Tampilkan postingan dengan label BENGKULU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BENGKULU. Tampilkan semua postingan

LEGENDA BATU BERUMBAI

Batu Berambai adalah sebuah batu berbulu panjang yang terletak di sekitar Tapak Hitam dan Tapak Batu, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Menurut cerita, Batu Berambai tersebut merupakan penjelmaan seorang putri raja yang bernama Putri Renong Bulan. Mengapa Putri Renong Bulan menjelma menjadi Batu Berambai? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Batu Berambai berikut ini!
* * *
Alkisah, di daerah Rejang, Bengkulu ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Ratu. Ia seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan tersebut berkembang menjadi sebuah kerajaan yang aman dan makmur. Ratu mempunyai seorang putra bernama Raden Serang Irang dan seorang putri bernama Putri Renong Bulan.
Raden Serang Irang adalah seorang pangeran yang tampan dan berbudi pekerti luhur. Selain itu, ia juga mahir bermain silat dan menguasai ilmu peperangan. Tak seorang pun di negeri itu yang mampu mengalahkan kepandaiannya. Sebagai putra tertua, ia senantiasa menjaga dan melindungi adiknya. Siapa pun yang berani mengganggu sang adik, maka dia akan membelanya walaupun nyawa taruhannya.
Sementara itu, Putri Renong Bulan adalah seorang putri yang cantik nan rupawan. Wajahnya cerah dan berseri-seri memancarkan sinar keanggunan. Rambutnya panjang terurai dan berwarna hitam berkilauan. Senyumnya pun sangat manis dan murah seolah-olah memancarkan sinar kebahagiaan. Selain memiliki kecantikan yang luar biasa, Putri Renong Bulan juga memiliki sifat lemah lembut dan amat pandai menenung. Ia hampir setiap hari menghabiskan waktunya menenun kain dengan corak yang indah. Dengan segala yang dimiliki tersebut, maka tidaklah mengerankan jika sang putri menjadi kebanggaan keluarga istana.
Suatu hari, ketika Putri Renong Bulan sedang asyik menenung dan Raden Serang Irang sedang berlatih silat, tiba-tiba dipanggil oleh sang ayah untuk menghadap. Keduanya pun menghentikan kegiatan mereka dan segera memenuhi panggilan sang ayah.
“Ada apa, Ayah? Kenapa Ayah tiba-tiba memanggil kami menghadap?” tanya Raden Serang Irang penasaran.
Ratu hanya tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih.
“Begini, Putra-Putriku. Umur ayah sudah semakin tua dan tidak lama lagi Ayah akan meninggalkan kalian,” kata Ratu.
“Kenapa Ayah berkata begitu? Bukankah Ayah masih tampak sehat-sehat saja?” tanya Putri Renong Bulan heran.
“Kamu benar, Putriku. Meskipun Ayah tampak sehat, namun Ayah mempunyai firasat bahwa Ayah tidak akan lama lagi hidup di dunia ini,” ungkap Ratu, ”Oleh karena itu, jagalah diri kalian masing-masing!”
Selanjutnya, Ratu berpesan kepada putra-putrinya dengan ungkapan berikut.
“Jika ingin merasakan asin, makanlah garam!
Jika ingin merasakan pedas, makanlah cabai!”
“Kalau mau terpuji, berkelakuanlah yang baik terhadap sesama!” lanjutnya, “Putraku Serdang, jagalah adikmu baik-baik!”
“Baik, Ayah. Kami akan selalu ingat semua Ayah,” jawab Raden Serdang.
Tak berapa berselang, Ratu meninggal dunia. Seluruh keluarga istana dan rakyat negeri itu berkabung. Semuanya merasa sedih karena kehilangan seorang raja adil dan bijaksana. Namun, kesedihan tersebut tidak berlangsung lama karena tujuh hari setelah Ratu dimakamkan, Raden Serdang Irang dilantik menjadi raja. Ia seorang pemimpin yang adil dan bijaksana mewarisi sifat-sifat kempimpinan ayahnya. Bahkan, sejak menjadi raja, kerajaan tersebut mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ia rajin menjalin hubungan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan lain. Kerajaan pertama yang diajak kerjasama adalah kerajaan Sungai Lemau yang juga dipimpin oleh seorang raja muda. Kedua raja muda itu saling mengunjungi satu sama lain ke kerajaan masing-masing.
Suatu hari, ketika berkunjung ke kerajaan Raja Serdang, Raja Sungai Lemau bertemu dengan Putri Renong Bulan. Ia terpesona melihat kencatikan dan kemolekan perangai sang Putri. Sejak itulah, Raja Sungai Lemau jatuh hati dan berniat untuk melamar Putri Renong Bulan. Maka disampaikanlah niat itu kepada Raden Serdang.
“Wahai, sahabatku! Bagaimana kalau hubungan persahabatan ini kita lebih dekatkan lagi?” pinta Raja Sungai Lemau.
Raja Serdang pun mengerti maksud pertanyaan sahabatnya itu. Namun, ia tidak bisa langsung menjawabnya.
“Maaf, saudaraku. Saya tidak berhak menjawab pertanyaan itu,” ucap Raja Serdang, “Menurut adat di negeri ini, yang bersangkutanlah yang berhak menjawabnya. Oleh karena itu, saya akan menanyakan hal ini kepada Putri Renong Bulan.”
Saat ditanya, Putri Renong Bulan hanya diam. Hal ini menandakan bahwa sang Putri bersedia menerima lamaran tersebut. Pada hari yang disepakati, mereka pun ditunangkan. Pernikahan mereka akan dilangsungkan pada bulan depan. Sejak bertunangan dengan sang Putri, Raja Sungai Lemau semakin rajin berkunjung ke kerajaan Raja Serdang.
Sementara itu di tempat lain, tersebutlah seorang raja yang bertahta di sebuah kerajaan besar dan megah di Pulau Perca, Aceh. Raja itu sudah lama mendengar mengenai kebesaran dan kemegahan kerajaan Raden Serdang. Tidak hanya itu, kerajaan Raden Serdang juga sudah terkenal memiliki seorang putri yang cantik jelita hingga ke berbagai negeri. Raja Pulau Perca negeri yang mendengar kabar tersebut segera mengirim utusan untuk melamar Putri Renong Bulan bagi putra mahkotanya. Utusan itu berangkat ke Rejang bersama beberapa pengawal melalui laut dan sungai dengan menggunakan kapal besar.
Setiba di istana Raja Serdang, utusan itu segera menyampaikan lamaran putra mahkota kerajaan mereka. Lamaran mereka pun langsung ditolak oleh Raja Serdang karena adiknya telah bertunangan. Rupanya, utusan raja dari Aceh itu tidak rela menerima penolakan tersebut. Mereka tetap memaksa untuk menikahkan sang putri dengan putra mahkota kerajaan mereka. Raja Serdang pun bersi-keras untuk menolak lamaran itu sehingga terjadilah pertempuran sengit antara kedua kerajaan.
Dalam pertempuran tersebut, Raden Serdang memimpin langsung pasukannya dengan gagah berani sehingga pasukan kerajaan dari Aceh tersebut terpukul mundur. Meski demikian, Raden Serdang bersama pasukannya tetap berjaga-jaga. Mereka mendirikan sebuah benteng dari aur (bambu) dan duri yang sangat kokoh mengelilingi kerajaan sehingga sulit ditembus oleh pasukan dari Aceh.
Sementara itu, pasukan kerajaan dari Aceh yang terpukul mundur tidak langsung kembali ke negerinya. Mereka tetap berada di atas kapal yang bersandar di pelabuhan. Setelah mengadakan perundingan, mereka mengirim seorang utusan untuk memata-matai Raja Serdang dan pasukannya yang sedang berjaga-jaga di sekitar benteng.
Suatu pagi, seorang perempuan dari kerajaan Raden Serdang keluar dari benteng hendak mencari ikan di sungai. Utusan yang telah menyamar sebagai penduduk setempat segera mencegat perempuan itu.
“Maaf, Bu. Bolehkah saya mengganggu sebentar?” sapa utusan itu.
“Ya, silakan! Barangkali ada yang bisa saya bantu,” jawab perempuan itu.
“Sebenarnya, apa yang amat disukai oleh penduduk di sini?” tanya utusan itu.
Dengan polosnya, perempuan itu pun menjawab bahwa penduduk Negeri Rejang amat menyukai uang. Setelah itu, perempuan berlalu tanpa merasa curiga sedikit pun. Sementara itu, sang utusan segera kembali ke kapal untuk melapor kepada panglimanya. Mendengar laporan tersebut, sang panglima segera memerintahkan pasukannya memenuhi aur dan duri dengan uang kertas. Rakyat Raja Serdang yang tergiur melihat melihat uang kertas tersebut beramai-ramai menebang aur sehingga terbukalah benteng yang selama ini sulit ditembus.
Melihat hal itu, pasukan dari kerajaan Aceh tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka segera masuk ke dalam istana dan berhasil mengalahkan Raja Serdang dan pasukannya. Raja Serdang pun tewas dalam penyerangan itu, sedangkan Putri Renong Bulan berhasil ditawan. Ia pun meronta-ronta minta dilepaskan saat hendak dibawa naik ke kapal.
“Kakak Serdang, tolong aku!” teriak Putri Renong Bulan memanggil kakaknya.
“Sudahlah, Putri. Tidak akan ada lagi orang yang bisa menolongmu. Kakak dan tunanganmu sudah tewas,” ujar panglima perang Aceh.
“Pasukan! Ayo kembangkan layar kapal, kita segera tinggalkan negeri ini!” seru sang panglima.
Beberapa saat kemudian, kapal itu bergerak meninggalkan pelabuhan. Sang putri hanya bisa meratapi nasib yang menimpa kakak dan para kerabatnya. Hatinya sangat sedih dan air matanya terus menetes membasahi pipinya yang kemerah-merahan.
Begitu kapal tersebut sampai di muara sungai, sang Putri melihat Tapak Hitam dan Tapak Batu yang mengapit muara. Secara diam-diam, ia mendekati bibir kapal. Rupanya, sang Putri ingin bunuh diri karena putus.
“Daripada memberi malu, lebih baik mati bunuh diri,” ucapnya lirih.
Usai berucap demikian, sang Putri kemudian melompat dari kapal dan terjun ke dalam air. Pada saat ia melompat, rambutnya yang panjang tetap terurai. Ajaibnya, tubuh sang Putri perlahan-lahan berubah menjadi batu dengan rambut terurai. Batu penjelmaan Putri Renong Bulan itu kemudian dinamakan Batu Berambai, yang artinya batu berbulu halus dan panjang.
* * *
Demikian cerita Legenda Batu Berambai dari daerah Rejang, Bengkulu, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa keutamaan sifat setia seperti yang dimiliki oleh Putri Renong Bulan. Karena kesetiaannya kepada keluarga dan kerabatnya, ia rela mengorbankan nyawanya daripada menjadi istri seorang pangeran dari keluarga yang suka bertindak sewenang-wenang dan suka memaksakan kehendak. (Samsuni/sas/210/10-10)

KERAMAT RIAK

Keramat Riak adalah nama sebuah negeri di daerah Bengkulu, Indonesia. Pada mulanya negeri itu dihuni oleh sekolompok masyarakat yang dipimpin oleh seorang raja bernama Riak Bakau. Suatu ketika, negeri itu berubah menjadi hutan lebat dan seluruh penduduknya menjelma menjadi kera. Peristiwa apakah yang menimpa negeri itu? Ikuti kisahnya dalam cerita Keramat Riak berikut!
* * *
Suatu siang yang terik, tampak seorang kakek misterius berjalan terseok-seok sambil menggendong sebuah jala di depan paseba (pendapa) istana Keramat Riak. Kakek itu tampak begitu lelah. Rupanya, ia baru saja pulang dari sungai mencari ikan. Ia pun memutuskan untuk duduk beristirahat di depan paseba yang selalu dijaga ketat oleh dua orang prajurit. Jalanya yang memakai pemberat dari rantai emas diletakkan begitu saja di tanah. Rantai jala itu berkilau diterpa sinar matahari sehingga menarik perhatian kedua prajurit itu. Akhirnya, kedua prajurit itu menghampiri dan menyapa si kakek dengan ramah.
“Wah, jala Kakek bagus sekali,” sapa salah seorang prajurit dengan perasaan kagum.
“Iya, Tuan! Jala ini warisan nenek moyang Kakek. Setiap hari Kakek menggunakannya sebagai alat mata pencaharian Kakek,” jawab kakek itu.
“O ya, Tuan! Bolehkah saya menumpang shalat dhuhur di paseba ini,” pinta kakek itu.
“Boleh… boleh… Silakan Kek!” jawab kedua prajurit itu serentak.
Kakek itu pun masuk ke dalam paseba. Jalanya dibiarkan tergeletak di luar paseba. Saat kakek itu sedang shalat, kedua prajurit yang sejak tadi merasa penasaran segera mendekati jala itu. Setelah dicermati secara seksama, ternyata benar bahwa rantai jala itu terbuat dari emas. Namun, betapa terkejutnya mereka saat hendak mengangkat jala itu yang ternyata sangat berat dan seolah-olah menempel di tanah.
“Aneh, kenapa rantai jala ini berat sekali?” gumam salah seorang prajurit yang mencoba mengangkat jala itu. “Ayo kawan, bantu aku mengangkat jala ini!” serunya.
Kedua prajurit tersebut berusaha mengangkat jala milik si kakek secara bersama-sama. Apa yang terjadi? Jangankan terangkat, jala itu tidak bergeser sedikit pun. Melihat keanehan itu, salah seorang dari prajurit tersebut bergegas melaporkan kejadian aneh itu kepada Raja Riak Bakau di istana. Raja Riak Bakau dikenal sebagai raja yang kejam. Ia tidak segan-segan menghukum bagi siapa saja yang menentangnya.
Mendengar laporan dari prajurit itu, Raja Riak Bakau yang diiringi beberapa pengawalnya segera menemui si pemilik jala itu. Setibanya di depan paseba, kakek itu telah selesai shalat dhuhur dan bersiap-siap untuk pulang.
“Tunggu, Kek!” cegah Raja Riak Bakau.
Menyadari bahwa orang yang menegurnya itu adalah sang Raja, kakek itu segera memberi hormat seraya menjawab:
“Ampun, Baginda! Izinkanlah hamba pergi!” pinta kakek itu.
“Jangan pergi dulu, Kek! Aku ada perlu dengan Kakek,” kata Raja Riak Bakau.
“Ampun, Baginda! Ada yang bisa hamba bantu?” tanya kakek itu.
“Hai, Kakek yang budiman. Bolehkah aku memiliki jala rantai emasmu itu?” pinta Raja Riak Bakau.
“Maafkan hamba Baginda! Bukannya hamba bermaksud mengecewakan hati Baginda. Hamba belum bisa memenuhi permintaan Baginda. Jala ini satu-satunya harta warisan hamba,” ungkap kakek itu.
Mendengar jawaban itu, Raja Riak Bakau mulai kesal karena baru kali ada orang di negeri itu yang berani menolak permintaannya.
“Hai, Kakek! Ketahuilah, akulah penguasa di negeri ini. Siapa pun yang memijak tanah negeri ini harus tunduk padaku. Jika tidak, maka tahu sendirilah akibatnya,” ancam Raja Riak Bakau.
Kakek itu tidak takut terhadap ancaman itu. Ia tetap pada pendiriannya untuk tidak menyerahkan jala emasnya kepada Raja Riak Bakau. Sikap kakek itu membuat Raja Riak Bakau bertambah kesal.
“Hai, Kakek! Serahkan jalamu itu sekarang juga atau aku sendiri yang akan mengambilnya!” seru Raja Riak Bakau.
“Silakan, jika Baginda sanggup mengangkatnya,” kata kakek itu.
Raja Riak Bakau yang merasa diremehkan oleh kakek itu segera mengangkat jala rantai emas dengan segenap kekuatannya. Namun, jala itu tidak bergerak sedikit pun. Meskipun ia telah memerintahkan beberapa prajuritnya untuk mengangkatnya, jala itu tetap saja tidak bisa diangkat. Akhirnya, Raja Riak Bakau mengakui kesaktian kakek itu. Namun, Raja Riak Bakau tidak kehabisan akal.
“Baiklah, Kek! Aku mengakui kesaktianmu. Tapi, bagaimana kalau kita mengadu ayam saja. Jika ayamku kalah, kamu boleh memiliki semua harta dan kekuasaanku. Tapi, jika ayammu kalah, jala rantai emas itu menjadi milikku,” tantang Raja Riak Bakau.
Semula kakek itu menolak, namun karena terus didesak oleh Raja Riak Bakau akhirnya ia pun menerima tantangan itu. Akhirnya disepakati bahwa pertandingan sabung ayam akan dilaksanakan di depan istana tiga hari kemudian.
Kabar tentang pertandingan sabung ayam itu tersebar hingga ke seluruh pelosok negeri. Pada hari yang telah ditentukan, pertandingan sabung ayam segera dimulai dan disaksikan oleh seluruh rakyat Negeri Keramat Riak. Kakek misterius itu membawa seekor ayam aduan bertubuh kurus, sedangkan ayam aduan milik Raja Riak Bakau bertubuh besar dan gagah. Melihat ayam aduan kakek itu, Raja Riak Bakau merasa yakin akan memenangkan pertandingan tersebut.
Begitu gong dibunyikan sebagai tanda pertandingan sabung ayam dimulai, Raja Riak Bakau dan kakek itu segera melepaskan ayam aduan mereka di arena pertarungan. Kedua ayam aduan itu pun langsung berhadap-hadapan dan selanjutnya bertarung. Ayam aduan Raja Riak Bakau langsung menyerang secara bertubi-tubi sehingga ayam aduan kakek itu harus melompat ke sana-kemari untuk menghindar dan sesekali jatuh terkena tendangan kaki ayam aduan Raja Riak Bakau. Setelah beberapa lama pertarungan itu berlangsung, ayam aduan Raja Riak Bakau mulai kelelahan. Kini, giliran ayam aduan kakek itu yang menyerang. Hanya sekali tendang, ayam aduan Raja Riak Bakau langsung jatuh dan tidak bisa melanjutkan pertarungan.
Walaupun ayam aduannya kalah, Raja Riak Bakau tidak terima atas kekalahan itu karena tidak ingin kehilangan seluruh harta dan kekuasaannya. Akhirnya, ia menantang kakek itu untuk bertarung. Namun, kakek itu kembali menolak tantangan tersebut.
“Ampun, Baginda! Hamba tidak ingin bertarung karena itu tidak ada manfaatnya. Bagaimana kalau hasil pertandingan tadi kita anggap impas. Hamba tidak akan menuntut apapun dari Baginda, tapi izinkanlah hamba pergi membawa jala rantai emas hamba ini,” pinta kakek itu dengan kata-kata bijaksana.
Raja Riak Bakau pun mengambulkan permintaan kakek itu. Sebelum pergi, kakek itu mampir shalat di em>paseba
dan jalanya diletakkan di depan paseba. Rupanya, Raja Riak Bakau bersama pengawalnya membuntuti kakek itu secara diam-diam karena masih berninat untuk memiliki jala rantai emas itu. Ketika melihat kakek itu sedang khusyuk shalat, Raja Riak Bakau segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya lalu menusuk tubuh kakek itu dari belakang. Sungguh ajaib, walaupun dalam keadaan terluka parah, kakek itu masih dapat menyelesaikan shalatnya.
Usai mengucapkan salam, kakek misterius itu segera mengambil lidi lalu ditancapkan di empat sudut paseban dan kemudian pergi meninggalkan negeri itu. Begitu kakek itu berlalu, beberapa prajurit berusaha mencabut lidi itu, namun tak seorang pun yang berhasil. Akhirnya, terpaksa Raja Riak Bakau sendiri yang mencabutnya. Begitu lidi-lidi tersebut tercabut, air menyembur keluar dengan derasnya. Makin lama semburan air semakin deras sehingga dalam waktu sekejap air menggenangi seluruh negeri itu. Seluruh penduduk berusaha menyelamatkan diri. Ada yang berlari ke gunung, sedangkan Raja Riak Bakau beserta pengikutnya berusaha memanjat pohon yang tinggi agar tidak terkena luapan air yang hampir menenggelamkan seluruh negeri itu.
Raja Riak Bakau beserta pengikutnya yang berada di atas pohon masih selamat. Namun, Tuhan terlanjur murka kepada mereka. Tiba-tiba, langit menjadi gelap. Beberapa saat kemudian, hujan deras turun disertai angin kencang. Raja Riak Bakau yang berada di atas pohon beserta pengikutnya terombang-ambing diterpa angin kencang. Pada saat itulah terdengar suara menggema dari balik awan.
“Wahai, Raja Riak Bakau dan seluruh rakyat Keramat Biak! Kalian itu bergelantungan seperti kera saja!” demikian pesan dari suara misterius itu.
Begitu suara itu hilang, tiba-tiba Raja Riak Bakau dan seluruh warganya yang selamat menjelma menjadi kera. Setelah itu, hujan deras kembali reda dan cuaca kembali cerah. Air pun mulai surut sehingga yang terlihat hanya kera-kera yang bergelantungan di atas pohon. Lama-kelamaan negeri itu menjadi hutan rimba dan dihuni oleh kawanan kera. Sementara itu, kakek yang misterius itu menghilang entah ke mana.
Beberapa tahun kemudian, beberapa awak kapal dari Cina mendarat di hutan lebat itu. Konon, mereka itu adalah pedagang yang pernah ditolong oleh si kakek misterius. Mereka datang untuk memenuhi pesan sang kakek agar dibuatkan makam di Keramat Riak. Mereka pun membuat sebuah makam yang cukup megah di daerah itu. Pada nisan makam itu tertulis Syekh Abdullatif, yaitu nama dari kakek misterius itu. Selanjutnya, makam itu dinamakan makam Keramat Riak.
* * *
Demikian cerita Keramat Riak dari daerah Bengkulu. Cerita di atas tergolong kategori cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik yaitu keutamaan sifat rendah hati dan akibat buruk dari sifat serakah.
Pertama, sifat rendah hati, yaitu terlihat pada sikap dan perilaku kakek misterius atau yang disebut-sebut sebagai Syekh Abdullatif. Ia seorang wali Allah yang tidak suka memamerkan kesaktiannya kepada orang lain. Sifat ini perlu dijadikan suri teladan bahwa sekiranya kita mempunyai ilmu yang tinggi dalam hal apa pun hendaknya tidak dipamer-pamerkan. Tetapi sebaliknya, ilmu itu kita manfaatkan untuk menolong sesama makhluk hidup.
Kedua, akibat buruk dari sifat serakah, yaitu terlihat pada sikap dan perilaku Raja Riak Bakau yang tidak pernah merasa cukup terhadap harta kekayaan yang sudah dimilikinya. Berbagai tipu muslihat dilakukannya agar bisa memiliki jala rantai emas milik kakek itu. Karena keserakahannya, Tuhan pun menghukum Raja Riak Bakau dan seluruh pengikutnya menjadi kera.

PUTRI SERINDANG BULAN

Putri Serindang Bulan adalah putri ketujuh Raja Mawang yang cantik nan rupawan. Namun, ia memiliki penyakit yang aneh. Setiap kali ada raja yang melamarnya, seluruh tubuhnya tiba-tiba dipenuhi penyakit kusta. Hal itu membuat keenam kakaknya menjadi murka, karena ia menjadi aib bagi keluarga istana. Oleh karena itu, mereka berniat untuk membunuh adik bungsunya itu. Berhasilkah mereka membunuh Putri Serindang Bulan? Ikuti kisahnya dalam cerita Putri Serindang Bulan berikut ini!
* * *
Alkisah, di daerah Bengkulu, hiduplah seorang raja yang bernama Raja Mawang yang berkedudukan di Lebong. Raja Mawang mempunyai enam putra, dan seorang putri. Mereka adalah Ki Gete, Ki Tago, Ki Ain, Ki Jenain, Ki Geeting, Ki Karang Nio, dan Putri Serindang Bulan. Saat berusia senja dan tidak dapat lagi melaksanakan tugas-tugas kerajaan, Raja Mawang menunjuk putra keenamnya, Ki Karang Nio yang bergelar Sultan Abdullah, untuk menggantikan kedudukannya. Tidak beberapa lama setelah Ki Karang Nio menjabat sebagai raja, Raja Mawang pun wafat.
Sepeninggal Raja Mawang, terjadilah prahara di antara putra-putrinya akibat penyakit kusta yang diderita oleh Putri Serindang Bulan. Penyakit itu muncul setiap kali ada raja yang datang melamarnya. Akibatnya, pertunangan pun selalu batal. Anehnya, jika pertunangan itu batal, penyakit kusta itu pun hilang. Peristiwa tersebut tidak hanya sekali terjadi, tetapi berulang hingga sembilan kali. Peristiwa tersebut menjadi aib bagi keluarga istana. Oleh karena itu, keenam kakak Putri Serindang Bulan mengadakan pertemuan untuk mencari cara agar dapat menghapus aib tersebut.
“Jika hal ini dibiarkan terus terjadi, nama baik keluarga kita akan semakin jelek di mata para raja. Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini?” tanya Ki Gete membuka pembicaraan.
Mendengar pertanyaan itu, kelima saudaranya hanya terdiam. Sejenak, suasana sidang menjadi hening. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba Ki Karang Nio angkat bicara.
“Bagaimana kalau Putri Serindang Bulan kita asingkan saja ke tempat yang jauh dari keramaian,” usul Ki Karang Nio.
“Apakah ada yang setuju dengan usulan Ki Karang Nio?” tanya Ki Gete.
Tak seorang pun peserta sidang yang menjawab. Rupanya, mereka tidak sepakat dengan usulan Ki Karang Nio.
“Kalau menurutku, sebaiknya Putri Serindang Bulan kita bunuh saja,” sahut Ki Tago.
Mendengar usulan Ki Tago, para putra Raja Mawang tersebut langsung sepakat, kecuali Ki Karang Nio. Meskipun ia seorang raja, Ki Karang Nio harus menerima keputusan itu, karena ia kalah suara oleh kakak-kakaknya. Dalam pertemuan itu juga diputuskan bahwa Ki Karang Nio-lah yang harus melaksanakan tugas itu. Untuk membuktikan bahwa ia telah melaksanakan tugasnya, ia harus membawa pulang setabung darah Putri Serindang Bulan.
Setelah pertemuan selesai, Ki Karang Nio segera menemui Putri Serindang Bulan. Betapa sedihnya hati putri yang malang itu mendengar keputusan kakak-kakaknya. Namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah dan menyerahkan nasibnya kepada Tuhan Yang Mahakuasa Kuasa.
“Ya, Tuhan! Lindungilah hambamu yang tidak berdaya ini!” ucap Putri Serindang Bulan dengan air mata bercucuran membasahi pipinya yang berwarna kemerah-merahan.
“Maafkan aku, Dik! Aku juga tidak berdaya menghadapi mereka,” ucap Ki Karang Nio seraya menghapus air mata adiknya.
Pada hari yang telah ditentukan, Ki Karang Nio pun bersiap-siap untuk membawa adiknya ke sebuah hutan yang sangat lebat untuk dibunuh. Sebelum mereka berangkat, Putri Serindang Bulan mengajukan satu permohonan kepada Ki Karang Nio.
“Kak, bolehkah Adik membawa bakoa (tempat daun sirih) dan ayam hirik peliharaanku?” pinta Putri Serindang Bulan.
“Untuk apa, Adikku?” tanya Ki Karang Nio.
“Jika Adik telah mati, kuburkanlah bakoa dan ayam hirik ini bersama jasad Adik. Hanya itulah yang Adik miliki selain Kakak,” jawab Putri Serindang Bulan.
Setelah berpamitan kepada kakak-kakaknya, Ki Karang Nio dan Putri Serindang Bulan pun berangkat menuju ke hutan. Di sepanjang perjalanan, kedua kakak-beradik tersebut tidak pernah saling menyapa. Hati Putri Serindang Bulan diselimuti perasaan sedih, sedangkan Ki Karang Nio berpikir mencari cara agar adiknya bisa selamat. Setelah berpikir keras, akhirnya ia pun menemukan cara untuk mengelabui kakaknya. Setibanya di tengah hutan, mereka pun berhenti di tepi Sungai Air Ketahun.
“Adikku, sepertinya kita sudah terlalu jauh berjalan. Sebaiknya kita berhenti di sini saja!” Seru Ki Karang Nio.
“Baiklah, Kak! Silahkan laksanakan tugas Kakak!” seru Puri Serindang Bulan.
“Tidak, Adikku! Aku tidak akan sampai hati membunuh adik kandungku sendiri,” kata Ki Karang Nio.
“Lakukanlah, Kak! Adik rela mati demi keselamatan Kakak. Jika Kakak tidak membunuh Adik, nyawa Kakak akan terancam. Saudara-saudara kita di istana pasti akan membunuh Kakak,” desak Putri Serindang Bulan.
Akhirnya, Ki Karang Nio memberitahukan rencananya kepada Putri Serindang Bulan bahwa ia akan mengelabui kakak-kakaknya.
“Aku tidak akan membunuhmu, Adikku! Aku akan membuatkanmu sebuah rakit. Dengan rakit itu, kamu ikuti aliran Sungai Air Ketahun ini. Kakak berharap ada orang yang menolongmu,” ujar Ki Karang Nio.
“Tapi, bukankah Kakak harus membawa pulang setabung darah Adik untuk dijadikan bukti kepada mereka?” tanya Putri Serindang Bulan.
“Benar, Adikku! Jika kamu tidak keberatan, bolehkah aku menyayat tanganmu? Aku akan mengambil sedikit darahmu dan mencampurkannya dengan darah binatang,” pinta Ki Karang Nio.
“Silahkan, Kak! Kakak pun boleh menyembelih ayam hirik ini untuk diambil darahnya!” seru Putri Serindang Bulan.
Dengan berat hati, Ki Karang Nio pun menyayat tangan Putri Serindang Bulan. Kemudian, darah yang keluar dari tangan adiknya tersebut ia campurkan dengan darah ayah hirik yang telah disembelih sebelumnya, lalu ia masukkan ke dalam tabung. Setelah itu, ia menyuruh Serindang Bulan untuk naik ke rakit yang sudah disiapkan.
“Pergilah, Adikku! Hati-hatilah di jalan! Semoga Tuhan Yang Mahakuasa senatiasa melindungimu!” seru Ki Karang Nio.
“Terima kasih, Kak! Semoga kita dapat bertemu kembali,” ucap Putri Serindang Bulan sambil meneteskan air mata.
Ki Karang Nio pun tidak mampu membendung air matanya. Ia tidak tega melihat adik yang sangat disayanginya itu hanyut terbawa aliran air sungai. Setelah Putri Serindang Bulan hilang dari pandangannya, Ki Karang Nio pun bergegas kembali ke istana untuk melapor kepada kakak-kakaknya bahwa ia telah melaksanakan tugasnya. Kakak-kakaknya pun mempercayainya dengan bukti berupa tabung yang berisi darah tersebut.
Sementara itu, setelah berhari-hari hanyut di sungai, Putri Serindang Bulan akhirnya terdampar di Pulau Pagai, di lepas pantai muara Air Ketahun. Berkat pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, ia ditemukan oleh Raja Indrapura yang sedang berburu di pulau itu.
“Hai, Putri Cantik! Kamu siapa dan kenapa bisa berada di tempat ini?” tanya Raja Indrapura.
Putri Serindang Bulan pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di tempat itu. Mendengar cerita itu, Raja Indrapura sangat terharu. Akhirnya, ia membawa Putri Serindang Bulan ke istananya di Negeri Setio Barat. Tak berapa lama kemudian, terdengarlah kabar bahwa Raja Indrapura akan menikah dengan Putri Serindang Bulan. Berkat kesaktian Raja Indrapura, penyakit kusta sang Putri tidak pernah kambuh lagi. Berita tentang pernikahan mereka pun sampai ke telinga kakak-kakaknya di Lebong.
“Apa, Putri Serindang Bulan masih hidup?” celetuk Ki Gete setelah mendengar laporan dari seorang prajurit istana.
Ki Gete dan keempat adiknya sangat marah kepada Ki Karang Nio, karena telah mengelabui mereka. Namun, mereka tidak berani membunuh adiknya itu, karena takut mendapat murka dari Raja Indrapura. Akhirnya, mereka bersepakat untuk menghadiri pesta perkawinan Putri Serindang Bulan dengan Raja Indrapura di Negeri Setio Barat. Ki Karang Nio tidak lupa membawa perselen, yaitu semacam emas sebagai uang jujur Putri Serindang Bulan. Setibanya di pesta tersebut, Putri Serindang Bulan dan Raja Indrapura pun menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Bahkan ketika mereka akan kembali ke Lebong, Raja Indrapura menghadiahi mereka berbagai perhiasan emas.
Dalam perjalanan pulang ke Lebong, kapal yang mereka tumpangi diterjang badai dan dihempas ombak besar hingga pecah. Mereka terdampar di sebuah pulau yang bernama pulau yang bernama Ipuh. Semua perhiasan emas pemberian Raja Indrapura tersebut tenggelam di dasar laut, kecuali milik Ki Karang Nio. Rupanya, kelima kakaknya itu iri hati kepada Ki Karang Nio dan berniat untuk membunuhnya, lalu mengambil perhiasannya. Mengetahui niat busuk kakak-kakaknya itu, Ki Karang Nio pun menyampaikan kata-kata bijak kepada mereka.
“Hartoku harto udi, haro udi hartoku, barang udi cigai, uku maglek igai.” Artinya:
“Hartaku harta kalian, harta kalian adalah hartaku, barang kalian hilang, aku memberinya.”  
Rupanya kata-kata bijak Ki Karang Nio tersebut benar-benar menyentuh perasaan kelima kakaknya. Apalagi ketika Ki Karang Nio membagikan hartanya kepada mereka dengan jumlah yang sama, hati kelima kakaknya itu semakin tersentuh karena kemuliaan hati adiknya.
“Adikku! Engkau adalah saudaraku yang arif dan bijaksana. Engkau memang pantas menjadi Raja di Lebong,” ucap Ki Gete dengan perasaan kagum.
“Benar, Adikku! Kami sangat bangga memiliki adik sepertimu. Kami sangat menyesal karena selalu bertindak kasar terhadapmu. Kembalilah ke Lebong, Adikku! Kami akan tinggal di pulau ini saja,” seru Ki Jenain.
Ketika Ki Karang Nio akan berpamitan hendak kembali ke Lebong, salah seorang kakaknya berkata, ”Huo ite sa‘ok, kame cigai belek! (artinya: sekarang ini kita berpisah dan kami tidak akan pulang lagi!)” Menurut empunya cerita, kata-kata tersebut menjadi terkenal di kalangan masyarakat Lebong, karena tempat mereka mengucapkan kata-kata tersebut sekarang dinamakan Teluk Sarak. Kata sarak diambil dari kata sa‘ok, yang berarti berpisah.
Sekembalinya ke Lebong, Ki Karang Nio menikah dengan seorang putri raja dan kemudian dikaruniai dua orang putra, yaitu Ki Pati dan Ki Pandan. Ia memerintah rakyat Lebong dengan arif dan bijaksana. Ketika usianya sudah tua, Ki Karang Nio meminta adiknya, Putri Serindang Bulan yang menjadi permaisuri di kerajaan lain, agar kembali ke Lebong untuk memilih salah seorang putranya yang akan menggantikannya sebagai raja.
Akhirnya, ketika kembali ke Lebong bersama suaminya, Putri Serindang Bulan menetapkan Ki Pandan untuk menggantikan ayahnya, Ki Karang Nio. Sementara Ki Pati mendirikan biku di sebuah daerah yang kini dikenal dengan Somelako.
* * *
Demikian dongeng Putri Serindang Bulan dari daerah Bengkulu. Menurut cerita, Putri Serindang Bulan merupakan lambang kebijaksanaan, keadilan, dan kecantikan di Lebong. Oleh masyarakat setempat, ia juga dijuluki sebei Lebong (nenek Lebong). Ia menjadi lambang kebijaksanaan, keadilan, dan kecantikan, karena selain berwajah cantik nan rupawan, ia memiliki sifat yang adil dan bijaksana. Ia juga tidak pernah menaruh dendam kepada kakak-kakaknya yang telah berencana membunuhnya.
Selain itu, cerita di atas juga memberikan pelajaran bahwa antarsesama saudara harus saling menyayangi dan melindungi. Hal ini ditunjukkan oleh sifat dan perilaku Ki Karang Nio. Karena sifat kasih sayangnya, ia selalu melindungi adik kandungnya, Putri Serindang Bulan. Bagi orang Melayu, dengan berkasih sayang antarsesama, kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera dapat diwujudkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu (Tenas Effendy: 2006):
kalau hidup berkasih sayang,
negeri damai, hidup pun tenang

kalau kuncup sudah mengembang
banyaklah kumbang datang menyeri
kalau hidup berkasih sayang
hidup tenang makmurlah negeri

ANOK LUMANG

Anok Lumang adalah seorang pemuda miskin yang tinggal di Tanah Sekalawi (Kabupaten Lebong sekarang), Provinsi Bengkulu, Indonesia. Dalam bahasa setempat, kata anok lumang berarti anak yatim piatu. Namun berkat kesabaran, kerja keras, dan ketekunannya beribadah, Anok Lumang menikah dengan seorang gadis cantik, anak seorang penguasa kota. Bagaimana lika-liku perjalanan hidup Anok Lumang, sehingga bisa menikah dengan anak seorang penguasa kota? Ikuti kisahnya dalam cerita Anok Lumang berikut ini!
* * *
Alkisah, di tanah Kenah Sekalawi (Kabupaten Lebong), Bengkulu, hiduplah seorang anak laki-laki miskin. Kedua orangtuanya meninggal dunia sejak ia masih kecil. Hidupnya sangat memprihatinkan karena kedua orangtunya tidak meninggalkan harta benda untuknya, kecuali hanya sebuah gubuk reot yang terletak di pinggir kampung. Di gubuk itulah ia tinggal sendirian, tanpa saudara dan sanak keluarga. Yang lebih memprihatinkan lagi, tak seorang pun penduduk yang mau membantunya, apalagi mengambilnya sebagai anak angkat. Bahkan ia sering dihina oleh anak-anak kampung yang sebaya dengannya. Meski demikian, Anok Lumang tidak pernah marah dan dendam.
Anok Lumang hidup benar-benar terasing dan sebatang kara di kampung itu. Semua orang jijik untuk datang ke gubuknya dan tidak mau bergaul dengannya, apalagi ia setiap harinya hanya memakai pakaian yang sudah kumal dan penuh dengan tambalan.
Waktu terus berjalan. Anok Lumang tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan. Ia sangat rajin beribadah. Setiap waktu salat tiba, ia senantiasa datang ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah. Ia juga pandai mengaji. Ia belajar mengaji pada Gua’au Abdullah, seorang guru ngaji yang belum lama tinggal di kampung itu.
Pada suatu hari, seusai mengajar mengaji, Gua’au Abdullah bertanya kepadanya.
“Hai, Anok Lumang! Berapa umurmu sekarang?” tanya Gua’au Abdullah.
Anok Lumang tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia tidak mengerti maksud gurunya itu menanyakan umurnya.
“Ada apa, Tuan Guru? Mengapa Tuan Guru menanyakan umurku?” Anok Lumang balik bertanya.
“Tidak ada apa-apa, Anak Lumang? Aku hanya berpikir bahwa kenapa pemuda setampan kamu belum juga menikah. Bukankah di kampung ini banyak gadis cantik?” jawab Gua’au Abdullah.
“Umur saya 18 tahun. Memang sudah sepantasnya saya menikah. Tapi, saya belum pernah memikirkan hal itu. Apalagi gadis-gadis di kampung ini semuanya menjauhi saya. Mereka enggan dan jijik bergaul dengan saya, karena saya anak yatim piatu dan miskin,” ungkap Anok Lumang.
“Janganlah berkecil hati, Anok Lumang! Hadapilah semua itu dengan tabah dan senantiasalah bekerja keras dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Suatu saat nanti, Tuhan akan memberimu petunjuk,” ujar Gua’au Abdullah.
Sejak itu, Anok Lumang semakin rajin bekerja dan beribadah. Hampir setiap malam ia bangun untuk salat tahajud dan berdoa kepada Tuhan agar dimudahkan jalan hidupnya. Akhirnya, berkat ketekunannya tersebut, ia pun mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Mahakuasa.
Suatu hari, ketika sedang beristirahat di bawah sebuah pohon karena kelelahan setelah mengumpulkan ranting-ranting kayu, Anok Lumang bermimpi didatangi oleh seorang perempuan paruh baya mengenakan pakaian putih-putih. Meskipun berumur paruh baya, perempuan itu tetap tampak cantik, anggun, dan berwibawa. Dalam mimpinya, perempuan cantik itu berpesan kepadanya.
“Wahai, Anak Muda! Kamu harus lebih giat lagi bekerja dan hasilnya kamu tabung! Jika suatu saat tabunganmu sudah terkumpul banyak, pergilah ke kota untuk mengadu nasib. Di sana nasib baik sedang menunggumu!”
Setelah terbangun dari tidurnya, Anok Lumang segera mengingat-ingat isi mimpinya dan mencoba untuk melaksanakan semua pesan perempuan itu. Dengan penuh semangat, setiap hari ia bekerja keras mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya untuk dijual ke pasar. Dua bulan kemudian, kayu bakarnya pun habis terjual. Dengan bekal secukupnya, berangkatlah ia ke kota yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dalam perjalanan, ia selalu membayangkan kehidupan kota.
Sesampainya di kota, Anok Lumang tidak tahu harus berbuat apa. Namun, hatinya sangat senang melihat keramaian kota dan berbagai jenis barang bagus yang ada di sana. Para penduduk kota rata-rata mengenakan pakaian bagus-bagus. Rumah-rumah penduduk tampak indah berjejer di pinggir jalan. Saat malam menjelang, Anok Lumang bingung harus menginap di mana, karena ia tidak mempunyai sanak keluarga dan kenalan. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk tidur di masjid. Siang harinya, ia hanya menyusuri jalan-jalan kota tanpa arah dan tujuan, dan lama kelamaan bekalnya pun semakin menipis. Bekal yang tersisa hanya cukup untuk tiga hari. Mulanya, ia berniat untuk kembali lagi ke kampung halamannya, namun ongkos untuk pulang tidak cukup lagi. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk bertahan hidup di kota.
“Ah, aku tidak boleh putus asa. Aku yakin Tuhan pasti akan melindungiku,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Keesokan harinya, Anok Lumang mendengar kabar bahwa penguasa kota sedang mengadakan sayembara. Barang siapa yang mampu menyembuhkan penyakit anak gadis penguasa itu, ia akan dinikahkan dengan sang Gadis dan diangkat menjadi kepala keamanan kota. Akan tetapi, jika gagal ia akan dimasukkan ke dalam penjara.
Anok Lumang pun segera berjalan menuju ke rumah penguasa kota itu. Namun, ia tidak pernah berpikir untuk ikut dalam sayembara itu. Ia hanya ingin menyaksikan sayembara tersebut.
Ketika Anok Lumang tiba di depan rumah penguasa itu, tampaklah para peserta sayembara berkumpul di halaman rumah sedang menunggu giliran dipanggil untuk mengobati sang Gadis yang terbaring lemas di dalam rumah. Ia berdiri di barisan paling belakang sambil memerhatikan para peserta silih berganti masuk ke dalam rumah penguasa kota itu. Beberapa lama kemudian, seluruh peserta sayembara telah mencoba kemampuan ilmu pengobatannya, namun tak seorang pun yang berhasil menyembuhkan penyakit sang Gadis. Sementara Anok Lumang masih terpakau di tempatnya berdiri. Tanpa disadarinya, seorang pengawal datang menghampirinya karena mengiranya sebagai peserta sayembara yang terakhir.
“Hai, Pemuda Kumal! Kenapa kamu hanya berdiri di situ? Kini giliranmu mengobati penyakit anak tuan kami,” tegur pengawal itu.
Anok Lumang sangat terkejut, karena merasa dirinya bukanlah peserta sayembara. Ia pun ketakutan dan hendak pergi meninggalkan tempat itu. Namun, ketika ia akan melangkah pergi, kakinya terasa berat, seakan-akan tertanam di tanah. Secara tidak sengaja, tiba-tiba ia mengangguk seolah ada orang yang menggerakkan kepalanya. Akhirnya, pengawal itu pun mempersilahkannya masuk ke dalam rumah untuk mengobati sang Gadis.
“Tapi, ingat! Jika kamu gagal menyembuhkan penyakit anak tuan kami, maka kamu akan dipenjara!” ancam pengawal itu.
Anok Lumang pun semakin ketakutan mendengar ancaman itu. Namun, apa hendak dibuat, mau menolak ia pun sudah terlanjur menganggukan kepala sebagai tanda siap untuk mengobati sang Gadis. Dengan memohon kepada Tuhan, ia pun mengikuti pengawal itu masuk ke dalam rumah penguasa kota yang megah dan besar itu. Ia dibawa ke sebuah kamar. Saat memasuki kamar itu, ia melihat seorang gadis cantik jelita tergeletak lemas dengan mata tertutup di atas pembaringan.
“Silahkan, wahai pemuda kumal! Jika kamu ingin selamat, keluarkanlah semua kemampuan yang kamu miliki!” seru pengawal itu dengan nada mengancam.
Setelah memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Anok Lumang mengucap “Bismillah” seraya meniupkan pada kedua telapak tangannya. Kemudian ia seakan-akan mengusapkan kedua telapak tangannya pada seluruh bagian tubuh gadis itu, tanpa menyentuh sedikit pun kulit tubuh sang Gadis. Sungguh ajaib! Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka matanya secara pelan-pelan dan langsung bangun sambil mengusap-usap wajahnya tiga kali.
“Ayah, Ibu! Aku ada di mana?” ucap gadis itu memanggil kedua orang tuanya.
Betapa bahagianya para pembantu penguasa kota yang berada di dalam kamar itu. Anak tuan mereka kembali sehat seperti sedia kala. Sementara Anok Lumang badannya gemetar karena takut. Apalagi pengawal itu membawanya menghadap kepada penguasa kota di sebuah ruangan besar.
“Terima kasih, Anak Muda! Kamu telah menyembuhkan penyakit anak gadisku. Siapa sebenarnya kamu ini dan dari mana asalmu?” tanya penguasa kota itu.
“Saya Anok Lumang, Tuan! Saya berasal dari kampung dan pergi ke kota ini untuk mengadu nasib,” jawab Anok Lumang gugup.
“Baiklah, Anok Lumang! Siapa pun dirimu dan dari mana pun asalmu, aku tidak mempermasalahkan. Sesuai dengan janjiku, aku akan menikahkanmu dengan anak gadisku dan mengangkatmu menjadi kepala keamanan kota ini,” kata penguasa kota itu.
Mendengar pernyataan itu, hati Anok Lumang yang semula gelisah tiba-tiba berubah menjadi senang dan gembira seraya berucap sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.
“Terima kasih Tuhan atas segala nikmat-Mu ini!”
Seminggu kemudian, Anok Lumang pun dinikahkan dengan anak gadis penguasa itu. Pesta pernikahan mereka yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam tersebut dihadiri oleh para undangan yang datang dari berbagai negeri. Dalam pesta tersebut dipergelarkan berbagai jenis tarian dan musik. Para undangan bersuka ria dan bahagia melihat pasangan pengantin yang sedang duduk bersanding di atas pelaminan.
Usai pesta tersebut, penguasa kota itu segera mengangkat Anok Lumang menjadi kepala keamanan kota. Sejak itu, Anok Lumang selalu dikawal ke mana pun pergi dan kehidupannya pun serba berkecukupan.
Setelah beberapa lama menikah, mereka pun dikaruniai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempun. Anok Lumang sangat bahagia hidup bersama istri dan kedua anaknya. Namun, kebahagiaan tersebut tidak membuatnya lupa kepada kampung halamannya. Ia pun berniat mengajak keluarganya untuk melihat tempat kelahirannya itu.
Pada suatu hari, Anok Lumang menyampaikan niat tersebut kepada mertuanya. Mendengar keinginan menantunya itu, sang mertua pun membekalinya harta yang banyak, kendaraan, dan sejumlah pengawal. Maka, berangkatlah rombongan Anok Lumang menuju ke kampung halamannya. Ketika mereka tiba di kampung Anok Lumang, para warga terheran-heran melihat kedatangan mereka.
“Siapa gerangan orang kaya dan berpangkat itu?” tanya seorang warga heran.
“Hei, lihat! Rombongan menuju ke gubuk Anok Lumang!” seru seorang warga lainnya.
“Wah, jangan-jangan orang kaya itu si Anok Lumang?” sahut seorang warga lagi.
Tak berapa lama, rombongan itu berhenti di depan gubuk Anok Lumang yang hampir roboh itu.
“Bang, kenapa kita berhenti di sini? Apakah ini tempat tinggal Abang?” tanya istri Anok Lumang heran.
“Iya, Istriku! Di gubuk inillah Abang dilahirkan,” jawab Anok Lumang sambil tersenyum.
Mendengar jawaban Anok Lumang, istri dan anak-anaknya serta para pengawalnya tersentak kaget. Mereka tidak mengira jika tempat tinggal Anok Lumang hanyalah sebuah gubuk reot. Melihat kondisi gubuk suaminya yang memprihatinkan itu, sang Istri pun segera memerintahkan seluruh pengawalnnya untuk membangun sebuah rumah yang bagus. Dalam waktu tidak lama, rumah yang dimaksud itu pun selesai dibangun.
Para penduduk pun gempar dan malu saat mengetahui bahwa orang kaya itu adalah Anok Lumang yang sering mereka hina dulu. Namun, Anok Lumang tetap rendah hati seperti dulu. Ia tidak pernah merasa dendam dan tetap ramah kepada tetangga dan penduduk di sekitarnya.
Sejak itu, Anok Lumang sering mengunjungi kampung halamannya bersama istri dan kedua anaknya. Ia sangat disegani dan dihormati oleh penduduk sekitar, karena senantiasa membantu orang-orang yang tidak mampu di kampungnya. Namanya pun semakin terkenal karena kemuliaan hati dan sikapnya yang sangat pemurah.
* * *
Demikian cerita Anok Lumang dari daerah Lebong, Bengkulu. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu keutamaan sifat bekerja keras dan rajin berdoa, dan tidak pendendam atau murah hati.
Pertama, keutamaan sifat bekerja keras dan rajin berdoa. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku Anok Lumang yang selalu bekerja keras dan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Berkat kerja keras dan ketekunannya beribadah tersebut, ia pun dapat menikah dengan anak gadis penguasa kota dan diangkat menjadi kepala keamanan kota. Dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:
apa tanda Melayu beradat,
bekerja rajin, beramal pun taat
apa tanda Melayu beradat,
bekerja dengan penuh semangat
wahai ananda dengarlah pesan,
dalam bekerja banyakkan ingat
jangan dikira ringan dan berat
semoga hidupmu beroleh berkah
Kedua, keutamaan sifat tidak pendendam atau murah hati. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku Anok Lumang. Meskipun telah menjadi orang kaya raya, ia tidak pernah sakit hati dan dendam kepada tetangga dan penduduk di kampungnya yang sering menghinanya ketika ia masih kecil. Bahkan ia menjadi orang kaya yang pemurah, sehingga disegani dan dihormati oleh masyarakat sekitarnya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
adat hidup bermasyarakat,
pantang sekali berdendam kesumat
apa tanda Melayu terpuji,
dendam mendendam pantang sekali
tangan pemurah suka memberi
wahai ananda sibiran tulang,
janganlah ragu memaafkan orang
sengketa habis dendam dibuang
hati pemurah hidupmu dikasihi orang

SINATUNG NATAK

Sinatung Natak adalah sebuah cerita rakyat yang memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, Indonesia. Cerita ini telah melahirkan sebuah aturan atau hukum yang hingga kini masih berlaku di kalangan masyarakat setempat. Aturan apakah yang dilahirkan oleh cerita ini? Dan, bagaimana aturan tersebut lahir? Temukan jawabannya dalam cerita Sinatung Natak berikut ini!
* * *
Alkisah, di sebuah negeri di daerah Bengkulu, ada seorang raja yang bernama Serik Seri Nato. Ia mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Cerlik Cerilang. Berita tentang kecantikan sang Putri telah tersebar sampai ke berbagai negeri. Banyak pangeran dan pemuda yang penasaran ingin melihat kecantikannya dan bermaksud menyuntingnya.
Berita tentang kecantikan Putri Cerlik Cerilang juga sampai di dusun Kutei Donok (sekarang bernama Desa Kota Donok, Kecamatan Lebong Selatan). Di dusun ini, ada seorang Batara Guru bernama Guru Tuo yang memiliki tujuh orang putra. Batara Guru Tuo sangat pandai dan sakti. Putra bungsunya bernama Sinatung Natak yang punya penyakit panu di sekujur tubuhnya. Meski demikian, ia sangat dimanja oleh orangtuanya karena sifatnya yang suka menolong terhadap sesama.
Mendengar kabar kecantikan Putri Cerlik Cerilang, Sinatung Natak selalu termenung dan membayangkan kecantikan wajah sang Putri.
“Alangkah bahagianya aku jika mempunyai istri yang cantik. Tapi, mungkinkah sang Putri mau menikah denganku dengan kondisi tubuhku yang penuh dengan panu ini?” tanya Sinatung Natak dalam hati.
“Ah, aku tidak boleh menyerah sebelum mencoba,” tambahnya dengan penuh semangat.
Pada malam harinya, Sinatung Natak pun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya itu kepada orangtuanya dalam sebuah pertemuan keluarga.
“Maaf, Ayah! Natak ingin menyampaikan sesuatu kepada Ayah,” ungkap Natak, mengawali pembicaraannya.
“Ada apa, Anakku?” tanya sang Ayah.
“Maafkan Natak jika apa yang Natak sampaikan nanti tidak berkenan di hati Ayah,” katanya lebih lanjut.
“Apa yang ingin kau sampaikan, Anakku? Katakanlah!” desak Ayahnya penasaran.
“Natak ingin pergi jauh, Ayah,” jawab Natak.
Keenam kakaknya dan anggota keluarga lainnya yang ada pada saat itu kaget mendengar perkataan Sinatung Natak. Mereka tahu bahwa Natak tidak pernah bepergian jauh selama hidupnya.
“Hendak pergi kemanakah engkau, Anakku?” tanya sang Ayah ingin tahu.
“Negeri Serik Seri Nato, Ayah,” jawab Natak singkat sambil menundukkan kepala.
“Apakah Adik ingin menemui Putri Cerlik Cerilang yang terkenal cantik itu?” tanya kakaknya yang sulung.
“Benar, Bang! Adik bermaksud meminangnya,” jawab Natak.
Mendengar jawaban Natak, Ayahnya terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, ia kembali bertanya kepadanya.
“Apa mungkin Putri Cerlik Cerilang akan menerima pinanganmu dengan kondisi tubuhmu yang penuh dengan panu itu, Anakku?”
“Tidak hanya itu, Anakku! Bukankah Negeri Serik Seri Nato itu sangat jauh dari sini?” tambah Ibunya.
“Iya, Natak menyadari akan semua hal itu. Tapi, Natak ingin sekali menemui putri itu, Bu!” jawab Natak dengan tekad bulat.
Oleh karena tekadnya begitu besar, akhirnya Batara Guru Tuo mengizinkan Natak pergi.
“Baiklah kalau itu keinginanmu, Anakku! Ayah merestui engkau menemui Putri Cerlik Cerilang. Tapi sebelum berangkat, Ayah akan menambah kesaktianmu untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang terjadi di sana,” ungkap Batara Guru Tuo.
Mendengar persetujuan Batara Guru Tuo, seluruh anggota keluarga lainnya pun ikut merestui kepergian Sinatung Natak. Setelah tiga hari tiga malam mendapat tambahan ilmu kesaktian dari ayahnya, berangkatlah Sinatung Natak menuju ke Negeri Serik Seri Nato untuk menemui Putri Cerlik Cerilang. Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu ia berjalan menuju ke arah matahari terbenam dengan menyusuri hutan belantara, menyeberangi sungai, naik dan turun gunung, dan melewati banyak dusun. Ia terkadang bermalam di tengah hutan seorang diri. Kepada setiap orang yang ditemuinya, ia selalu bertanya tentang di mana Negeri Serik Seri Nato, namun tak seorang pun yang mau memberi tahunya.
Pada suatu hari, ketika menyusuri sebuah hutan, Sinatung Natak bertemu dengan seorang Sebei (nenek) sedang berjalan menggunakan tongkat sambil membawa bronang. Sebei itu baru saja pulang dari ladangnya. Sinatung Natak pun segera menghampirinya.
“Maaf, kalau saya mengganggu perjalanan Bei,” sapa Natak.
“Siapa kamu ini anak muda?” tanya Sebei itu.
“Natak, Bei!” jawab Natak.
“O ya, Bei! Kalau tidak keberatan, sudilah Sebei tunjukkan jalan menuju Serik Seri Nato,” pinta Natak kepada sebei itu.
“Apakah kamu bermaksud menemui Putri Cerik Cerilang yang cantik itu?” tanya sebei itu.
“Benar, Bei! Apakah Sebei mengenalnya?” Natak balik bertanya.
Mendengar pertanyaan Natak, Sebei itu hanya tersenyum sambil memandang Natak yang tampak penasaran.
“Iya. Sebei banyak tahu tentang sang Putri. Tapi, sebaiknya kamu mampir dulu digubukku. Nanti Sebei ceritakan semua,” ajak Sebei itu.
“Terima kasih, Bei!” jawab Natak
Akhirnya, keduanya pun berjalan menuju ke gubuk wanita tua itu. Natak membantu membawakan bronang sang Sebei.
Pada malam harinya, Sebei itu pun menceritakan semua hal tentang Putri Cerlik Cerilang kepada Natak.
“Ketahuilah, Natak! Putri Cerlik Cerilang itu sudah mempunyai tunangan. Namanya Sinatung Bakas. Ia sangat kejam. Siapa pun yang berani mendekati sang Putri pasti akan dibunuhnya,” cerita sang Sebei.
“Tapi, Bei! Natak ingin sekali melihat sang Putri dan meminangnya,” kata Natak bersikukuh ingin menemui sang Putri.
“Oh, jangan, Natak! Itu sangat berbahaya! Nanti kamu akan dibunuh oleh tunangan sang Putri. Ia mempunyai puluhan orang algojo berbadan besar,” cegah Sebei itu.
“Tenang, Bei! Natak bisa jaga diri,” ucap Natak.
Melihat tekad kuat Sinatung Natak tersebut, Sebei itu pun tidak mampu memberi alasan lagi untuk menghalanginya pergi.
Keesokan harinya, Sinatung Natak pun berpamitan kepada Sebei sambil menyalaminya. Sinatung Natak melanjutkan perjalanan menuju ke Negeri Serik Seri Nato dengan menyusuri jalan sesuai petunjuk yang diberikan oleh Sebei itu. Setelah berjalan selama sehari semalam, sampailah Natak di sebuah negeri yang ramai. Banyak bangunan yang berdiri megah dan bagus. Para penduduknya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ia pun menghampiri seorang pedagang yang sedang sibuk menjajakan barang dagangannya.
“Permisi, Tuan! Benarkah ini Negeri Serik Seri Nato?” tanya Sinatung Natak dengan sopan.
“Benar, anak muda! Kamu pasti akan menemui Putri Cerlik Cerilang,” jawab pedagang itu.
“Bagaimana Tuan bisa tahu?” tanya Natak dengan penuh keheranan.
“Setiap pemuda yang datang dari luar negeri ini pasti akan mencari sang Putri,” jawab pedagang itu.
Usai berkata begitu, pedagang itu menunjukkan istana tempat kediaman sang Putri kepada Sinatung Natak. Maka dengan semangatnya, Sinatung Natak segera menuju ke istana itu. Ketika sampai di istana, ia melihat seorang gadis cantik sedang duduk sendirian di sebuah bangku bundar di tengah taman. Ia yakin gadis itu adalah Putri Cerlik Cerilang. Jantungnya pun mulai berdebar kencang. Perlahan-lahan ia melangkah menghampiri sang gadis.
“Maaf, Putri! Benarkah Putri adalah Cerlik Cerilang,” tanya Sinatung Natak dengan gugup.
“Benar. Aku Cerlik Cerilang,” jawab sang Putri dengan sopan.
Setelah itu, Sinatung Natak pun memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangannya. Baru beberapa saat mereka berkenalan, keduanya pun sudah tampak akrab. Oleh karena keasyikan berbincang-bincang, keduanya tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang memerhatikan mereka. Rupanya, orang itu adalah mata-mata Sinatung Bakas yang sengaja ditugaskan untuk mengawasi setiap pemuda yang mendekati Putri Cerlik Cerilang. Melihat keadaan itu, ia pun segera melapor kepada Sinatung Bakas.
“Gawat, Tuan! Ada seorang pemuda yang tak dikenal sedang menemui sang Putri di taman istana,” lapor orang suruhan Bakas itu.
Mendengar laporan itu, Sinatung Bakas pun langsung naik pitam. Wajahnya tiba-tiba merah membara bagai terbakar api.
“Siapa pemuda itu, berani sekali ia mendekati calon istriku!” ucap Bakas dengan geram.
Bersama beberapa orang algojonya, Bakas langsung menuju ke taman istana tempat di mana Putri Cerlik Cerilang dan Sinatung Natak sedang asyik berbincang. Sesampainya di sana, tanpa berpikir panjang, ia langsung menusuk tubuh Sinatung Natak dari arah belakang dengan pedangnya. Sinatung Natak yang tidak mengetahui hal itu tidak dapat berbuat apa-apa. Maka, ia pun tewas seketika. Melihat kejadian itu, sang Putri segera berlari menuju ke istana untuk melapor kepada ayahandanya. Mulanya, sang Raja hendak menceritakan kejadian itu kepada warganya. Namun karena melihat Sinatung Bakas datang ke istana, akhirnya sang Raja pun membatalkan niatnya tersebut. Agar rahasianya tidak terbongkar, sang Raja pun memerintahkan pengawalnya untuk mengubur mayat Sinatung Natak di bawah bangku tempat sang Putri dan Sinatung Natak berbincang.
Sementara itu, di rumah Sinatung Natak, seluruh keluarganya sedang bermusyawarah guna mengambil tindakan terkait dengan kejadian yang menimpa Sinatung Natak. Mereka mengetahui kejadian itu berkat kepandaian dan kesaktian Batara Guru Tuo. Hasil musyawarah itu memutuskan, Batara Guru Tuo bersama keenam saudara Sinatung Natak berangkat menuju Negeri Serik Seri Nato. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh dan melelahkan, akhirnya sampailah mereka di negeri itu. Mereka pun langsung menghadap Baginda Raja Negeri Serik Seri Nato.
“Ampun, Baginda Raja! Maafkan hamba jika kedatangan hamba bersama putra-putra hamba tidak berkenan di hati Baginda!” kata Batara Guru Tuo sambil memberi hormat.
“Hai, siapa kalian ini dan apa maksud kedatangan kalian kemari?” tanya Raja.
“Ampun, Baginda! Hamba adalah ayah Sinatung Natak. Kedatangan hamba kemari ingin mengambil putra hamba yang telah dibunuh oleh calon menantu, Baginda,” jawab Batara Guru Tuo.
Alangkah terkejutnya sang Raja mendengar jawaban itu. Dalam hatinya bertanya-tanya, pasti ada orang yang telah membocorkan rahasia mereka.
“Hei, Pak Tua! Kamu jangan mengada-ada! Bagaimana kamu tahu kalau calon menantukulah yang telah membunuh putramu?” tanya Raja penasaran.
“Ampun, Baginda Raja! Ayah kami adalah orang yang pandai dan sakti. Ia memiliki indra keenam dan mampu mengetahui hal-hal yang ghaib,” sahut putra sulung Batara Guru Tuo.
“Diam kau, anak muda!” bentak sang Raja.
“Ampun beribu ampun, Baginda! Jika Baginda tidak percaya, tanyalah ayah kami. Pasti beliau tau tempat di mana Sinatung Natak dibunuh!” tambah putra kedua Batara Guru Tuo.  
Baginda Raja pun menanyakan hal itu kepada Batara Guru Tuo. Ternyata benar, Batara Guru Tuo mengetahui jika Sinatung Natak dikuburkan di bawah bangku di taman istana. Ia pun meminta izin kepada Baginda Raja untuk membongkar tempat itu.
“Ampun, Baginda! Izinkanlah hamba untuk membongkar tanah di bawah bangku itu!” pinta Batara Guru Tuo.
Baginda Raja semakin tidak bisa mengelak. Ia pun memenuhi permintaan tersebut. Keenam putra Batara Guru Tuo segera menggali tanah itu. Tidak berapa lama, mereka pun menemukan jasad Sinatung Natak yang sudah terbujur kaku. Namun, ada yang aneh pada jasad Sinatung Natak. Meskipun sudah berminggu-minggu di dalam tanah, tubuh dan kulitnya tidak berubah. Maka berkatalah Batara Guru Tuo:
“Rupo idak berubah, panau-panau masih ado,” (wajah belum berubah, panu masih ada).
Melihat kenyataan itu, Baginda Raja bersama beberapa pengawalnya hanya terdiam malu. Akhirnya, mereka mengaku telah berbuat salah dan meminta maaf kepada keluarga Batara Guru Tuo. Untuk menebus kesalahannya, Baginda Raja pun berjanji kepada Batara Guru Tuo.
“Apapun yang kamu minta, akan aku berikan.”
“Ampun, Baginda! Hamba tidak akan menuntut banyak, Baginda!” jawab Batara Guru Tuo.
“Katakanlah! Berapa banyak uang kamu minta?” tanya Baginda Raja.
“Ampun, Baginda! Hamba hanya menginginkan sejumlah uang sesuai dengan jumlah panu yang ada pada tubuh Natak,” jawab Batara Guru Ruo.
“Baiklah, kalau begitu. Permintaanmu aku kabulkan,” kata Baginda Raja.
Setelah dihitung, jumlah panu yang ada di tubuh Sinatung Natak berjumlah delapan puluh buah panu. Satu panu diganti dengan uang satu rial. Namun, pada saat perhitungan panu dilakukan terjadi suatu peristiwa gaib. Setiap panu yang sudah dihitung tiba-tiba hilang satu per satu dari tubuh Natak tanpa meninggalkan bekas sama sekali. Dan, ajaibnya lagi, ketika sampai pada hitungan kedelepan puluh, dengan izin Tuhan Yang Mahakuasa, tiba-tiba Sinatung Natak hidup kembali. Alangkah terkejutnya Baginda Raja menyaksikan peristiwa ajaib itu. Begitu pula Sinatung Natak, ia terkejut saat melihat panu yang memenuhi tubuhnya hilang semua.
* * *
Demikian cerita Sinatung Natak dari daerah Bengkulu, Indonesia. Hingga kini, oleh masyarakat setempat cerita di atas dijadikan sebagai pedoman dalam menetapkan aturan pada kasus pembunuhan. Hutang nyawa tidak harus diganti dengan nyawa, akan tetapi tergantung kepada permintaan keluarga korban pembunuhan.
Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik adalah keutamaan sifat tidak malu mengakui kesalahan. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Raja Serik Seri Nato yang mengakui kesalahannya dan segera meminta maaf kepada keluarga Batara Guru Tuo. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat ini sangatlah diutamakan untuk menghindari terjadinya perseteruan di antara sesama. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
wahai ananda kekasih ibu,
mengaku salah janganlah malu
memaafkan orang jangan menunggu
hati pemurah menjauhkan seteru

KISAH DANAU TES

Danau Tes merupakan danau terbesar di Provinsi Bengkulu, yang terbentang di antara Dusun Kutei Donok dan Tes, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong. Danau yang memiliki panorama indah ini sangat melegenda di kalangan masyarakat Lebong, Bengkulu. Konon, Danau Tes ini dulunya merupakan aliran Sungai Air Ketahun. Namun, karena terjadi suatu peristiwa, aliran itu berubah menjadi danau. Peristiwa apakah sebenarnya yang terjadi hingga menyebabkan aliran Sungai Air Ketahun tersebut berubah menjadi danau? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Danau Tes berikut ini! 
* * *
Alkisah, di Dusun Kutei Donok, Tanah Ranah Sekalawi (atau daerah Lebong sekarang ini), hidup seorang sakti bersama seorang anak laki-lakinya. Oleh masyarakat Kutei Donok, orang sakti itu dipanggil si Lidah Pahit. Ia dipanggil demikian, karena lidahnya memiliki kesaktian luar biasa. Apapun yang dikatakannya selalu menjadi kenyataan. Meski demikian, ia tidak asal mengucapkan sesuatu jika tidak ada alasan yang mendasarinya.
Pada suatu hari, si Lidah Pahit berniat untuk membuka lahan persawahan baru di daerah Baten Kawuk, yang terletak kurang lebih lima kilometer dari dusun tempat tinggalnya. Setelah menyampaikan niatnya kepada para tetangganya dan mendapat izin dari Tuai Adat Kutei Donok, ia pun segera menyiapkan segala peralatan yang akan dipergunakan untuk membuka lahan persawahan baru.
“Anakku, kamu di rumah saja! Ayah hendak pergi ke daerah Baten Kawuk untuk membuka lahan persawahan baru,” ujar si Lidah Pahit kepada anaknya.
“Baik, Ayah!” jawab anaknya.
Setelah berpamitan kepada anaknya, si Lidah Pahit pun berangkat dengan membawa kapak, parang, dan cangkul. Sesampainya di daerah Baten Kawuk, ia pun mulai menggarap sebuah lahan kosong yang terletak tidak jauh dari Sungai Air Ketahun. Si Lidah Pahit memulai pekerjaannya dengan menebangi pohon-pohon besar dengan kapak dan membabat semak belukar dengan parang. Setelah itu, ia pun segera mencangkul lahan kosong itu. Tanah-tanah cangkulannya ia buang ke Sungai Air Ketahun.
Setelah dua hari bekerja, si Lidah Pahit telah membuka lahan persawahan seluas kurang lebih setengah hektar. Bagi masyarakat Kutei Donok waktu itu, termasuk si Lidah Pahit, untuk membuka lahan persawahan seluas satu hektar dapat diselesaikan dalam waktu paling lama satu minggu, karena rata-rata mereka berbadan besar dan berotot. Alangkah senang hati si Lidah Pahit melihat hasil pekerjaannya itu.  
Pada hari ketiga, si Lidah Pahit kembali ke Baten Kawuk untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia bekerja dengan penuh semangat. Ia tidak memikirkan hal-hal lain, kecuali menyelesaikan pekerjaannya agar dapat dengan segera menanam padi di lahan persawahannya yang baru itu.
Namun, tanpa disadari oleh si Lidah Pahit, para ketua adat dan pemuka masyarakat di kampungnya sedang membicarakan dirinya. Mereka membicarakan tentang pekerjaannya  yang selalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun, sehingga menyebabkan aliran air sungai itu tidak lancar. Kekhawatiran masyarakat Kutei Donok yang paling besar adalah jika si Lidah Pahit terus membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun akan menyumbat air sungai dan mengakibatkan air meluap, sehingga desa Kutei Donok akan tenggelam.
Melihat kondisi itu, ketua adat bersama tokoh-tokoh masyarakat Kutei Donok lainnya segera bermusyawarah untuk mencari alasan agar pekerjaan si Lidah Pahit dapat dihentikan. Setelah beberapa jam bermusyawarah, mereka pun menemukan sebuah alasan yang dapat menghentikan pekerjaan si Lidah Pahit. Maka diutuslah beberapa orang untuk menyampaikan alasan itu kepada si Lidah Pahit. Sesampainya di tempat si Lidah Pahit bekerja, mereka pun segera menghampiri si Lidah Pahit yang sedang asyik mencangkul.
“Maaf, Lidah Pahit! Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan berita duka,” kata seorang utusan.
“Berita duka apa yang kalian bawa untukku?” tanya si Lidah Pahit.
“Pulanglah, Lidah Pahit! Anakmu meninggal dunia. Kepalanya pecah terbentur di batu saat ia terjatuh dari atas pohon,” jelas seorang utusan lainnya.
“Ah, saya tidak percaya. Tidak mungkin anakku mati,” jawab si Lidah Pahit dengan penuh keyakinan.
Beberapa kali para utusan tersebut berusaha untuk meyakinkannya, namun si Lidah Pahit tetap saja tidak percaya. Akhirnya, mereka pun kembali ke Dusun Kutei Donok tanpa membawa hasil.
“Maaf, Tuan! Kami tidak berhasil membujuk si Lidah Pahit untuk kembali ke kampung ini,” lapor seorang utusan kepada ketua adat.
“Iya, Tuan! Ia sama sekali tidak percaya dengan laporan kami,” tambah seorang utusan lainnya.
Mendengar keterangan itu, ketua adat segera menunjuk tokoh masyarakat lainnya untuk menyampaikan berita duka itu kepada si Lidah Pahit. Namun, lagi-lagi si Lidah Pahit tidak percaya jika anaknya telah mati. Ia terus saja mencangkul dan membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun.
Melihat keadaan itu, akhirnya ketua adat bersama beberapa pemuka adat lainnya memutuskan untuk menyampaikan langsung alasan itu kepada si Lidah Pahit. Maka berangkatlah mereka untuk menemui si Lidah Pahit di tempat kerjanya.
“Wahai si Lidah Pahit! Percayalah kepada kami! Anakmu benar-benar telah meninggal dunia,” kata ketua adat kepada si Lidah Pahit.
Oleh karena sangat menghormati ketua adat dan pemuka adat lainnya, si Lidah Pahit pun percaya kepada mereka.
“Baiklah! Karena Tuan-Tuan terhormat yang datang menyampaikan berita ini, maka saya sekarang percaya kalau anak saya telah meninggal dunia,” kata si Lidah Pahit dengan suara pelan.
“Kalau begitu, berhentilah bekerja dan kembalilah ke kampung melihat anakmu!” ujar ketua adat.
“Iya, Tuan! Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal beberapa cangkul ini,” jawab si Lidah Pahit.
Mendengar jawaban itu, ketua adat beserta rombongannya berpamitan untuk kembali ke Dusun Kutei Donok. Setelah rombongan itu pergi, si Lidah Pahit baru menyadari akan ucapannya tadi. Dalam hati, ia yakin betul bahwa anaknya yang sebenarnya tidak meninggal kemudian menjadi meninggal akibat ucapannya sendiri. Maka dengan ucapan saktinya itu, anaknya pun benar-benar telah meninggal dunia.
Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Ucapan si Lidah Pahit tersebut tidak dapat ditarik kembali. Dengan perasaan kesal, ia pun melampiaskan kemarahannya pada tanah garapannya. Berkali-kali ia menghentakkan cangkulnya ke tanah, lalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun. Setelah itu, ia pun bergegas kembali ke Dusun Kutei Donok hendak melihat anaknya yang telah meninggal dunia. Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya benar-benar sudah tidak bernyawa lagi.
Konon, tanah-tanah yang dibuang si Lidah Pahit itu membendung aliran Sungai Air Ketahun dan akhirnya membentuk sebuah danau besar yang diberi nama Danau Tes.
* * *

Demikian cerita Asal Mula Danau Tes dari Provinsi Bengkulu. Hingga kini, Danau Tes menjadi sumber mata pencaharian penduduk Kota Donok dan airnya telah dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keburukan sifat mudah percaya pada omongan orang-orang yang berpangkat atau penguasa, karena tidak selamanya ucapan seorang penguasa selalu benar. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku si Lidah Pahit yang mudah percaya dengan laporan ketua adat di kampungnya, sehingga mengakibatkan anak kesayangannya meninggal dunia.