itu, juga kepada istri tercintanya.
* * *
Demikian cerita Si Pahit Lidah dari Sumidang, Sumatra Selatan. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa ilmu yang kita miliki sebaiknya dimanfaatkan untuk menolong dan berbuat baik kepada orang lain, bukan untuk menyombongkan diri.

RAJA EMPEDU

Raja Empedu adalah seorang raja muda yang memerintah di Negeri Hulu Sungai Nusa, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Suatu ketika, Raja Empedu membantu Raja Pangeran Mas dari Kerajaan Lesung Batu untuk membinasakan Raja Kubang yang terkenal sakti mandraguna. Berhasilkah Raja Empedu membinasakan Raja Kubang? Ikuti kisahnya dalam cerita Raja Empedu berikut!
* * *
Pada zaman dahulu kala, Kecamatan Rawas Ulu yang merupakan wilayah Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, terbagi ke dalam tiga wilayah pemerintahan yaitu Hulu Sungai Nusa, Lesung Batu, dan Kampung Suku Kubu. Ketiga wilayah tersebut masing-masing diperintah oleh seorang raja. Negeri Hulu Sungai diperintah oleh Raja Empedu yang masih muda dan terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Rakyatnya hidup aman dan makmur karena pertanian di daerah itu maju dengan pesat.
Sementara itu, Negeri Lesung Batu diperintah oleh Pangeran Mas yang terkenal kaya raya dan mempunyai banyak ternak kerbau. Adapun Negeri Kampung Suku Kubu diperintah oleh Raja Kubu yang memiliki kesaktian yang tinggi. Negeri Kampung Kubu dikenal paling tertinggal dibanding dua negeri yang lain meskipun wilayahnya cukup subur.
Suatu ketika, Pangeran Mas mengalami kesulitan memelihara ternaknya yang semakin hari semakin berkembangbiak. Oleh karenanya, ia berniat untuk menyerahkan sebagian ternaknya kepada siapa pun yang berminat memeliharanya dengan syarat kerbau-kerbau yang diserahkan tetap menjadi miliknya, hasil dari pengembangbiakan itulah nantinya akan dibagi bersama secara adil.
Raja Kubu yang mendengar kabar tersebut sangat berminat untuk menerima tawaran Pangeran Mas. Ia segera mengirim utusannya ke Negeri Lesung Batu untuk menghadap Pangeran Mas.
“Ampun, Tuan! Hamba adalah utusan Raja Kubu dari Negeri Kampung Suku Kubu. Kedatangan hamba kemari untuk menyampaikan keinginan Raja hamba yang berminat menerima tawaran Tuan dan bersedia menaati persyaratannya,” lapor utusan Raja Kubu.
“Baiklah, kalau begitu! Pulanglah dan sampaikan kepada Raja-mu bahwa aku menyetujui keinginannya. Besok aku akan mengirimkannya puluhan ekor kerbau. Sampaikan juga kepada Raja-mu bahwa jika kerbau-kerbau tersebut telah berkembangbiak, aku akan datang untuk mengambil pembagian hasilnya,” jelas Pangeran Mas.
“Baik, Tuan! Pesan Tuan akan hamba sampaikan kepada Raja hamba,” kata utusan itu seraya mohon diri.
Keesokan harinya, Pangeran Mas mengirim berpuluh-puluh ekor kerbau jantan dan betina kepada Raja Kubu. Raja Kubu pun menerimanya dengan senang hati. Ia memelihara dan merawat kerbau-kerbau tersebut dengan baik. Kerbau-kerbau tersebut ia gembalakan dan membiarkannya berkubang di sawah-sawah yang terhampar luas di daerahnya. Kerbau peliharaannya pun berkembangbiak dengan cepat dan hampir seluruh daerahnya telah menjadi kubangan kerbau. Sejak itu, negeri tersebut kemudian dikenal dengan nama Negeri Kubang dan Raja Kubu dipanggil Raja Kubang.
Beberapa tahun kemudian, Pangeran Mas merasa bahwa tibalah saatnya untuk mengambil pembagian atas ternaknya yang dipelihara oleh Raja Kubang. Maka dikirimlah utusannya untuk menghadap Raja Kubang. Setibanya di sana, Raja Kubang mengikari janjinya dan menolak untuk berbagi hasil dengan Pangeran Mas. Bahkan, ia menganggap bahwa semua kerbau yang dipeliharanya adalah miliknya.
“Hai, utusan! Untuk apa kamu datang kemari?” tanya Raja Kubang.
“Ampun, Tuan! Hamba diutus Raja Pangeran Mas kemari untuk menagih pembagian hasil dari ternak kerbau yang Tuan pelihara,” jawab utusan Raja Pangeran Mas.
“Apa katamu, pembagian hasil? Tidak, semua kerbau tersebut sudah menjadi milikku karena akulah yang merawat dan mengembangbiakkannya,” kata Raja Kubang.
“Tapi, Tuan! Bukankah hal itu sesuai dengan perjanjian yang telah Tuan sepakati bersama Raja Pangeran Mas?” ujar utusan itu.
“Cuihhh… persetan dengan perjanjian itu! Perjanjian itu hanya berlaku pada waktu itu, tapi sekarang tidak lagi,” Raja Kubang menyangkal.
Beberapa kali utusan Raja Pangeran Mas berusaha membujuk dan memberinya pengertian, namun Raja Kubang tetap mengingkari janjinya. Lama kelamaan Raja Kubang merasa muak dengan bujukan-bujukan itu. Ia pun memerintahkan pengawalnya agar mengusir utusan itu. Akhirnya, utusan Raja Pangeran Mas pulang dengan tangan hampa.
Mendengar laporan dari utusannya, Raja Pangeran Mas sangat marah atas sikap dan tindakan Raja Kubang. Penguasa Negeri Lesung Batu itu berniat untuk menyerang Raja Kubang, namun apa daya Raja Kubang terkenal sakti dan mempunyai banyak pengawal yang tangguh. Akhirnya, ia memutuskan untuk meminta bantuan kepada Raja Empedu. Berangkatlah ia bersama beberapa pengawalnya ke Negeri Hulu Sungai Nusa. Setibanya di sana, kedatangan mereka disambut baik oleh Raja Empedu. Raja Pangeran Mas kemudian mengutarakan maksud kedatangannya. Tanpa berpikir panjang, Raja Empedu pun menyatakan kesediaannya untuk membantu Pangeran Mas.
“Baiklah, Pangeran Mas! Aku akan membantu mengembalikan kerbau-kerbaumu. Raja Kubang yang suka ingkar janji itu harus diberi pelajaran,” ujar Raja Empedu.
“Tapi, bagaimana caranya Raja Empedu? Bukankah Raja Kubang itu sangat sakti?” tanya Pangeran Mas bingung.
“Tenang Pangeran Mas! Kita perlu strategi untuk bisa mengalahkannya,” ujar Raja Empedu.
Akhirnya, Raja Empedu bekerjasama dengan Pangeran Mas membangun strategi. Pertama-tama mereka membagi dua pasukan mereka. Pasukan pertama bertugas membuat hiruk pikuk seluruh rakyat Raja Kubang dengan mengadakan pertunjukan seni dan tari pedang di Negeri Kubang. Pasukan kedua bertugas untuk mengepung dan membakar seluruh pemukiman penduduk Negeri Kubang.
Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah pasukan pertama ke Negeri Kubang untuk mengadakan pertunjukan. Mereka masuk wilayah negeri itu sambil membawakan lagu-lagu merdu dan tari-tarian pedang. Penduduk Negeri Kubang pun berbondong-bondong untuk menyaksikan pertunjukkan itu, tidak terkecuali Raja Kubang dan para pengawalnya. Pada saat itulah, pasukan kedua yang dipimpin oleh Raja Empedu dan Pangeran Mas segera memanfaatkan kesempatan untuk mengepung dan membakar seluruh permukiman warga. Para penduduk pun berlarian untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, Raja Kubang baru menyadari bahwa mereka telah dikepung oleh pasukan dari dua kerajaan. Ia pun tak berdaya untuk melakukan perlawanan karena jumlah pasukan Raja Empedu dan Pangeran Mas jauh lebih banyak daripada pasukannya. Akhirnya, Raja Kubang menyerah dan mengembalikan seluruh kerbau yang ada di negerinya kepada Pangeran Mas.
Pangeran Mas dan Raja Empedu beserta seluruh pasukannya menggiring kerbau-kerbau tersebut menuju Negeri Lesung Batu. Betapa senangnya hati Pangeran Mas karena ternak kerbaunya dapat direbut kembali dari tangan Raja Kubang atas bantuan Raja Empedu. Sebagai ucapan terima kasih dan balas jasa, Pangeran Mas menyerahkan putri semata wayangnya yang bernama Putri Darah Putih kepada Raja Empedu untuk dijadikan permaisuri.
Setelah menikah, Raja Empedu mengajak Putri Darah Putih tinggal di Negeri Hulu Sungai Nusa. Sejak itulah, Raja Pangeran Mas merasa kesepian dan selalu merindukan putrinya. Untuk melepas keriduannya, ia sering pergi ke Tebing Ajam, yaitu suatu tempat yang tinggi untuk meninjau dari kejauhan Negeri Hulu Sungai, tempat tinggal putrinya dan Raja Empedu. Hingga kini, tebing itu terkenal dengan nama Tebing Peninjauan.
* * *
Demikian cerita Raja Empedu dari daerah Sumatera Selatan. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu keutamaan sifat suka menolong dan akibat buruk sifat suka ingkar janji. Pertama, sifat suka menolong ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Raja Empedu yang telah membantu Raja Pangeran Mas menumpas ketamakan Raja Kubang. Berkat sifatnya yang suka menolong itu, Raja Empedu dinikahkan dengan Putri Darah Putih yang cantik jelita.
Kedua, akibat buruk dari sifat suka ingkar janji. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Raja Kubang yang mengingkari perjanjiannya dengan Raja Pangeran Mas karena keserakahannya terhadap harta. Akibatnya, seluruh permukimannya binasa dibakar oleh Pasukan Raja Pangeran Mas dan Raja Empedu.