Tampilkan postingan dengan label jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jambi. Tampilkan semua postingan

ASAL-USUL SUKU MELAYU TIMUR DI KUALA TUNGKAL

Suku Melayu Timur termasuk salah satu suku bangsa Melayu yang kini sebagian besar mendiami daerah Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Konon, orang yang disebut-sebut sebagai nenek moyang suku ini bernama Datuk Kedanding, yang diduga merupakan keturunan dari orang-orang Minadanau (Filipina). Bagaimana kisah selengkapnya mengenai asal-usul suku ini? Simak kisahnya dalam cerita Asal Mula Suku Melayu Timur di Kuala Tungkal berikut ini!
* * *
Ratusan tahun silam, di Negeri Melabang, Mindanau (kini menjadi sebuah wilayah di Filipina), berdiri sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja bernama Sultan Iskandar Bananai. Sang Raja memiliki dua orang putra yang bernama Patukan (sulung) dan Mata Empat (bungsu). Kedua pangeran itu memiki tabiat yang bertolak belakang. Pangeran Patukan adalah seorang pemuda tampan yang baik hati, berbudi luhur, dan suka menolong. Sedangkan, Pangeran Mata Empat memiliki sifat yang sangat buruk, kasar, tidak sopan, dan sifat-sifat yang tidak terpuji lainnya. Raja sudah menasehati anak bungsunya itu, tapi kelakuan Pangeran Mata Empat justru semakin menjadi-jadi. Sang Raja sangat malu dengan sifat dan kelakuan putranya itu.
Suatu hari, Sultan Iskandar Bananai memanggil seluruh panglima dan penasehatnya untuk bermusyawarah di ruang sidang istana.
“Wahai, para panglima dan penasehat kerajaan! Kalian pasti sudah tahu dengan sifat dan perilaku putraku, Mata Empat. Aku mengumpulkan kalian untuk membicarakan masalah ini,” kata sang Raja, “Terus terang, aku sudah tidak sanggup lagi mengatasi kelakuannya. Apakah kalian mempunyai pandangan mengenai hal ini?”
Mendengar pertanyaan sang Raja, para panglima dan penasehat kerajaan tertunduk diam. Mereka semua berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Beberapa saat kemudian, salah seorang penasehat kerajaan angkat bicara.
“Ampun, Baginda. Izinkanlah hamba menyampaikan saran untuk mengatasi kelakuan putra Baginda,” kata penasehat kerajaan itu.
“Apakah saranmu itu? Katakanlah!” jawab sang Raja dengan tidak sabar.
“Ampun, Baginda. Jika hamba boleh menyarankan, alangkah baiknya jika Pangeran Mata Empat diasingkan dari negeri ini,” ungkap penasehat kerajaan itu.
“Apa maksudmu diasingkan?” tanya sang Raja bingung.
“Ampun Baginda jika kata-kata hamba terlalu kasar. Maksud hamba, barangkali akan lebih baik jika Pangeran Mata Empat diperintahkan untuk pergi merantau mencari pengalaman,” jelas penasehat itu.
“Hmmm... saran yang bagus,” sahut sang Raja, “Aku setuju saran itu.”
“Bagaimana dengan pendapat yang lain? Apakah kalian setuju saran ini?” tanyanya seraya memandangi para peserta sidang lainnya.
“Setuju, Baginda,” jawab para peserta sidang dengan serentak.
“Baiklah kalau begitu. Tolong panggilkan Pangeran Mata Empat untuk menghadapku sekarang,” titah sang Raja.
Salah seorang panglima bergegas memanggil sang Pangeran. Tidak lama kemudian, panglima itu pun kembali bersama Pangeran Mata Empat. Saat tiba di ruang sidang, sang Pangeran terlihat kebingungan melihat semua pembesar kerajaan sedang berkumpul menghadap ayahandanya.
“Ada apa Ayah memanggilku?” tanya Pangeran Mata Empat.
Dengan halus, Sultan Iskandar Bananai pun menyampaikan hasil keputusan rapat itu kepada putranya. Mendengar keputusan itu, Pangeran Mata Empat sangat marah.
“Ayah, keputusan ini tidak adil. Kenapa aku saja yang disuruh merantau, sementara Abangku tidak?” tanya Pangeran Mata Empat dengan kesal.
“Maafkan Ayah, Putraku! Ini sudah keputusan bersama dalam sidang,” jawab sang Raja.
Pangeran Mata Empat tetap saja merasa keberatan. Ia tidak ingin kalau hanya dirinya saja yang disuruh pergi merantau.
“Ayah, demi keadilan, Abang Patukan juga harus pergi merantau. Tidak hanya aku,” pinta Pangeran Mata Empat.
Mendengar permintaan itu, Sultan Iskandar Bananai justru yang keberatan. Ia amat sayang kepada Patukan. Ia adalah tumpuan harapannya yang kelak akan menggantikan kedudukannya sebagai raja. Setelah lama berpikir, akhirnya sang Raja memenuhi permintaan itu.
“Baiklah, Putraku. Demi keadilan, Ayah memenuhi permintaanmu. Abangmu pun akan Ayah perintahkan untuk pergi merantau,” ujar sang Raja.
Pangeran Patukan adalah pemuda yang penurut. Maka, ketika sang Ayah memintanya pergi merantau, ia tidak menolak. Bahkan, ia menyambutnya dengan senang hati. Keesokan harinya, kedua pangeran itu bersiap-siap untuk berlayar. Pangeran Patukan diberi sebuah kapal layar yang dilengkapi perbekalan makanan serta beberapa pengawal dan dayang-dayang. Sementara itu, Pangeran Mata Empat diberi sebuah rakit yang juga dilengkapi dengan perbekalan, pengawal, dan dayang-dayang. Ketika keduanya hendak berangkat, Sultan Iskandar Bananai bersama permaisuri dan segenap rakyat berbondong-bondong menuju pelabuhan untuk melepas kepergian dua pangeran itu.
“Semoga kalian berhasil, wahai putra-putraku,” ucap sang Raja melepas kedua putranya dengan doa.
“Terima kasih, Ayahanda! Nanda pun berharap agar Ayah dan Ibunda tetap menjaga kesehatan,” kata Pangeran Patukan seraya mencium tangan kedua orang tuanya.
Sementara itu, Pangeran Mata Empat sudah berada di atas rakit tanpa menyalami ayah dan ibundanya. Bahkan, ketika rakit itu mulai meninggalkan pelabuhan, ia berkacak pinggang, tanpa melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Rupanya, ia masih kesal dengan keputusan ayahnya yang mengharuskan dirinya pergi meninggalkan istana. Lain halnya dengan Pangeran Patukan, ia terus melambaikan tangan kepada orang-orang yang melepasnya di pelabuhan hingga kapal layarnya hilang dari pandangan mata.
Kedua pangeran itu berlayar terpisah tanpa tentu arah untuk mencari keberuntungan masing-masing. Setelah berhari-hari berlayar, kedua putra raja itu terombang-ambing di tengah laut. Suatu ketika, rakit Pangeran Empat Mata terhempas badai hingga hancur berkeping-keping. Seluruh penumpangnya jatuh ke laut dan terbawa arus gelombang. Untung ia berhasil meraih salah satu potongan rakitnya. Ia pun terapung-apung di atas potongan rakit itu hingga akhirnya terdampar di Tanah Merah (kini dekat Palembang). Konon, Pangeran Empat Mata menetap di daerah itu hingga akhir hayatnya.
Sementara itu, Pangeran Patukan juga mengalami nasib sama. Kapal layarnya dihempas badai dan gelombang besar hingga hancur. Seluruh pengawal dan dayang-dayangnya tenggelam di tengah laut. Sang Pangeran pun dapat menyelamatkan diri hingga terdampar di Pulau Lingga. Untung nasib baik berpihak kepadanya karena ia berhasil ditemukan oleh Raja Lingga dan kemudian dibawa ke istana.
“Hai, anak muda siapa kamu dan dari mana asalmu?” tanya Raja Lingga.
“Ampun, Baginda. Hamba Pangeran Patukan, putra sulung Sultan Iskandar Bananai dari Negeri Mindanau,” jawab sang Pangeran.
Pangeran Patukan kemudian menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga terdampar di Pulau Lingga. Mendengar cerita itu, Raja Lingga merasa amat gembira.
“Oh, kebetulan sekali, Pangeran. Sudah bertahun-tahun kami menikah, tapi sampai sekarang Tuhan belum juga mengaruniai kami seorang putra,” ungkap Raja Lingga, “Jika Pangeran berkenan, aku ingin mengangkat Pangeran sebagai putraku. Setelah aku wafat kelak, engkaulah yang akan menggantikanku sebagai raja di negeri ini.”
Mulanya, Pangeran Patukan bingung atas permintaan Raja Lingga itu. Di negerinya, ia juga diharapkan untuk menjadi pengganti ayahandanya sebagai raja. Namun, setelah mempertimbangkan bahwa Raja Lingga telah menyelamatkannya, maka ia pun menerima permintaan tersebut. Sejak itulah, Pangeran Patukan tinggal di istana dan menjadi anak angkat Raja Lingga.
Beberapa tahun kemudian, Raja Lingga wafat. Pangeran Patukan pun dinobatkan sebagai Raja Lingga yang baru. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dalam waktu singkat negeri itu menjadi makmur dan sejahtera. Ia pun amat dicintai oleh rakyatnya.
Suatu hari, berita tentang Pangeran Patukan menjadi Raja Lingga sampai juga ke Negeri Mindanau. Seluruh rakyat Mindanau menyambut gembira kabar tersebut, terutama Sultan Iskandar Bananai dan permaisurinya. Banyak di antara rakyat Mindanau yang ingin pindah ke Pulau Lingga untuk mengabdi kepada Pangeran Patukan. Maka, dengan izin Sultan Iskandar Bananai, penduduk Mindanau pun mulai berangsur-angsur pindah ke Negeri Lingga.
Semasa perpindahan penduduk Mindanau ke Pulau Lingga, sebagian di antara mereka ada yang tersesat sampai ke Kuala Tungkal akibat tidak tahu arah. Salah satunya adalah adalah Datuk Kedanding bersama keluarganya. Konon, Datuk Kedanding inilah yang dipercaya sebagai nenek moyang orang-orang Suku Melayu Timur yang bermukim di daerah Kuala Tungkal.
* * *
Demikian cerita Asal Usul Suku Melayu Timur di Kuala Tungkal dari Provinsi Jambi. Kisah ini hanyalah sebuah cerita rakyat yang diyakini oleh masyarakat tempat cerita ini berasal. Sebuah cerita rakyat tidak selalu terkait dengan fakta-fakta sejarah. Tapi, yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memahami dan mengamalkan pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya. Salah pesan moral tersebut adalah bahwa orang yang baik hati seperti Pangeran Patukan pada akhirnya akan mendapat anugerah. Terbukti, ketika ia diangkat sebagai anak oleh Raja Lingga dan kemudian dinobatkan menjadi raja di negeri tersebut.

TAN TALANAI

Tan Talanai adalah seorang raja yang pernah memerintah di sebuah kerajaan di Jambi pada sekitar pertengahan abad ke-15 Masehi. Sang raja memiliki seorang bayi laki-laki yang diharapkan dapat meneruskan tahta sebagai Raja Jambi. Namun, baru beberapa hari setelah putranya lahir, Raja Tan Talanai justru membuangnya ke lautan lepas. Mengapa Raja Tan Talanai membuang putra kandungnya sendiri ke laut? Lalu, bagaimana nasib anak yang malang itu selanjutnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Tan Talanai Berikut ini!
* * *
Pada zaman dahulu kala, Negeri Jambi dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Dewa Sekerabah atau biasa dikenal si Pahit Lidah. Namun sayang, sang raja tidak mempunyai keturunan sehingga ketika ia wafat, Negeri Jambi menjadi kacau balau. Rakyatnya membentuk kelompok-kelompok dan kemudian saling berperang satu sama lain.
Kabar tentang kekacauan di Negeri Jambi tersebar hingga ke berbagai penjuru. Mendengar kabar tersebut, Tan Talanai yang memerintah di Rabu Menarah, Turki, berambisi untuk menguasai Negeri Jambi. Dengan berbagai upaya, akhirnya ia berhasil mengusai negeri itu dan menjadi raja di sana.
Tan Talanai adalah raja yang arif dan bijaksana sehingga rakyat negeri itu kembali damai, makmur, dan sejahtera. Seluruh rakyat menyukai gaya kepemimpinan Tan Talanai. Sang raja pun amat bahagia karena merasa hidupnya telah sempurna. Selain memiliki kekuasaan dan dihormati oleh rakyatnya, ia juga mempunyai harta benda yang melimpah. Namun, ada satu hal yang selalu mengganjal di pikiran Tan Talanai, yaitu karena ia belum mempunyai anak. Ia senantiasa berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar dikaruniai keturunan.
“Ya, Tuhan! Berilah hamba seorang putra yang kelak akan menggantikan kedudukan hamba sebagai pemimpin di negeri ini,” Tan Talanai memohon dengan khusyuk.
Permintaan Tan Talanai terkabul. Sebulan kemudian, sang permaisuri pun mengandung. Alangkah senangnya hati Tan Talanai mendengar kabar tersebut. Ia selalu berdoa semoga bayinya lahir dengan selamat.
Beberapa bulan kemudian, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan. Tan Talanai menyambutnya dengan perasaan bahagia. Selang tiga hari setelah bayi itu lahir, Tan Talanai mendapat laporan dari ahli nujum istana bahwa kehadiran bayi itu justru akan membawa malapetaka bagi kerajaannya.
“Malapetaka apa yang kamu maksud?” tanya Tan Talanai kepada ahli nujumnya dengan cemas.
“Suatu saat jika telah dewasa, anak itu akan membunuh Baginda,” jawab si ahli nujum.
“Apa katamu? Dia akan membunuhku?” tanya Tan Talanai dengan terkejut, “Oh, ini tidak mungkin terjadi!”
Raja Negeri Jambi itu mulanya ragu dengan apa yang baru saja didengarnya. Namun karena amat percaya dengan ucapan si ahli nujum istana, maka sang raja pun segera memerintahkan patihnya, Datuk Emping Besi, untuk membuang putranya ke lautan.
“Datuk Emping Besi, hanyutkan anak itu ke tengah laut!” titah Tan Talanai.
Datuk Emping Besi sebenarnya tidak tega membuang bayi itu, namun karena perintah raja ia pun terpaksa melakukannya. Sementara itu, sang permaisuri yang mengetahui anak semata wayangnya itu hendak dibuang ke laut menjadi bersedih hati. Ia pun segera membujuk sang raja agar mengurungkan niatnya.
“Kanda, Dinda berharap Kanda tidak membuang putra kita satu-satunya,” pinta sang permaisuri. “Masih ingatkah Kanda bahwa anak itu kita peroleh setelah bertahun-tahun kita menunggu? Tapi, setelah karunia itu datang, justru Kanda hendak menyia-nyiakannya.”
“Tapi, Dinda. Apalah gunanya kita mempunyai seorang putra jika kelak akan membunuh ayahnya sendiri?” sanggah Tan Talanai.
Sang permaisuri pun tidak kuasa mencegah keinginan Tan Talanai. Akhirnya, Datuk Emping Besi bersama beberapa pengawal istana segera memasukkan bayi itu ke dalam peti lalu membuangnya ke lautan lepas. Peti yang berisi bayi itu pun hanyut terbawa arus gelombang laut hingga terdampar di perairan Negeri Siam (sekarang negara Thailand).
Sementara itu, ratu Negeri Siam yang bernama Tuan Putri sedang asyik memancing di laut dengan menggunakan perahu bersama pengawalnya. Saat itu, tiba-tiba ia melihat sebuah peti terapung di permukaan air laut.
“Hai, lihat ada peti yang hanyut?” seru Tuan Putri.
Tuan Putri pun memerintahkan kepada para pengawalnya untuk mengambil peti itu dan dinaikkan ke atas perahu mereka.
“Ayo, cepat buka peti itu!” ujar Tuan Putri penasaran.
“Baik, Tuan Putri!” jawab seorang pengawal seraya membuka penutup peti itu.
Alangkah terkejutnya Tuan Putri karena peti itu berisi seorang bayi laki-laki mungil yang sedang tidur nyenyak.
“Hai, anak siapa ini? Sungguh tega hati orang tuanya yang telah membuangnya,” Tuan Putri berkata dengan perasaan iba..
Setelah diperiksa, ternyata pada dinding peti itu terdapat sebuah tanda yang menunjukkan bahwa bayi tersebut adalah putra Tan Talanai, sang Raja Jambi. Meskipun demikian, Tuan Putri tetap membawa pulang bayi itu ke istananya. Alangkah senangnya hati Tuan Putri karena memang sudah lama ia mendambakan seorang anak.

Sejak itu, putra Tan Talanai itu menjadi salah satu anggota keluarga Kerajaan Siam. Di bawah asuhan Tuan Putri, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan sakti. Ia sangat mahir bermain silat karena sejak kecil ia dilatih ilmu olah kanuragan oleh para pendekar Kerajaan Siam. Selain itu, anak itu juga pandai bergaul dengan teman-teman sebayanya.
Suatu hari, sepulang dari bermain bersama teman-temannya, anak itu duduk termenung seorang diri di pendapa istana. Hatinya sedih karena teman-temannya sering mengolok-oloknya bahwa ia tidak mempunyai ayah. Menyadari bahwa dirinya memang selama ini hanya dirawat dan dibesarkan oleh Tuan Putri, ia pun segera menemui ibunya itu untuk menanyakan siapa sebenarnya ayahnya.
“Bu, bolehkah Ananda menanyakan suatu hal kepada Ibu?” tanya anak itu.
“Apa yang ingin kamu tanyakan, Putraku?” Tuan Putri balik bertanya.
“Begini, Bu. Ananda malu setiap hari diolok-olok oleh teman-teman kalau Ananda tidak mempunyai Ayah. Kalau boleh tahu siapa sebenarnya ayah Ananda, Bu?”
Mendengar pertanyaan itu, Tuan Putri menghela nafas panjang. Kemudian Tuan Putri menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang raja di Negeri Jambi yang bernama Tan Talanai.
“Lalu, bagaimana Ananda bisa berada di istana ini, Bu?” tanya anak itu bingung.
“Hmmm… keadaan ini memang sangat sulit untuk dipercaya, Putraku,” kata Tuan Putri.
“Apa maksud Ibu?” anak itu semakin bingung.
“Ketahuilah, Putraku. Sebenarnya, aku bukanlah ibu kandungmu. Ibu hanya menemukanmu terapung-apung di tengah laut saat kamu masih bayi dan merawatmu. Kedua orang tuamu saat ini berada di Negeri Jambi,” jelas Tuan Putri.
Mendengar penjelasan itu, anak itu menjadi marah. Ia pun bertekad untuk menghabisi nyawa ayahnya yang telah tega membuangnya sewaktu masih bayi.
“Dasar orang tua tidak berperasaan! Ia pantas dibinasakan!” geram si anak menahan amarah.
Anak itu pun menyusun rencana untuk melakukan penyerangan ke Negeri Jambi pada tahun depan. Tuan Putri yang mengetahui rencana itu, berupaya membujuk anak itu agar mengurungkan niatnya agar tidak terjadi peperangan antara anak dengan orang tuanya sendiri. Namun, anak itu tetap bertekad keras untuk menyerang kerajaan yang dipimpin oleh ayah kandungnya itu. Akhirnya, Tuan Putri secara diam-diam mengirim utusan ke Negeri Jambi untuk memberitahukan Tan Talanai mengenai rencana anaknya itu.
Di Negeri Jambi, Tan Talanai yang telah mendengar berita tersebut menjadi marah. Ia pun memerintahkan para menterinya untuk mempersiapkan pertahanan di sekitar ibukota Negeri Jambi.
Singkat cerita, genap satu tahun sudah berlalu. Putra Tan Talanai bersama para pasukannya sedang bergerak menuju ke Jambi. Setiba di negeri itu, perang antara dua pasukan yang masing-masing dipimpin oleh anak dan ayah itu tidak dapat dihindari. Pasukan sang anak langsung menyerang dan dapat mengalahkan pasukan sang Ayah, yang tersisa hanya Raja Tan Talanai. Pertarungan satu lawan satu pun terjadi. Ayah dan anak itu sama-sama sakti sehingga duel berlangsung dengan seru sampai pada akhirnya Tan Talanai mengalah karena menyadari semua kekhilafannya.
“Baiklah, Putraku. Jika Ananda memang benar-benar ingin membunuh Ayah, ambillah sebuah batu yang runcing lalu tikamkan ke tubuhku. Hanya itu satu-satunya cara yang dapat membunuh Ayah,” kata Tan Talanai. “Tapi, sebelum Ananda lakukan itu, tolong dengarkan dulu penjelasan Ayah. Ayah benar-benar sangat menyesal telah percaya begitu saja pada ramalam ahli nujum yang mengatakan bahwa Ananda akan mencelakai Ayah.”
Mendengar penjelasan dari ayahnya, hati anak itu menjadi luluh. Ia pun memeluk sang ayah.
“Maafkan Ananda, Ayah! Ananda sudah lancang ingin membunuh Ayah,” ucap anak itu sambil meneteskan air mata.
“Sudahlah, Putraku! Ayahlah yang harusnya minta maaf karena telah menyia-nyiakanmu,” kata sang ayah.
Anak itu pun memaafkan semua kekhilafan ayahandanya dan mengajak ayah serta ibu kandungnya untuk tinggal di Kerajaan Siam bersama Tuan Putri. Akhirnya, mereka pun hidup berbahagia. Beberapa tahun kemudian, putra Tan Talanai itu diangkat menjadi raja yang kemudian menurunkan Raja-raja Siam berikutnya. Hingga saat ini, sebagian orang percaya bahwa Raja Siam berasal dari Jambi dan Raja Jambi berasal dari Turki.
* * *
Demikian cerita Tan Talanai dari daerah Jambi. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa hendaknya kita jangan cepat percaya pada ramalan karena akan berakibat buruk bagi diri kita sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh Raja Tan Talanai. Oleh karena percaya pada ramalam ahli nujum, ia pun tega membuang putra kandungnya sendiri. Perbuatan Raja Tan Talanai tersebut tentu merupakan tindakan yang tidak terpuji.
Pesan moral lain yang terkandung dalam cerita di atas adalah keutamaan sifat pemaaf sebagaimana yang ditunjukkan oleh putra Raja Tan Talanai. Ia dengan lapang dada memaafkan segala kesalahan ayahnya yang telah membuangnya ke lautan. Dengan sifat pemaaf ini, kehamornisan keluarga dapat selalu terjaga dan perselisihan pun dapat terhindarkan.

DATUK DARAH PUTIH

Datuk Darah Putih adalah seorang hulubalang dari sebuah kerajaan di negeri Jambi, Indonesia. Ia terkenal sebagai seorang hulubalang yang pemberani, jujur, sakti, dan cendikia. Pada suatu waktu, kerajaan itu diserang oleh Belanda. Berkat kesaktian dan keberanian Datuk Darah Putih, pasukan Belanda berhasil dikalahkan. Bagaimana Datuk Darah Putih bisa mengalahkan mereka? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Datuk Darah Putih berikut ini!
* * *
Alkisah, di negeri Jambi, ada sebuah kerajaan yang memiliki seorang hulubalang bernama Datuk Darah Putih. Diberi nama demikian, karena jika terluka darah yang keluar dari tubuhnya berwarna putih. Ia seorang hulubalang yang terkenal dengan kejujuran, kepandaian, keberanian, dan kesakstiannya. Raja negeri itu sangat hormat kepadanya, berkat kepatuhan dan kemampuannya menyelesaikan segala tugas yang diembannya.
Pada suatu hari, sang Raja memerintahkan Datuk Darah Putih untuk membentuk pasukan inti kerajaan.
“Wahai, Datuk! Kumpulkan beberapa prajurit pilihan yang memiliki ketangkasan perang yang tinggi, jujur, setia pada raja, rela berkorban untuk kepentingan negeri, serta pantang menyerah dan mengeluh. Setelah itu, latihlah mereka agar menjadi prajurit yang tangguh seperti dirimu!” titah Baginda Raja.
“Daulah, Baginda!” jawab Datuk Darah Putih sambil memberi hormat.
Datuk Darah Putih pun segera melaksanakan perintah raja. Tidak sulit baginya untuk memilih prajurit yang akan dijadikan pasukan inti. Sebab, sebagai seorang hulubalang, ia sudah mengetahui semua kepribadian dan kemampuan perang semua prajuritnya. Dalam waktu singkat, Datuk Darah Putih sudah berhasil mengumpulkan puluhan prajurit pilihan, lalu melatih kemampuan perang mereka dengan penuh kesungguhan. Setelah hampir setahun berlatih secara terus-menerus, seluruh anggota pasukan inti tersebut telah menjadi prajurit yang tangguh, pemberani, dan siap mengorbankan jiwa raganya untuk negeri mereka.
Pada suatu hari, sang Raja mendengar laporan dari seorang mata-mata bahwa Belanda akan datang menyerang negeri mereka.
“Gawat, Baginda!” lapor seorang mata-mata kerajaan yang datang tergopoh-gopoh.
“Ada apa, Prajurit? Kenapa kamu panik seperti itu? Katakanlah!” desak sang Raja.
“Ampun, Baginda! Pasukan Belanda akan menyerbu negeri kita. Mereka sedang menuju kemari melalui jalur laut,” lapor mata-mata itu.
Mendengar laporan itu, sang Raja terdiam, lalu beranjak dari singgasananya. Ia kemudian mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang lebat.
“Mmm... kedatangan mereka pasti ingin mengeruk kekayaan negeri ini. Mereka adalah penjajah yang serakah dan suka mengadu domba penduduk negeri,” kata sang Raja yang sudah mengerti watak penjajah Belanda.
“Apa yang harus kami lakukan, Tuan?” tanya Datuk Darah Putih.
“Karena mereka melalui jalur laut, tentu hanya satu jalan yang dapat dilalui, yaitu Selat Berhala,” ungkap sang Raja.
“Berarti kita harus menghadang mereka di sekitar Pulau Berhala, Tuanku,” sambung Datuk Darah Putih yang sudah mengerti maksud perkataan sang Raja.
“Benar, Datuk! Besok pagi-pagi sekali, berangkatlah ke sana. Hadang dan hancurkan mereka di Selat Berhala. Siapkan seluruh pasukan inti dan beberapa prajurit lainnya!” titah sang Raja.
“Daulah, Baginda! Perintah segera hamba laksanakan,” jawab Datuk Darah Putih sambil memberi hormat.
Hulubalang sakti itu pun segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk menyiapkan segala peralatan perang yang diperlukan seperti pedang, tombak, dan keris. Mereka juga menyiapkan bekal makanan, karena diperkirakan masih dua hari lagi kapal pasukan Belanda baru memasuki Selat Berhala. Mereka harus berangkat lebih awal untuk mempersiapkan benteng pertahanan di Pulau Berhala.
Setelah semua peralatan dan bekal disiapkan, pasukan kerajaan yang akan berangkat berperang diperintahkan beristirahat lebih dulu untuk memulihkan tenaga setelah seharian melakukan persiapan. Sementara prajurit lainnya tetap berjaga-jaga di lingkungan istana dari berbagai kemungkinan yang akan terjadi.
Di kediamannya, Datuk Darah Putih tampak sedang bercengkerama bersama istrinya yang sedang hamil tua.
“Dinda! Bagaimana keadaan anak kita?” tanya Datuk Darah Putih sambil mengelus-elus perut istrinya yang buncit.
“Baik, Kanda! Semoga kelak anak kita lahir dengan selamat,” jawab sang Istri.
“Dinda! Besok Kanda bersama pasukan kerajaan akan berangkat ke medan perang untuk bertempur melawan penjajah Belanda. Tolong jaga baik-baik anak kita yang ada di dalam rahimmu ini!” pinta Datuk Darah Putih kepada istrinya.
“Tentu, Kanda! Dinda akan selalu merawatnya dengan baik. Jika anak kita laki-laki, Dinda berharap semoga kelak ia menjadi seorang panglima yang sakti dan pemberani seperti Kanda,” ucap sang Istri dengan penuh harapan.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Datuk Darah Putih bersama pasukannya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Pulau Berhala dengan menggunakan tiga buah jongkong (perahu atau tongkang) besar. Para keluarga istana, termasuk istri Datuk Darah Putih, ikut mengantar pasukan kerajaan tersebut sampai ke pelabuhan. Tidak tampak adanya rasa sedih sedikit pun pada wajah sang Istri. Sebelum meninggalkan pelabuhan, hulubalang sakti itu berpamitan kepada istrinya yang sedang berdiri di samping sang Raja.
“Hati-hati, Kanda! Doa Dinda senantiasa menyertai Kanda. Jika sudah berhasil menumpas para penjajah itu, cepatlah kembali!” pesan sang Istri.
“Baik, Dinda! Kanda akan kembali membawa kemenangan untuk negeri ini,” jawab Datuk Darah Putih sambil mencium kening dan perut istrinya, lalu bergegas naik ke atas jongkong.
Beberapa saat kemudian, ketiga jongkong tersebut berlayar menuju ke Pulau Berhala. Tampak dari kejauhan para pasukan kerajaan melambaikan tangan di atas jongkong. Para pengantar pun membalasnya dengan lambaian tangan pula. Setelah ketiga jongkong tersebut hilang dari pandangan, barulah para pengantar meninggalkan pelabuhan.
Setelah Datuk Darah Putih dengan pasukannya sampai di Pulau Berhala, mereka langsung mengatur strategi, membuat benteng-benteng pertahanan, dan tempat pengintaian. Jongkong-jongkong mereka tambatkan di balik batu karang besar yang ada di sekitar Pulau Berhala agar tidak terlihat oleh pasukan Belanda. Sambil menunggu kedatangan musuh, Datuk Darah Putih kembali menggembleng mental pasukannya.
Keesokan harinya, tampak dari kejauhan iring-iringan kapal pasukan Belanda akan memasuki Selat Berhala.
“Datuk, musuh kita telah datang. Mereka sedang menuju kemari,” lapor seorang prajurit pengintai.
Mendengar laporan itu, Datuk Darah Putih segera menyiapkan seluruh pasukannya.
“Pasukan! Ambil posisi masing-masing! Sekaranglah saatnya kita membaktikan diri kepada Baginda Raja dan negeri tercinta ini!” seru Datuk Darah Putih memberi semangat kepada pasukannya.
Mendengar seruan itu, pasukan kerajaan segera menaiki ketiga jongkong mereka dan menempati posisi masing-masing. Ketika iring-iringan kapal Belanda memasuki Selat Berhala, ketiga jongkong pasukan kerajaan langsung meluncur ke arah kapal-kapal Belanda. Saat jongkong-jongkong tersebut merapat, Datuk Darah Putih beserta pasukannya segera berlompatan masuk ke dalam kapal-kapal Belanda sambil menebaskan pedang dan menusukkan keris ke arah musuh. Pasukan Belanda yang mendapat serangan mendadak itu menjadi panik. Mereka tidak sempat lagi menggunakan bedil mereka. Untuk mengimbangi serangan dari pasukan kerajaan, mereka menggunakan pedang panjang. Namun karena dalam keadaan tidak siaga, mereka pun terdesak dan tidak berdaya. Tidak seorang pun dari pasukan Belanda yang selamat. Semuanya tewas terkena sabetan pedang dan tusukan keris.
Sementara dari pihak pasukan Datuk Darah Putih hanya ada beberapa prajurit yang terluka. Sebelum kembali ke benteng pertahanan di Pulau Berhala, mereka mengambil senjata dan semua perbekalan yang ada, lalu membakar semua kapal Belanda tersebut.
Sesampainya di Pulau Berhala, pasukan Datuk Darah Putih segera merayakan kemenangan itu dengan gembira.
“Datuk! Kita harus segera kembali ke istana untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Baginda Raja,” ujar seorang prajurit.
Datuk Darah Putih hanya tersenyum mendengar laporan itu.
“Ketahuilah, Prajurit! Perjuangan kita belum selesai,” jawab Datuk Darah Putih.
“Apa maksud, Datuk? Bukankah semua pasukan Belanda telah tewas?” tanya prajurit itu tidak mengerti.
“Benar katamu, Prajurit! Tapi, itu hanya sebagian kecil. Jika Belanda tidak mendengar berita dari pasukannya yang dikirim dan kita kalahkan itu, tentu mereka akan mengirim pasukan yang lebih besar lagi,” jelas Datuk Darah Putih.
Mendengar penjelasan itu, sang Prajurit hanya bisa manggut-manggut. Dalam hatinya berkata bahwa Datuk Darah Putih memang seorang hulubalang yang cerdik dan pandai.
“Lalu apa tindakan kita selanjutnya, Datuk?” tanya prajurit itu.
“Iya, Datuk! Apakah kita harus tetap di sini menunggu kedatangan pasukan Belanda selanjutnya?” sambung seorang prajurit yang lain.
“Benar, Prajurit! Menurut perkiraanku, pasukan Belanda akan tiba di tempat ini tiga hari lagi. Oleh karenanya, kita harus lebih siap, karena kita akan menghadapi pasukan Belanda yang jumlahnya lebih besar,” ujar Datuk Darah Putih.
Ternyata benar perkiraan Datuk Darah Putih. Tiga hari kemudian, tampak iring-iringan tiga kapal besar dengan jumlah serdadu yang lebih banyak sedang memasuki Selat Berhala. Namun, hal itu tidak membuat Datuk Darah Putih gentar. Ia pun segera menyiapkan pasukannya untuk menghadang mereka.
“Pasukan! Demi negeri ini..., demi masa depan anak cucu kita..., berperanglah sampai titik darah penghabisan!” seru Datuk Darah Putih menyemangati pasukannya.
“Hidup Datuk! Hidup Datuk Darah Putih!” terdengar teriakan para prajurit dengan penuh semangat.
Setelah itu, pasukan Datuk Darah Putih segera menaiki jongkong-jongkong lalu meluncur dan merapat ke kapal-kapal Belanda. Kali ini, mereka menghadapi musuh yang lebih berat. Jumlah pasukan Belanda lebih banyak dibanding pasukan kerajaan, sehingga pertempuran itu tampak tidak seimbang. Seorang prajurit kerajaan terkadang harus menghadapi dua sampai tiga orang serdadu Belanda.
Di haluan kapal, tampak Datuk Darah Putih dikeroyok oleh tiga orang serdadu Belanda. Tidak lama, ia pun mulai terdesak dan tiba-tiba batang lehernya tersabet pedang seorang serdadu Belanda. Maka keluarlah darah putih dari lehernya itu. Namun, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia tetap melakukan perlawanan.
“Prajurit! Aku terkena pedang. Bawa aku mundur dan yang lain tetaplah bertempur sampai titik darah penghabisan!” teriak Datuk Darah Putih sambil menghindari serangan serdadu Belanda.
Mendengar teriakan itu, beberapa orang prajurit pilihan pun datang membantunya. Dalam waktu singkat, ketiga serdadu Belanda tersebut tewas. Datuk Darah Putih segera dibawa ke Pulau Berhala untuk mendapatkan perawatan. Sesampainya di sana, ia didudukkan di tempat yang aman dan tersembunyi. Para prajurit telah berusaha menutup luka pimpinannya, namun darah putih tetap saja keluar.
“Tolong carikan aku anak batu sengkalan untuk menutupi luka di leherku ini!” perintah Datuk Darah Putih.
Dengan sigapnya, salah seorang prajurit segera mencari batu seperti yang dimaksud pimpinannya itu. Tidak berapa lama, prajurit itu pun kembali membawa sebuah anak batu sengkalan yang tipis, lalu menempelkannya pada luka di leher Datuk Darah Putih. Darah putih itu pun berhenti dan tidak keluar lagi.
Begitu lukanya tertutup batu sengkalan, Datuk Darah Putih tiba-tiba bangkit dari duduknya, lalu melompat ke atas jongkong.
“Terima kasih, Prajurit! Ayo kita kembali berperang melawan penjajah!” seru Datuk Darah Putih dengan penuh semangat.
Prajurit yang menolongnya itu pun segera mengikutinya naik ke atas jongkong. Meskipun masih terluka, Datuk Darah Putih mampu melakukan perlawanan. Bahkan, ia semakin lincah dan gesit memainkan pedangnya, sehingga banyak serdadu Belanda yang terkena sabetan pedangnya. Tidak berapa lama, akhirnya seluruh serdadu Belanda tewas.
“Horeee..., horeee... Kita menang!” terdengar suara gegap gempita pasukan kerajaan menyambut kemenangan itu.
Namun, di balik kegembiraan itu tersimpan rasa duka yang mendalam melihat keadaan Datuk Darah Putih yang terluka parah. Mereka pun kembali ke benteng pertahanan di Pulau Berhala sambil memapah Datuk Darah Putih. Berhubung hari sudah sore, mereka pun memutuskan untuk beristirahat semalam di Pulau Berhala.
Keesokan harinya, Datuk Darah Putih bersama pasukannya kembali ke istana kerajaan. Sesampainya di istana, mereka disambut oleh keluarga istana dan rakyat negeri dengan perasaan duka cita. Banyak orang yang iba melihat kondisi Datuk Darah Putih yang terluka parah. Mengetahui suaminya datang, dengan perasaan tenang dan tabah, istri Datuk Darah Putih menaruh bayinya di atas tempat tidur, lalu segera menyongsong ikut memapah suaminya dan mendekatkannya pada bayi mereka yang lahir dua hari sebelumnya.
“Kanda, Anak kita laki-laki. Lihatlah! Dia tampan seperti Kanda,” ujar sang Istri menghibur suaminya.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki dan dengan dibantu istrinya, Datuk Darah Putih mengangkat bayinya, kemudian mendekap dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, ia meletakkan bayi itu di pangkuan istrinya.
“Maafkan Kanda, Dinda! Tolong rawatlah anak kita baik-baik!” pinta Datuk Darah Putih dengan suara pelan.
Setelah itu, Datuk Darah Putih duduk di lantai rumahnya, lalu membaringkan tubuhnya dengan pelan. Pada saat tubuhnya terbaring itulah Datuk Darah Putih menghembuskan napasnya yang terakhir. Sang Istri hanya bisa pasrah, karena ia sadar semua itu merupakan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa.
* * *
Demikian cerita Datuk Darah Putih dari daerah Jambi. Cerita di atas termasuk mitos yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik adalah pentingnya seorang pemimpin yang baik. Sifat ini tampak pada sikap dan perilaku Datuk Darah Putih. Ia senantiasa memberi semangat dan suri  teladan kepada prajuritnya. Meskipun dalam keadaan terluka, ia tetap bersemangat memimpin pasukannya dalam melawan pasukan Belanda.
Dalam kehidupan orang Melayu, pemimpin yang baik sangatlah diutamakan. Untuk itu, mereka selalu berusaha mengangkat pemimpin yang lazim disebut “orang yang dituakan” oleh masyarakat dan kaumnya. Pemimpin ini diharapkan mampu membimbing, melindungi, menjaga, dan menuntun kaumnya (Tenas Effendy, 2006: 653). Dalam tunjuk ajar Melayu banyak disebutkan tentang acuan dasar bagi seorang pemimpin yang baik, di antaranya:
yang dikatakan pemimpin,
mau manampin tahan berlenjin
mau bersakit tahan bersempit
mau berteruk tahan terpuruk
mau berhimpit tahan belengit
mau bersusah tahan berlelah
mau berpenat tahan bertenat
mau berkubang tahan bergumbang
mau bertungkus lumus tahan tertumus
mau ke tengah tahan menepi
mau bersusah tahan merugi

NAMA LEMPUR, TEBAT GELANG, DAN TEBAT JAMBI

Lempur, Tebat Gelang, dan Tebat Jambi merupakan tiga nama daerah yang terletak di wilayah Provinsi Jambi. Keberadaan nama ketiga daerah tersebut terkait dengan cerita seorang putri yang durhaka terhadap ibunya. Siapakah putri itu dan bagaimana ia durhaka kepada ibunya? Berikut kisahnya dalam cerita Asal Mula Nama Lempur, Tebat Gelang, dan Tebat Jambi.
* * *
Dahulu, di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, terdapat sebuah kerajaan bernama Kerajaan Puncak Tiga Kaum. Dinamakan demikian karena kerajaan ini dipimpin oleh tiga orang bersaudara, yaitu si sulung Pamuncak Rencong Talang, si tengah Pamuncak Tanjung Sari, dan si  bungsu Pamuncak Koto Tapus. Wilayah Kerajaan Puncak Tiga Kaum sangat luas dan subur sehingga untuk mengelolanya, ketiga saudara ini membagi wilayah kerajaan menjadi 3 bagian. Masing-masing mendapat bagian tersendiri dan berhak mengatur wilayah beserta rakyat di dalamnya. Meskipun wilayah Kerajaan Puncak Tiga Kaum terbagi menjadi 3 bagian, namun segala urusan kerajaan senantiasa mereka selesaikan dengan jalan musyawarah dan saling membantu.
Pamuncak Rencong Talang dan kedua adiknya merupakan pemimpin yang adil dan bijaksana. Kepemimpinan tersebut membuat rakyat hidup makmur, aman, dan tenteram. Sudah menjadi kebiasaan, jika suatu daerah akan menanam atau saat musim panen tiba, mereka mengadakan upacara kenduri. Kenduri yang diadakan setelah panen dinamakan Kenuhei Sudeah Nuea. Acara keduri tersebut biasanya dihelat sangat meriah. Mereka mengundang warga dari daerah lain beserta para pemuka masyarakat yang terdapat di daerah tersebut.
Suatu ketika, daerah Pamuncak Rencong Talang sedang panen padi dan memperoleh hasil yang melimpah. Ia pun bermaksud mengadakan pesta kenduri Kenuhei Sudeah Nuea.
“Wahai, saudara-saudara sekalian. Hasil panen kita tahun ini cukup melimpah. Sebagai ucapan syukur atas nikmat ini, maka acara kenduri Kenuhei Sudeah Nuea akan segera kita laksanakan,” ungkap Pamuncak Rencong Talang, “Tolong siapkan segala sesuatu yang diperlukan, termasuk undangan untuk para tamu!”
“Baik, Paduka,” kata para pemuka masyarakat serentak.
Persiapan upacara kenduri Kenuhei Sudeah Nuea pun segera dilaksanakan. Seluruh rakyat daerah itu terlihat sibuk. Pamuncak Rencong Talang juga melayangkan undangan kepada saudaranya, Pamuncak Tanjung Sari dan Pamuncak Koto Tapus, beserta seluruh kerabatnya. Acara kenduri rencananya akan berlangsung selama tiga hari. Hari pertama, khusus untuk undangan dari luar daerah, hari kedua untuk keluarga para pamuncak daerah dan orang-orang tua, dan hari ketiga khusus untuk para pemuda dan pemudi.
Waktu acara kenduri Kenuhei Sudeah Nuea telah tiba. Pada hari pertama, para tamu undangan dari luar daerah mulai berdatangan. Acara itu berlangsung tertib, aman, dan meriah. Memasuki hari kedua, para tamu undangan dari keluarga para pamuncak juga hadir. Pamuncak Koto Talang hadir bersama keluarga dan beberapa pengawalnya. Sementara itu, Pamuncak Tanjung Sari hanya didampingi oleh para punggawanya.
Pada hari ketiga, putri Pamuncak Tanjung Sari yang cantik pun hadir dengan didampingi oleh ibunya. Saat memasuki tempat pesta, sang Putri menjadi pusat perhatian para pemuda. Di kursi deretan paling belakang, tampak dua pemuda sedang berbisik-bisik membicarakan kecantikan gadis itu.
“Hai, siapa gadis cantik itu? Apa kamu mengenalnya?” bisik seorang pemuda kepada temannya.
“Entahlah. Aku pun belum pernah melihat gadis itu sebelumnya,“ jawab pemuda yang kedua, “Tapi, melihat penampilannya, gadis itu bukan dari golongan orang biasa.”
“Hmmm... jangan-jangan dia adalah keluarga Pamuncak Rencong Talang,” kata pemuda pertama tadi.
Sementara acara kenduri berlangsung, ibu sang Putri berkumpul bersama keluarga Pamuncak Rencong Talang. Ia sengaja tidak bergabung bersama putrinya karena acara itu khusus untuk kaum muda-mudi. Acara itu berlangsung sangat meriah. Semua undangan turut menikmati berbagai hidangan dan acara pertunjukan seni yang digelar malam itu. Saking asyiknya, mereka tidak menyadari jika ayam sudah berkokok pertanda hari sudah pagi.
Ibu sang putri segera bergegas ke tempat acara untuk mengajak putrinya pulang. Ia khawatir kalau putrinya jatuh sakit akibat kurang tidur.
ldquo;Putriku, ayo kita pulang!” bujuk sang ibu.
Sang putri tidak menghiraukan ajakan ibunya. Ia masih saja asyik menikmati pesta itu bersama tamu undangan lainnya. Karena tidak dihiraukan, sang ibu pun kembali berkumpul bersama keluarga Pamuncak Rencong Talang. Selang beberapa saat kemudian, ia kembali ke tempat pesta itu untuk memanggil putrinya.
“Ayo putriku, kita pulang! Hari sudah siang,” bujuk sang ibu.
Lagi-lagi sang putri tidak menghiraukan ajakan ibunya. Bahkan, ia merasa terganggu oleh ajakan ibunya. Salah seorang pemuda yang duduk bersamanya pun bertanya kepada sang putri.
“Hai, Putri. Siapa gerangan perempuan tua itu?” tanya pemuda itu.
“Oooh... perempuan tua itu pembantuku,” jawab sang putri.
Jawaban dari sang putri terdengar hingga ke telinga sang ibu. Tak disangka putri kesayangannya tega berkata seperti itu. Hatinya sakit sekali bagai diiris sembilu. Putri yang amat disayanginya itu tidak mengakuinya sebagai ibu.
“Oh, Tuhan. Ampunilah dosa-dosa, Putriku!” doa sang ibu.
Setelah acara selesai, istri Pamuncak Tanjung Sari beserta putrinya berpamitan pada keluarga Pamuncak Rencong Talang untuk pulang ke daerahnya. Perjalanan pulang memerlukan waktu yang lama karena jauhnya jarak ke rumah. Mereka harus melewati lembah, perbukitan, sawah, dan ladang. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan rombongan pemuda yang bersama sang putri tadi malam. Karena kelelahan, kedua rombongan itu memutuskan untuk beristirahat bersama-sama di suatu tempat. Pada saat istirahat, pemuda itu kembali bertanya kepada sang putri.
“Maaf, Putri. Siapa sebenarnya perempuan tua yang selalu bersamamu itu?” tanya pemuda itu.
“Bukankah sudah ku katakan kalau dia itu pembantuku?” jawab sang putri.
Mendengar jawaban putrinya kepada pemuda itu, sang ibu diam saja. Namun, di dalam hatinya terpendam perasaan sakit yang begitu pedih. Usai beristirahat, mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di suatu daerah antara Pulau Sangkar dan Lolo, yaitu daerah yang dipenuhi oleh rawa-rawa. Pada saat itulah, sang ibu yang merasa sakit hati berdoa kepada Tuhan agar putrinya yang durhaka itu ditelan oleh lumpur rawa yang akan mereka lalui.
Doa sang ibu yang tulus itu dikabulkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Begitu sang putri melalui rawa, kakinya terjebak lumpur rawa. Semakin lama, lumpur rawa itu terus menyedot sang putri hingga hampir tenggelam. Putri durhaka itu pun meraung-raung meminta tolong kepada ibunya.
“Ibu... Ibu... tolong aku!” teriak sang putri.
“Aku bukan ibumu, aku hanyalah pembantumu yang sudah tua dan jelek,” jawab ibunya.
Sang putri terus berteriak meminta pertolongan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
“Maafkan aku, Bu! Aku berjanji tidak akan durhaka lagi kepada Ibu,” kata sang putri.
Menyesal kemudian tiadalah guna, sang ibu sudah terlanjur sakit hati. Ia pun tidak menghiraukan permintaan putrinya. Ketika melihat putrinya sudah tenggelam sampai sebatas dagu, sang ibu cepat-cepat mendekati putrinya, namun bukan untuk menolong, melainkan mengambil perhiasan berupa gelang dan sehelai songket (selendang khas Jambi) yang dikenakan putrinya. Begitu ia selesai mengambil barang-barang tersebut, sang putri pun tenggelam ke dalam lumpur rawa. Sejak itulah, daerah itu dinamakan Lempur, yaitu diambil dari kata lumpur.
Setelah itu, sang ibu melanjutkan perjalanan. Setibanya di sebuah tempat, ia beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Saat melihat sebuah tebat (kolam), ia kemudian mendekati kolam itu untuk membasuh badan dan mukanya. Ketika hendak membasuh mukanya, tiba-tiba gelang milik putrinya terjatuh. Gelang itu mengingatkan pada putrinya yang telah meninggal dunia. Agar tidak terus menerus teringat pada putrinya, ia akhirnya membuang gelang itu ke dalam tebat. Sejak itulah, tempat tersebut dinamakan Tebat Gelang.
Usai beristirahat, istri Pamuncak Tanjung Sari itu kembali melanjutkan perjalanan. Setiba di sebuah tempat yang ada kolamnya, ia kembali beristirahat. Ketika ia hendak membasuh badan, tiba-tiba selendang songket milik putrinya yang dikalungkan di lehernya terjatuh. Perempuan tua itu pun kembali teringat pada putrinya. Agar bayangan putrinya tidak mengganggunya lagi, ia pun membuang selendang khas Jambi itu ke dalam tebat. Tempat tersebut kemudian dinamakan Tebat Jambi.
* * *
Demikian cerita Asal Mula Nama Lempur, Tebat Gelang, dan Tebat Jambi dari Provinsi Jambi. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah seorang anak wajib menghormati dan menghargai ibunya. Sikap ini bisa diwujudkan dalam bentuk perkataan maupun perbuatan yang baik sehingga tidak menyakiti perasaan sang bunda.

RAJA JAMBI PENAKLUK HANTU PIRAU

Raja Jambi dalam cerita ini adalah Raja Jambi Pertama yang berasal dari negeri Keling (India). Pada suatu ketika, Negeri Jambi dikacaukan oleh Hantu Pirau. Seluruh warga menjadi resah, karena mereka tidak bisa keluar rumah mencari nafkah. Bagaimana Raja Jambi menaklukkan Hantu Pirau itu? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau berikut.
* * *
Alkisah, di Negeri Jambi, ada seorang raja yang terkenal sakti mandraguna. Ia adalah Raja Jambi Pertama yang berasal dari Negeri Keling. Selain sakti mandraguna, ia juga terkenal arif dan bijaksana. Ia senantiasa memikirkan nasib dan mengutamakan kepentingan rakyatnya. Keadaan ini membuat rakyat tenang dalam melakukan pekerjaan sehari-hari mencari nafkah. Itulah sebabnya, ia sangat disegani oleh seluruh rakyatnya.
Pada suatu ketika, suasana tenang tersebut tiba-tiba terusik oleh kedatangan Hantu Pirau. Ia selalu datang menakut-nakuti anak-anak kecil yang sedang bermain dan mengganggu bayi-bayi yang sedang tidur. Jika melihat bayi ataupun anak-anak kecil, Hantu Pirau suka tertawa terkekeh-kekeh kegirangan, sehingga anak-anak menjadi ketakutan dan bayi-bayi pun menangis. Namun, jika para orangtua menjaga anak-anak mereka, hantu itu tidak berani datang mengganggu. Oleh karenanya, para orangtua setiap saat harus selalu menjaga anak-anak mereka baik ketika sedang bermain maupun tidur di buaian. Keadaan tersebut membuat warga menjadi resah, karena mereka tidak bisa keluar rumah untuk pergi mencari nafkah.
Melihat keadaan itu, para pemimpin masyarakat dari Tujuh Koto, Sembilan Koto, dan Batin Duo Belas atau yang lazim disebut Dubalang Tujuh, Dubalang Sembilan, dan Dubalang Duo Belas, mencoba mengusir hantu tersebut dengan membacakan segala macam mantra yang mereka kuasai. Namun, semuanya sia-sia. Bahkan, kelakuan hantu itu semakin menjadi-jadi. Hampir setiap saat, baik siang maupun malam, ia selalu datang mengganggu anak-anak hingga menangis dan menjerit-jerit ketakutan.
“Segala cara sudah kita lakukan, tapi Hantu Pirau itu tetap saja tidak mau enyah dari negeri ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dubalang Tujuh bingung.
“Bagaimana kalau kejadian ini kita sampaikan kepada raja?” usul Dubalang Sembilan.
“Aku setuju. Bukankah beliau seorang raja yang sakti mandraguna?” sahut Dubalang Duo Belas.
“Baiklah kalau begitu! Ayo kita bersama-sama pergi menghadap kepada raja,” kata Dubalang Tujuh.
Setelah mendapat kata mufakat, akhirnya ketiga dubalang tersebut segera menghadap Raja Negeri Jambi. Sesampainya di istana, mereka pun segera melaporkan semua peristiwa yang sedang menimpa negeri mereka.
“Ampun, Baginda! Kami ingin melaporkan sesuatu kepada Baginda,” kata Dubalang Dua Belas.
“Katakanlah! Apakah gerangan yang terjadi di negeri ini, wahai Dubalang?” tanya Raja Jambi ingin tahu.
“Ampun Baginda! Beberapa hari ini, Hantu Pirau selalu datang mengganggu anak-anak kami. Mula-mula mereka merasa geli dan tertawa, tapi lama-kelamaan mereka menangis dan menjerit ketakutan,” jawab Dubalang Duo Belas.
“Ampun, Baginda! Kami sudah melakukan berbagai cara, namun Hantu Pirau itu selalu saja datang mengganggu mereka,” tambah Dubalang Sembilan.
“Bagaimana bentuk dan rupa Hantu Pirau itu? Apakah kalian pernah melihatnya?” tanya Raja Jambi.
Belum Baginda! Kami hanya sering mendengar suara gelak tawanya kegirangan ketika anak-anak itu menangis dan menjerit-jerit,” jawab Dubalang Duo Belas.
Mendengar laporan para dubalang tersebut, Raja Jambi tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang lebat dan sudah mulai memutih. Ia kemudian beranjak dari singgasananya lalu berjalan mondar-mandir.
“Baiklah kalau begitu. Pulanglah ke negeri kalian dan sampaikan kepada seluruh warga yang pandai membuat lukah agar masing-masing orang membuat sebuah lukah!” titah Raja Negeri Jambi.
“Ampun, Baginda! Untuk apa lukah itu? Bukankah sekarang belum musim berkarang (mencari ikan)?” tanya Duabalang Duo Belas dengan penuh keheranan.
“Sudahlah, laksanakan saja apa yang aku perintahkan tadi! Jangan lupa, setelah lukah-lukah tersebut selesai, segeralah memasangnya di atas bukit dengan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang kuat. Setelah itu, setiap pagi dan sore kalian bergiliran ke atas bukit untuk melihat lukah-lukah tersebut!” perintah sang Raja.
Mendengar penjelasan sang Raja, ketiga dubalang itu langsung mohon diri untuk melaksanakan perintah. Tak satu pun dari mereka yang berani kembali bertanya kepada raja. Dalam perjalanan pulang, mereka terus bertanya-tanya dalam hati tentang perintah sang Raja.
Sesampainya di negeri masing-masing, ketiga dulabang itu langsung menyampaikan perintah raja kepada seluruh warganya. Para warga hanya terheran-heran ketika menerima perintah itu. Ketika bertanya kepada ketiga dubalang, mereka tidak mendapat jawaban yang pasti. Sebab ketiga dubalang itu juga tidak mengetahui maksud sang Raja. Namun karena itu adalah perintah raja, para warga pun segera membuat lukah, meskipun dalam hati mereka selalu bertanya-tanya. Lukah-lukah tersebut kemudian mereka pasang di atas bukit yang tak jauh dari permukiman penduduk. Setiap pagi dan sore ketiga dubalang itu secara bergiliran naik ke atas bukit untuk melihat dan memeriksa lukah-lukah tersebut. Pada hari pertama, kedua, ketiga hingga hari keenam, belum menunjukkan adanya tanda-tanda yang mencurigakan.
Pada hari ketujuh di pagi hari, Dubalang Duo Belas mendapat giliran naik ke atas bukit untuk memeriksa lukah-lukah tersebut. Alangkah terkejutnya saat ia berada di atas bukit. Ia melihat sesuatu menggelepar-gelepar di dalam sebuah lukah. Bentuknya menyerupai manusia, tetapi kecil. Makhluk itu juga dapat berbicara seperti manusia. Ketika Dubalang Duo Belas mendekat, makhluk aneh itu mengeluarkan suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.
“Hei, sepertinya aku sering mendengar suara itu. Bukankah itu suara Hantu Pirau yang sering mengganggu anak-anak kecil?” tanya Dubalang Duo Belas dalam hati.
Setelah memastikan bahwa suara itu benar-benar Hantu Pirau, maka yakinlah ia bahwa makhluk yang terperangkap dalam lukah itu pastilah Hantu Pirau. Ia pun segera melaporkan hal itu kepada Raja Negeri Jambi.
“Ampun, Baginda! Hamba baru saja dari bukit itu. Hamba menemukan seekor makhluk yang terperangkap ke dalam lukah. Apakah dia itu Hantu Pirau?” tanya Dubalang Duo Belas.
“Benar, dubalang! Bawalah Hantu Pirau itu kemari!” titah sang Raja.
“Baik, Baginda! Hamba laksanakan!” ucap Dubalang Duo Belas seraya berpamitan.
Sebelum menuju ke atas bukit, ia mengajak Dubalang Sembilan dan Dubalang Tujuh untuk bersama-sama mengambil lukah tersebut. Setelah membuka tali pengikat lukah dari tonggak, ketiga dubalang tersebut membawa lukah yang berisi Hantu Pirau itu ke hadapan sang Raja.
“Sudah tahukah kalian, wahai dubalang! Makhluk inilah yang bernama Hantu Pirau yang sering menganggu anak-anak kecil,” ungkap sang Raja.
“Mengerti Baginda!” jawab ketiga dubalang itu serentak.
“Pengawal! Siapkan pedang yang tajam! Aku akan memotong-motong tubuh hantu ini,” perintah sang Raja kepada seorang pengawal.
Mendengar ancaman tersebut, Hantu Pirau itu pun langsung memohon ampun kepada Raja Negeri Jambi.
“Ampun, Tuan! Janganlah bunuh hamba! Jika Tuan sudi melepaskan hamba dari lukah ini, hamba akan memenuhi segala permintaan Tuan. Bukankah Tuan adalah Raja yang arif dan bijaksana?”
“Baiklah, kalau begitu! Aku hanya ada dua permitaan. Pertama, setelah keluar dari lukah ini, tinggalkan negeri ini dan jangan pernah kembali mengganggu wargaku lagi, terutama anak-anak kecil. Kedua, serahkan cincin pinto-pinto (pinta-pinta, yakni cincin sakti, apo yang kuminta harus ado) itu kepadaku!” kata sang Raja.
Hantu Pirau pun langsung menyanggupi permintaan Raja Jambi. Setelah dikeluarkan dari lukah, ia pun segera menyerahkan cincin pinto-pinto nya kepada sang Raja, lalu pergi meninggalkan Negeri Jambi. Sejak itu, Negeri Jambi tidak pernah lagi diganggu oleh Hantu Pirau. Keadaan negeri kembali aman, damai dan tenang. Seluruh penduduk kembali melakukan pekerjaan mereka sehari-hari dengan perasaan aman dan tenang.
Beberapa tahun setelah peristiwa Hantu Pirau itu, Raja Negeri Jambi tiba-tiba berpikir ingin membuktikan kesaktian cincin pinto-pinto pemberian Hantu Pirau. Namun karena keinginannya tidak ingin diketahui oleh rakyat Negeri Jambi, maka ia pun menyampaikan kepada rakyatnya bahwa dia akan pulang ke negerinya di Keling (India) dalam waktu beberapa lama.
Sesampai di negerinya, Raja Jambi pun segera menguji kesaktian cincin pinto-pinto itu.
“Hei cincin pinto-pinto! Jadikanlah Kota Bambay ini sebagai kota yang bertahtakan mutiara, batu permata, dan intan berlian!” pinta Raja Jambi.
Dalam waktu sekejap, suasana Kota Bombay tiba-tiba berubah menjadi gemerlap. Seluruh sudut kota dipenuhi dengan mutiara, batu permata dan intan berlian. Alangkah senang hati sang Raja melihat pemandangan yang indah dan menggiurkan itu. Ia pun enggan untuk kembali ke Negeri Jambi. Namun sebagai raja yang arif dan bijaksana, beberapa tahun kemudian ia mengutus salah seorang putranya yang bernama Sultan Baring untuk menggantikannya sebagai Raja Jambi.
Mendapat perintah itu, Sultan Baring pun segera berangkat ke Negeri Jambi bersama dengan beberapa orang pengawalnya. Sesampainya di Negeri Jambi, ia pun segera menyampaikan amanah ayahnya kepada seluruh rakyat Jambi bahwa sang Ayah tidak dapat lagi memerintah Negeri Jambi karena sudah tua. Setelah itu, ia membacakan surat pengangkatannya sebagai Raja Jambi Kedua setelah ayahnya. Rakyat Jambi pun menyambutnya dengan gembira, karena ia juga seorang Raja yang arif dan bijaksana seperti ayahnya. Konon, Sultan Baring inilah yang menurunkan raja-raja, sultan-sultan maupun raden-raden berikutnya, seperti Sultan Taha Saifuddin dan Raden Ino Kartopati.
* * *
Demikian cerita Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau dari daerah Jambi, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat diambil dari cerita di atas adalah keutamaan sifat musyawarah mufakat untuk mengatasi segala permasalahan. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Dubalang Tujuh, Dubalang Sembilan, dan Dubalang Duo Belas. Ketika sudah tidak sanggup mengatasi Hantu Pirau, mereka segera bermusyawarah untuk mencari jalan keluar. Dalam kehidupan orang Melayu, musyawarah dan mufakat sangatlah dijunjung tinggi, dihormati dan dimuliakan, karena dengan musyawarah segala kesulitan yang dihadapi mudah untuk diselesaikan. Dikatakan dalam tunjuk Aja Melayu:
apa tanda hidup berilmu,
manfaat mufakat ianya tahu
duduk berunding bersanding bahu
sebelum melangkah memberi tahu
sebelum terlanjur mencari guru
sebelum menyalah bertanya dahulu
Pelajaran lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa ilmu pengetahuan sangatlah penting dalam kehidupan manusia, karena dengan ilmu pengetahuan segala kesulitan dapat diatasi dengan mudah. Oleh karenanya, setiap orang dituntut untuk rajin belajar agar mempunyai pengetahuan yang luas. Menurut orang tua-tua Melayu, manfaat ilmu pengetahuan bukan saja untuk kepentingan pribadi, juga bermanfaat bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Itulah sebabnya, dalam kehidupan orang Melayu, menuntut ilmu pengetahuan sangatlah diutamakan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
wahai ananda dengarlah pesan,
menuntut ilmu engkau utamakan
banyakan amal kuatkan iman
supaya dirimu dikasihi Tuhan

bertuah parang karena hulunya,
bulu dikepal elok terasa
bertuah orang karena ilmunya
ilmu diamalkan hidup sentosa

PUTRI TANGGUK

Putri Tangguk adalah seorang petani yang tinggal di Negeri Bunga Tanjung, Kecamatan Danau Kerinci, Provinsi Jambi, Indonesia. Ia memiliki sawah hanya seluas tangguk, tetapi mampu menghasilkan padi yang sangat melimpah. Pada suatu hari, Putri Tangguk dikejutkan dengan sebuah peristiwa aneh di sawahnya. Ia mendapati tanaman padinya telah berubah menjadi rerumputan tebal. Mengapa tanaman padi Putri Tangguk secara ajaib berubah menjadi rumput? Temukan jawabannya dalam cerita Putri Tangguk berikut ini!
* * *
Alkisah, di Negeri Bunga, Kecamatan Danau Kerinci Jambi, ada seorang perempuan bernama Putri Tangguk. Ia hidup bersama suami dan tujuh orang anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia bersama suaminya menanam padi di sawahnya yang hanya seluas tangguk. Meskipun hanya seluas tangguk, sawah itu dapat menghasilkan padi yang sangat banyak. Setiap habis dipanen, tanaman padi di sawahnya muncul lagi dan menguning. Dipanen lagi, muncul lagi, dan begitu seterusnya. Berkat ketekunannya bekerja siang dan malam menuai padi, tujuh lumbung padinya yang besar-besar sudah hampir penuh. Namun, kesibukan itu membuatnya lupa mengerjakan pekerjaan lain. Ia terkadang lupa mandi sehingga dakinya dapat dikerok dengan sendok. Ia juga tidak sempat bersilaturahmi dengan tetangganya dan mengurus ketujuh orang anaknya.
Pada suatu malam, saat ketujuh anaknya sudah tidur, Putri Tangguk berkata kepada suaminya yang sedang berbaring di atas pembaringan.
“Bang! Adik sudah capek setiap hari menuai padi. Adik ingin mengurus anak-anak dan bersilaturahmi ke tetangga, karena kita seperti terkucil,” ungkap Putri Tangguk kepada suaminya.
“Lalu, apa rencanamu, Dik?” tanya suaminya dengan suara pelan.
“Begini Bang! Besok Adik ingin memenuhi ketujuh lumbung padi yang ada di samping rumah untuk persediaan kebutuhan kita beberapa bulan ke depan,” jawab Putri Tangguk.
“Baiklah kalau begitu. Besok anak-anak kita ajak ke sawah untuk membantu mengangkut padi pulang ke rumah,” jawab suaminya.
Ya, Bang!” jawab Putri Tangguk.
Beberapa saat kemudian, mereka pun tertidur lelap karena kelelahan setelah bekerja hampir sehari semalam. Ketika malam semakin larut, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Hujan itu baru berhenti saat hari mulai pagi. akibatnya, semua jalan yang ada di kampung maupun yang menuju ke sawah menjadi licin.
Usai sarapan, Putri Tangguk bersama suami dan ketujuh anaknya berangkat ke sawah untuk menuai padi dan mengangkutnya ke rumah. Dalam perjalanan menuju ke sawah, tiba-tiba Putri Tangguk terpelesat dan terjatuh. Suaminya yang berjalan di belakangnya segera menolongnya. Walau sudah ditolong, Putri Tangguk tetap marah-marah.
“Jalanan kurang ajar!” hardik Putri Tangguk.
“Baiklah! Padi yang aku tuai nanti akan aku serakkan di sini sebagai pengganti pasir agar tidak licin lagi,” tambahnya.
Setelah menuai padi yang banyak, hampir semua padi yang mereka bawa diserakkan di jalan itu sehingga tidak licin lagi. Mereka hanya membawa pulang sedikit padi dan memasukkannya ke dalam lumbung padi. Sesuai dengan janjinya, Putri Tangguk tidak pernah lagi menuai padi di sawahnya yang seluas tangguk itu. Kini, ia mengisi hari-harinya dengan menenun kain. Ia membuat baju untuk dirinya sendiri, suami, dan untuk anak-anaknya. Akan tetapi, kesibukannya menenun kain tersebut lagi-lagi membuatnya lupa bersilaturahmi ke rumah tetangga dan mengurus ketujuh anaknya.
Pada suatu hari, Putri Tangguk keasyikan menenun kain dari pagi hingga sore hari, sehingga lupa memasak nasi di dapur untuk suami dan anak-anaknya. Putri Tangguk tetap saja asyik menenun sampai larut malam. Ketujuh anaknya pun tertidur semua. Setelah selesai menenun, Putri Tangguk pun ikut tidur di samping anak-anaknya.
Pada saat tengah malam, si Bungsu terbangun karena kelaparan. Ia menangis minta makan. Untungnya Putri Tangguk dapat membujuknya sehingga anak itu tertidur kembali. Selang beberapa waktu, anak-anaknya yang lain pun terbangun secara bergiliran, dan ia berhasil membujuknya untuk kembali tidur. Namun, ketika anaknya yang Sulung bangun dan minta makan, ia bukan membujuknya, melainkan memarahinya.
“Hei, kamu itu sudah besar! Tidak perlu dilayani seperti anak kecil. Ambil sendiri nasi di panci. Kalau tidak ada, ambil beras dalam kaleng dan masak sendiri. Jika tidak ada beras, ambil padi di lumbung dan tumbuk sendiri!” seru Putri Tangguk kepada anak sulungnya.
Oleh karena sudah kelaparan, si Sulung pun menuruti kata-kata ibunya. Namun, ketika masuk ke dapur, ia tidak menemukan nasi di panci maupun beras di kaleng.
“Bu! Nasi dan beras sudah habis semua. Tolonglah tumbukkan dan tampikan padi!” pinta si Sulung kepada ibunya.
“Apa katamu? Nasi dan beras sudah habis? Seingat ibu, masih ada nasi dingin di panci sisa kemarin. Beras di kaleng pun sepertinya masih ada untuk dua kali tanak. Pasti ada pencuri yang memasuki rumah kita,” kata Putri Tangguk.
“Ya, sudahlah kalau begitu. Tahan saja laparnya hingga besok pagi! Ibu malas menumbuk dan menampi beras, apalagi malam-malam begini. Nanti mengganggu tetangga,” ujar Putri Tangguk.
Usai berkata begitu, Putri Tangguk tertidur kembali karena kelelahan setelah menenun seharian penuh. Si Sulung pun kembali tidur dan ia harus menahan lapar hingga pagi hari.
Keesokan harinya, ketujuh anaknya bangun dalam keadaan perut keroncongan. Si Bungsu menangis merengek-rengek karena sudah tidak kuat menahan lapar. Demikian pula, keenam anaknya yang lain, semua kelaparan dan minta makan. Putri Tangguk pun segera menyuruh suaminya mengambil padi di lumbung untuk ditumbuk. Sang Suami pun segera menuju ke lumbung padi yang berada di samping rumah. Alangkah terkejutnya sang Suami saat membuka salah satu lumbung padinya, ia mendapati lumbungnya kosong.
“Hei, ke mana padi-padi itu?” gumam sang Suami.
Dengan perasaan panik, ia pun memeriksa satu per satu lumbung padinya yang lain. Namun, setelah ia membuka semuanya, tidak sebutir pun biji padi yang tersisa.
“Dik...! Dik...! Cepatlah kemari!” seru sang Suami memanggil Putri Tangguk.
“Ada apa, Bang?” tanya Putri Tangguk dengan perasaan cemas.
“Lihatlah! Semua lumbung padi kita kosong. Pasti ada pencuri yang mengambil padi kita,” jawab sang Suami.
Putri Tangguk hanya ternganga penuh keheranan. Ia seakan-akan tidak percaya pada apa yang baru disaksikannya.
“Benar, Bang! Tadi malam pencuri itu juga mengambil nasi kita di panci dan beras di kaleng,” tambah Putri Tangguk.
“Tapi, tidak apalah, Bang! Kita masih mempunyai harapan. Bukankah sawah kita adalah gudang padi?” kata Putri Tangguk.
Usai berkata begitu, Putri Tangguk langsung menarik tangan suaminya lalu berlari menuju ke sawah. Sesampai di sawah, alangkah kecewanya Putri Tangguk, karena harapannya telah sirna.
“Bang! Pupuslah harapan kita. Lihatlah sawah kita! Jangankan biji padi, batang padi pun tidak ada. Yang ada hanya rumput tebal menutupi sawah kita,” kata Putri Tangguk.
Sang Suami pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya tercengang penuh keheranan menyaksikan peristiwa aneh itu. Dengan perasaan sedih, Putri Tangguk dan suaminya pulang ke rumah. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Selama dalam perjalanan, Putri Tangguk mencoba merenungi sikap dan perbuatannya selama ini. Sebelum sampai di rumah, teringatlah ia pada sikap dan perlakuannya terhadap padi dengan menganggapnya hanya seperti pasir dan menyerakkannya di jalan yang becek agar tidak licin.
“Ya... Tuhan! Itukah kesalahanku sehingga kutukan ini datang kepada kami?” keluh Putri Tangguk dalam hati.
Sesampainnya di rumah, Putri Tangguk tidak dapat berbuat apa-apa. Seluruh badannya terasa lemas. Hampir seharian ia hanya duduk termenung. Pada malam harinya, ia bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua berjenggot panjang mengenakan pakaian berwarna putih.  
“Wahai Putri Tangguk! Aku tahu kamu mempunyai sawah seluas tangguk, tetapi hasilnya mampu mengisi dasar Danau Kerinci sampai ke langit. Tetapi sayang, Putri Tangguk! Kamu orang yang sombong dan takabbur. Kamu pernah meremehkan padi-padi itu dengan menyerakkannya seperti pasir sebagai pelapis jalan licin. Ketahuilah, wahai Putri Tangguk...! Di antara padi-padi yang pernah kamu serakkan itu ada setangkai padi hitam. Dia adalah raja kami. Jika hanya kami yang kamu perlakukan seperti itu, tidak akan menjadi masalah. Tetapi, karena raja kami juga kamu perlakukan seperti itu, maka kami semua marah. Kami tidak akan datang lagi dan tumbuh di sawahmu. Masa depan kamu dan keluargamu akan sengsara. Rezekimu hanya akan seperti rezeki ayam. Hasil kerja sehari, cukup untuk dimakan sehari. Kamu dan keluargamu tidak akan bisa makan jika tidak bekerja dulu. Hidupmu benar-benar akan seperti ayam, mengais dulu baru makan....” ujar lelaki tua itu dalam mimpi Putri Tangguk.
Putri Tangguk belum sempat berkata apa-apa, orang tua itu sudah menghilang. Ia terbangun dari tidurnya saat hari mulai siang. Ia sangat sedih merenungi semua ucapan orang tua yang datang dalam mimpinya semalam. Ia akan menjalani hidup bersama keluarganya dengan kesengsaraan. Ia sangat menyesali semua perbuatannya yang sombong dan takabbur dengan menyerakkan padi untuk pelapis jalan licin. Namun, apalah arti sebuah penyesalan. Menyesal kemudian tiadalah guna.
* * *
Demikian cerita Putri Tangguk dari Provinsi Jambi. Cerita di atas tergolong mitos yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Di kalangan masyarakat Jambi, mitos ini sering dijadikan nasihat orang tua kepada anak-anaknya agar tidak menyia-nyiakan padi.
Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keburukan sifat sombong dan takabbur. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Putri Tangguk yang telah meremehkan padi dengan cara menyerakkannya di jalan yang licin sebagai pengganti pasir. Akibatnya, hidupnya menjadi sengsara karena padi-padi tersebut murka kepadanya.
Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa harta dan pekerjaan dapat membuat seseorang lalai, lengah, dan tidak waspada dalam berbuat, sehingga mengakibatkan kebinasaan dan malapetaka. Orang yang memiliki sifat-sifat tersebut biasanya akan menyadari kesalahannya setelah tertimpa musibah. Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan  Melayu, “ingat setelah kena” . Hal ini tampak pada sikap dan perilaku Putri Tangguk, yang baru menyadari dan menyesali semua perbuatannya setelah tertimpa musibah, yakni padi ajaib enggan untuk kembali dan tumbuh lagi di sawahnya.